Wisanggeni konon adalah pemuda dengan perawakan kecil, tapi bisa mengalahkan kesaktiannya Bathara Guru. Sejak kecil, wisanggeni ditempa dengan berbagai laku prihatin, yg kemudian justru menyebabkannya mendapatkan berbagai kelebihan

Dia pernah dimasukkan dalam Kawah Candradimuka oleh para dewa, dengan harapan supaya binasa, namun justru malah menambah kesempurnaan ilmunya.

Dia putra Arjuna dengan Dewi Dersanala (Putri Brahma) Karena dia dianggap kelak jika dewasa akan menjadi molo bagi para dewa. Kekhawatiran itu timbul karena ibunya Wisanggeni dipaksa kawin oleh Bathari Durga dengan Anaknya.

Wisanggeni digambarkan sebagai seorang Ksatria yang memiliki kesaktian tiada tara. Dia bisa berubah wujud menjadi api yang menyala-nyala, bisa terbang seperti Gatotkaca, bisa ambles kebumi seperti Antareja, dan bisa hidup di air seperti Antasena. 

Dia selalu dilindungi oleh Sanghyang Wenang sehingga para dewa tidak ada yang mampu mengalahkannya. Melihat kesaktian inilah Wisanggeni dianggap pribadi yang menyalahi kodrat.

Kelahiran Wisanggeni tidak dikehendaki oleh  para dewa karena ketidakwajaran yang ada pada diriya, sehingga Batara Guru memerintahkan Batara Brahma untuk membunuh cucunya sendiri. Namun sudah ditakdirkan bahwa Wisanggeni tidak bisa dibunuh, bahkan ia ‘bertiwikrama’ menjadi Api dan memporak-porandakan kahyangan. 

Wisanggeni tidak pernah menyerah untuk melawan ke-tidak adil-an walaupun harus berhadapan dengan kakeknya sendiri, bahkan harus berhadapan dengan Sang Hyang Jagad Giri Nata sekalipun akan ia lakukan.

Wisanggeni berasal dari kata Wisa yang artinya Berbisa dan Geni yang artinya Api. Tak peduli siapapun pasti dibakarnya, musuh atau saudara, teman atau tetangga, bila menyimpang dari kebenaran akan dilawannya, kriterianya hanya satu, membela kebenaran, dan kebatilan adalah musuhnya.

Wisanggeni itu ‘Mungkak Kromo’ tidak bisa menggunakan bahasa halus dan sopan ketika bicara dengan siapapun, sama seperti Bima, dia selalu bicara terbuka, blak-blakan, apa adanya dan jarang berbasa-basi.

Dalam kisah pewayangan, Wisanggeni adalah anak Arjuna dari Dewi Dresanala. Wisanggeni lahir dan besar seketika di tengah api kawah Candradimuka dan langsung diasuh oleh banyak orang sakti. Wisanggeni tumbuh dibesarkan oleh dua Guru sakti yaitu Batara Baruna (Dewa Penguasa Lautan) dan Sang Hyang Antaboga (Rajanya Ular yang tinggal di dasar bumi), itulah sebabnya Wisanggeni punya kemampuan yang luar biasa. 

Di jagat pewayangan seperti yang kusebutkan tadi, Wisanggeni bisa terbang seperti Gatotkaca dan masuk ke bumi seperti Antareja dan hidup di laut seperti Antasena.

Wisanggeni adalah Wong Edan dalam arti bukan gila yang sebenarnya. 

Wong Edan yang selalu menempatkan kebenaran di atas segalanya. 

Wong Edan yang sering tidak peduli situasi dan siapa yang dihadapi. 

Wong Edan yang sama sekali tidak mengenal rasa takut. 

Dan ke-Edan-an Wisanggeni ini bahkan telah menyebabkan ketakutan para dewa akan tuah yang dibawanya.

Setelah Wisanggeni lahir maka Wisanggeni lah yang sering menggebuk para dewa jika mereka melakukan kesalahan dan ketidakadilan pada umat manusia, termasuk para Pendawa. 

Saking saktinya, bahkan Raja Dewa yaitu Sang Mahadewa Syiwa atau Batara Guru saja kalah oleh Wisanggeni. 

Dalam peristiwa kelahiran Wisanggeni diceritakan, Batara Guru sampai lari ke dunia karena di kahyangan semua dewa di buat babak belur oleh Wisanggeni yang menggugat, menuntut kebenaran.