Oleh: Nuruddin PCNU Tulungagung

Pembahasan yang sering digulirkan oleh semua kalangan akhir ini adalah tentang virus Corona. Ada yang sok jagoan tanpa takut dan tak mengindahkan himbauan, ada pula yang moderat dan tetap waspada, ada pula yang sangat paranoid sehingga over protektif sampai pergi belanja ke pasar dengan pakaian astronot.

Saya mengutip apa yang dijelaskan dr. Indro Cahyono, Virolog yang memiliki pengalaman berinteraksi dengan berbagai virus dan vaksin kurang lebih 15 tahun, serta mengepalai berbagai penelitian berkaitan dengan virus. Pak Dhe Indro panggilan akrab dr. Indro Cahyono, yang mirip dengan panggilan Indro Warkop. Beliau menjelaskan bahwa virus Corona sudah ada sejak 200 tahun SM. Walaupun bentuk dan namanya bukan COVID 19. Karena COVID 19 adalah jenis baru turunan dari Corona.

Pertanyaan selanjutnya, apakah manusia bisa membuat virus? Jawabnya tidak, manusia hanya bisa memodifikasi. Misalnya begini, ada si A dan si B, keduanya orang Indonesia, tiba-tiba si A dan si B bertemu dengan tampilan baru, si A berambut pirang dan si B berambut Pink. Sejatinya virus juga demikian, manusia hanya bisa melakukan modifikasi saja, dan tidak mampu menciptakan makhluk yang bernama virus. Terkait virus, ada yang tidak banyak diketahui masyarakat, tatkala virus sudah dilepas, tak akan ada teknologi yang mampu menghentikannya.

Bagaimana dengan virus COVID 19? Masih menurut dr. Indro, virus COVID 19 memiliki ciri khas penyebaran yang cepat, tapi juga tidak seganas Asma. Virus Corona cukup heboh, karena paranoid masyarakat terlalu berlebihan. Sebenarnya orang yang terkena virus COVID 19, jika imunitas tubuhnya baik dan dia sehat, maka dengan sendirinya sistem imunitas tubuh manusia, akan mampu melawan virus tersebut.

COVID 19 sejatinya adalah virus yang mati ketika kita memiliki kebiasaan hidup sehat, berganti pakaian dan mencucinya selepas dipakai seharian, cuci tangan dengan sabun, memakai hand sanitaizer, bahkan virus COVID 19 terbasuh dengan air bersih pun, juga mati. Masalahnya, ketidak pahaman masyarakat, diperparah oleh informasi media sosial yang sejak awal memberitakan korban Corona, tanpa membandingkan berapa yang sembuh dan sehat kembali.

Andaikan seluruh dunia terkena virus COVID 19, masih menurut dr. Indro, secara alami, maka akan ada 57 % yang sembuh. Secara Virologist, jenis virus Corona terbagi menjadi 4, Alpha, Bheta, Sigma, dan Teta. Semuanya punya ciri dan sasaran serang, misalnya Alpha, hanya akan menyerang manusia, Bheta, hanya akan menyerang kelelawar walaupun kelelawar akan kebal dari virus ini, Sigma, hanya akan menyerang anjing babi, tikus dan Teta, hanya akan menyerang ikan hiu dan paus. Semuanya punya manfaat dan kelebihan masing-masing dan memang itu yang menjadi keseimbangan alam.

Lantas, mengapa perlu karantina bertahap? Jika orang dirumahkan, minimal dia akan istirahat, melaksanakan penjagaan kebersihan, melakukan kegiatan positif dan justru ada niatan untuk tidak menularkan virus kepada orang lain. Karena saat terkena virus, secara kodrati, imun tubuh akan melawan secara sistemik, misal hidung yang bersin, itu adalah tanda perlawanan imun kita. Jika 7 hari imun kita kuat, maka akan ada kesembuhan, kalau masih belum sembuh, minggu kedua, imun akan semakin kuat dan melawan virus sampai menang dan sembuh dalam hitungan minggu ketiga. Maka, bagi yang terkena virus, jangan bangga dengan menyebarkan virus anda, yakinlah bahwa yang bisa mengobati adalah anda dan Allah SWT, usahakan setiap hari mengkonsumsi vitin C dan E, jangan malas untuk berjemur disinar matahari pagi.

