K.H. Saifuddin Zuhri menteri agama Indonesia ke 9 (sembilan) (menteri agama sebelumnya Prof. Dr. H Rasyidi, K.H. A Wahid Hasyim, K.H Fathurahman Kafrawi, K.H Masykur, K.H. Faqih Usman, K.H Anwaruddin, K.H. M. Ilyas, K.H Wahib Wahab,  yang  ke enam orang diantaranya adalah putra Jawa Timur mereka adalah: K.H. A Wahid Hasyim, K.H Fathurahman Kafrawi, K.H Masykur, K.H. Faqih Usman, K.H. M. Ilyas, K.H Wahib Wahab) dalam sebuah paragraf di buku “ Berangkat dari Pesantren” menuliskan kalimat” Aku menyadari bahwa aku tidak akan lama menduduki Menteri Agama, dengan demikian aku harus mempersiapkan mentalku untuk tidak dihinggapi penyakit “ mumpungisme” dan ternyata masa jabatanku 5 tahun( 2 Maret 1962-18 Oktober 1967)”. Sebuah kalimat sederhana yang penuh visi dan misi untuk bahkan terukur untuk seorang menteri yang pada awalnya tidak menerima jabatan Menteri Agama yang dianugrahkan pada dirinya.

Betapa tidak, dalam waktu lima tahun tersebut, satu sisi dalam pembentukan dan penataan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) dengan anggaran kementrian sebesar Rp. 600 juta pada tahun 1962 dan terus naik sampai pada akhirnya tahun 1965 menjadi 2 Milyar Rupiah, belia mampu menginisiasi lahirnya 9 Universitas Islam Negeri (  IAIN  Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Sunan Ampel Surabaya, IAIN Ar- Raniry Banda Aceh, IAIN Alaudin Ujung Pandang, IAIN Pangeran Antasari Banjarmasin, IAIN, Imam Bonjol Padang, IAIN Raden Patah Palembang, IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi) yang awal pemberian namanya hanya menyebut daerah saja misalnya IAIN Yogyakarta tanpa nam lain dibelakng IAIN, dan atas prakarsa K.H Saifuddin Zuhri, ditambahkanlah nama tokoh yang menjadi teladan dilokal wilayah IAIN berada dan telah menjadi kesepakatan masyarakat. Sehingga keberadaan IAIN bisa mengangkat local wisdom dan ada sense of belonging dari masyarakat. 

Menurut K.H Saifuddin Zuhri keterbatasan dana dari APBN bukanlah kendala mewujudkan IAIN di berbagai kota Provinsi di Indonesia, karena di dalam keterbatasan tersebut beliau menemukan kekuatan kemandirian masyarakat yang luar biasa. Masyarakat di sebuah provinsi yang menginginkan berdirinya IAIN harus membentuk kepanitiaan dan rencana lokasi yang sudah siap untuk ditempati IAIN, sehingga masyarakat dengan segala kemandiriannya menyiapkan perangkat kasar dalam pendirian IAIN tersebut dengan tetap mengedepankan Ukhuwah Islamiyyah karena pengisian dosen dan tenaga kepegawaian saat itu di isi berdasar pembagian merata personal yang ada di Ormas baik NU, Muhammadiah, PSII sebagaimana kutipan dari tulisan beliau” Bukan saja di bidang Pendidikan, IAIN menduduki fungsi strategis dibidang Ukhuwah Islamiyah. Cukup lama sudah penggalangan persatuan dalam masyarakat Islam cuman menjadi semboyan dan slogan-slogan, susah sekali untuk dipraktikkan, sesekali ada upaya pendekatan menyatukan mereka, itu pun hanya sekedar keresmian formalitas. Dengan adanya IAIN mau tidak mau kelompok yang ada di masyarakat Islam saling berjumpa, saling memberi iuran dan terpanggiluntuk memiliki IAIN. Para Ulama’ Nu, Muhammadiyah, PSII Perti dan lain-lain duduk satu deretan menjadi dosen IAIN. Para cendekiawan mereka berdiri satu barisan menjadi staf pengajar. Para pemuda mereka duduk dalam satu shaf menjadi mahasiswa IAIN”.

Sungguh sebuah harapan luhur yang tidak hanya di anggankan oleh K.H Saifuddin Zuhri, tapi juga direalisasikan ditengah menjalani aktifitas menjadi Aktifis NU, Menteri Agama, dan Kepala Keluarga denga 11 Putera( Pak Lukman Hakim adalah anak ke 11(sebelas) yang lahir pada 25 November 1962). Kaliamat indah beliau dalam menata keseimbangan peran “ Selama pengabdianku sebagai menteri agama, aku senantiasa mengatur keseimbangan tugas negara, tugas NU dan memimpin keluarga”. Semoga kita bisa meneladani kebesaran hati, dan keseimbangan pembagian peran beliau dalm berkhidmah untuk NU dan menjalani peran sebagai pemimpin keluarga, bahkan kemantapan dan kematangan beliau memanage, mengukur, dan mewujudkan sebuah rencana, sebagaimana perlu diketahui pada saat bulan Oktober 1964 beliau mendapat ucapan selamat ulang tahun ke 45( Empat Puluh lima) dari Prof. Mr. Sunaryo, Prof. K.H Hasbi Assidiqy, Prof. Mukhtar Yahya (delegasi IAIN Yogyakarta) yang diantar H. Timur Djailani, M.A Kepala Biro Perguruan Tinggi Departemen Agama yang sekaligus menyampaikan keputusan senat mahaguru IAIN Sunan Kalijaga yang hendak mewisuda beliau K.H. Saifuddin Zuhri menjadi guru besar luar biasa bidang dakwah pada IAIN yang tertua itu.