Setiap kejadian heboh debat masalah ormas dan kelompoknya, saya selalu menelusuri kapan kejadian tersebut terjadi? Misalnya, kejadian ceramah UAS tentang catur, itu ceramah tahun yang lalu, tapi viralnya malah baru-baru saja. Ceramah Gus Muwafiq yang sekarang viral, ternyata, itu video 6 November 2019, satu bulan yang lalu. Pertanyaan selanjutnya, kenapa viralnya baru sekarang?


Hari ini, ada pekerjaan bisnis online yang disebut Buzzer. Mereka, dapat penghasilan dari membuat keributan di jagat medsos. Tujuannya adalah, traffik internet melonjak drastis. Maka, seorang Buzzer butuh bahan untuk dijadikan olahan dan gorengan.


Bahan yang paling empuk untuk dijadikan tema adalah isu agama, maka dibidiklah para mubaligh atau Kiai, baik dari ormas manapun dan firqoh manapun. Mereka dengan khusuk meneliti dan mengkaji video para mubaligh dan Kiai yang ada di media sosial.


Selanjutnya, mereka ambil potongan video atau perkataan yang bisa dijadikan bahan gorengan, dan setelah proses editing selesai, dilemparlah isu tersebut ke media sosial. Jika kita berpatokan hanya pada vidio yang terpotong, maka dijamin akan terjadi adu argumen dan inilah yang diharapkan para Buzzer.


Kenapa yang dijadikan bahan gorengan para Buzzer adalah para mubaligh, Kiai dan Ulama? Kenapa bukan politikus? Jawabnya simple, kalau politikus yang dijadikan bahan gorengan, konflik keributannya hanya bersifat sebentar, respon tanggapannya juga sedikit, ditambah, belakangan ini, kebanyakan masyarakat. malas dengan urusan pembahasan politik.


Sebaliknya, bila isu agama dengan konsentrasi pada Mubaligh, dan Kiai yang dijadikan bahan olahan dan gorengan, konflik keributan yang tercipta bisa bombastis, apalagi kalau Kiainya adalah Kiai sepuh, bisa tambah ramai pembahasannya.


Selain itu, para Buzzer juga paham jika para Kiai dan Mubaligh, pasti punya santri dan Muhibbin, karena inilah, para Buzzer lebih membidik Kiai, Mubaligh dan Ulama dari berbagai kelompok, dan berlatar belakang ormas apa pun.


Lantas para Buzzer ini bekerja untuk siapa? Bisa untuk pemerintah, bisa juga untuk swasta. Jika masyarakat kita sibuk adu argumen dan saling berhadap-hadapan dalam nuansa debat kusir, maka bisa dipastikan tidak akan ada kelompok atau golongan yang kritis pada kebijakan pemerintah dan keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Makanya, Mikir!. Biar gak seperti pentol korek, yang setiap digesek, langsung nyala.