Jangan panik dengan istilah lockdown yang didengungkan negara Itali, Jerman, dan lainnya, yang harus dipahami, setiap negara, memiliki budaya dan tradisi yang berbeda dalam menyikapi kesehatan. Misalnya Australia, anak sayatahun 2015 pernah terkena flu biasa saat di sekolah, langsung diisolasi dan dipulangkan, besoknya libur 7 hari. Lha kita? Indonesia tidak begitu ketat dalam hal kayak begitu, faktornya, kita punya matahari pagi yang setiap hari bersinar dan memiliki vitamin yang dibutuhkan tubuh manusia. Di negara lain, belum tentu setiap hari bisa ketemu matahari pagi. Makanya kalau turis datang ke Bali, Lombok, Jogja, dll, mereka seneng menikmati matahari terbit dan terbenam, selain mereka memang butuh vitamin dari sinar matahari untuk kulit mereka.

Kalau memang COVID 19 ini tidak berbahaya, kenapa banyak yang mati? Kematian pada kasus nomer 26 di Indonesia, terjadi setelah pasien benerapa hari dirawat, lihat rekam medic pasien tersebut, ternyata pasien itu punya asma akut, usianya juga sudah lanjut usia, ditambah kepanikan dan serangan COVID 19, lengkap sudah deritanya, tapi yang disalahkan Corona, padahal asma lebih berbahaya ketimbang Corona.

Jadi, paranoid berlebihan, secara tidak langsung mengkontruksi pikiran kita sehingga membentuk paradigma bahwa Corona adalah sesuatu yang amat sangat berbahaya. Dan yang penting lagi, yang harusnya pakai masker, adalah yang dikategorisasikan ODP (orang dalam pengawasan), atau PDP (pasien dalam pengawasan). Tujuannya agar tidak terjadi penyebaran tanpa kontrol.

Masyarakat harus dipahamkan bahwa Corona sudah menyebar, maka menjaga diri sendiri dengan pola hidup sehat, cuci tangan setiap kegiatan, makan makanan bergizi, vitamin C dan E sebagai tambahan stamina dan imunitas tubuh. Memang betul bahwa virus COVID 19 ini makhluq Allah dan ciptaanNya. Ikhtiar kita sebagai hamba Allah adalah wajib, dan kalau sudah Ikhtiyar, kita Tawakal bahwa segalanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Selain COVID 19, masih banyak kok yang menjadi sebab kematian warga kita, misalnya, 300 ibu hamil, meninggal selesai melahirkan setiap harinya, 170 Nyawa melayang setiap hari karena lakalantas, 200 nyawa melayang setiap hari akibat DBD, belum lagi HIV, Narkoba, Kanker dll. Kita santai aja kok setiap hari tahu data tersebut. Tapi tatkala Corona yang masuk kepikiran kita, semua kepanikan terjadi.

Disisi lain, kita bisa mengambil hikmah bahwa tatkala ada Corona atau COVID 19, yang bukan ahli dibidang virus dan bukan ahli medis, ya jangan berubah profesi menjadi orang yang menerangkan COVID 19 begini, begitu tanpa dasar dan sok tahu. Jika kita mau menarik kesimpulan, adanya COVID 19 ini, menunjukkan bahwa “Robbana Ma Kholaqta Hadza Bathila” Wahai Tuhan Kami Allah SWT, Ternyata, segala sesuatu yang Engkau ciptakan, tidak ada yang sia-sia”.

Menariknya paparan dr. Indro Cahyono adalah, paparan tersebut disampaikan oleh ahli virus, yang aktif meneliti virus, pernah terkena Corona dan sembuh. Bahkan orang yang pernah terkena Corona dan sembuh, sistem tubuh akan merekam data itu dan akan menyerang balik virus yang datang, dan dapat dipastikan bahwa yang pernah kena, tidak akan terkena lagi.

Untuk lebih detailnya bagaimana virus Corona atau COVID 19 menurut dr. Indro Cahyono, silahkan simak link yang saya bagikan berikut: https://youtu.be/rsSTk25PYC0

(Total dibaca 221 kali, 1 dibaca hari ini)