Selasa,10 Maret 2020 atau bertepatan dengan 15 Rajab 1441 H, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tulungagung menggelar acara yang bertajuk “Tulungagung Mengaji dan Istighostah” dalam rangka menyambut malam hari lahir organisasi NU 97 tahun yang lalu. Kegiatan Tulungagung Mengaji, diadakan di 19 tempat dengan pertimbangan 19 jumlah MWC NU di PCNU Kabupaten Tulungagung.

Pemilihan tempat kegiatan, diserahkan kepada ketua Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) dengan kriteria tempat: kantor MWC NU, Pondok Pesantren, Masjid besar Kecamatan, atau Madrasah Diniyah Nahdlatul Ulama. Tujuannya agar hubungan NU secara kultural dan struktural tetap sambung erat.

Acara Tulungagung Mengaji, dimulai setelah Sholat Isya’ bersama dengan pembagian acara menjadi dua, pertama kegiatan yang disusun terdiri dari pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Subhanul Wathan, pembacaan hadlarah dilanjut dengan Khatmil Qur’an bil Ghoib dan bil Nadhar. Sedangkan acara kedua adalah, do’a bersama dan ditutup Tausyiah dengan tema “Kemandirian NU Sebagai Spirit Kebangkitan menuju 1 Abad Nahdlatul Ulama”.

Seluruh acara di Tulungagung Mengaji dan Istighostah, disusun secara kolosal dengan pembagian: pertama, Khataman bil Ghoib yang dilakukan para hafidz dan hafidzoh dengan pembagian dan target waktu 60 menit khatam dan kedua, khataman bil nadlar yang dilaksanakan seluruh hadirin dengan bagian masing-masing satu Juz.

Setelah Khataman terlaksana, langsung disambung dengan pembacaan Istighotsah dan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan keutuhan NKRI dengan durasi 30 menit yang dipimpin oleh Rais Syuriah MWC NU setempat. Jika selama ini, kita lebih akrab bercengkrama dengan handphone, khusus malam hari lahirnya Nahdlatul Ulama, kita nderes Qur’an bersama dan memanjatkan doa bersama dalam bingkai acara Tulungagung Mengaji.

Kegiatan Tulungagung Mengaji disetiap MWC NU, akan dihadiri pengurus harian PCNU beserta lembaga yang ada ditingkat PCNU, dibagi menjadi 19 tim dan wajib hadir dilokasi karena bertanggung jawab sebagai pengarah dan penyampai Tausyiah dari PCNU dengan tema yang “Kemandirian NU sebagai Upaya Menyongsong An Nahdlah Atsaniyah”.

Penyeragaman tema, bertujuan untuk meminimalisir pembahasan yang tidak sesuai dengan brand acara Harlah NU yang sudah dipersiapkan panitia, adapun waktuTaushyiah juga dibatasi 30 menit. Selebihnya, waktu dimaksimalkan untuk jagongan seputar organisasi menindaklanjuti hasil Turba yang dilaksanakan seminggu sebelumnya. Jadi, seluruh rangkaian kegiatan Tulungagung Mengaji yang di desain panitia Harlah NU ke 97 PCNU Tulungagung, maksimal 120 menit waktu efektif dan selebihnya dipersilahkan masih-masing MWC NU setempat.

Dalam teknis pelaksanaannya, panitia dari MWC NU justru masih menambah acara diluar jadwal, baik acara tumpengan atau gendurenan dengan ciri khas ingkung ayam Jawa utuh yang dimasak lodho dan camilan polo pendhem (umbi-umbian) komplit dengan kopi yang menambah gayeng obrolan selesai acara Tulungagung Mengaji. Prinsipnya adalah membangun keakraban dan kesederhanaan.

Melihat antusias dan respon positif dari berbagai pihak, maka tidak menutup kemungkinan, kegiatan Tulungagung Mengaji, menjadi salah satu kegiatan rutin harlah NU, dengan memperluas cakupan dan melibatkan unsur Polsek, Koramil, Camat, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya, dengan ketentuan tempat, tetap di pondok pesantren, atau Madrasah Diniyah.

Sebagaimana diterangkan Mohammad Fatah Masrun, selaku ketua panitia Harlah NU 97 PCNU Tulungagung, yang memberikan keterangan bahwa acara dalam kegiatan Tulungagung Mengaji, terdiri dari: Pembukaan, Menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Subhanul Wathan, doa Iftitah dan Hadlarah, Khataman al Qur’an dan Istighotsah beserta pembacaan Shalawat Tibbil Qulub dan doa Khataman, Tausyiah Harlah NU ke 97 oleh perwakilan PCNU Tulungagung yang hadir disetiap lokasi bersama lembaga yang ditunjuk, dan penutup acara adalah Mushofahah atau bersalaman dengan seluruh hadirin.

(Total dibaca 26 kali, 1 dibaca hari ini)