Ditengah hiruk pikuk Pilkada Jakarta, tiba-tiba muncul pelarangan pemutara wayang kulit dengan dalih tidak sesuai syari’at Islam. Jika kita telaah kalimat yang tertulis di spanduk dan di viralkan via medsos, ada yang aneh dengan menggunakan kata “pemutara wayang”, padahal wayang itu digelar bukan diputar. Bayangkan saja jika wayang diputar? Trus berapa derajat putarnya? Lagian pelarangan ini kenapa baru sekarang? Kemarin pada kemana yang nglarang ini? Atau yang nglarang ini gak ngerti wayang dan belum pernah lihat pagelaran wayang?. Mari kita bedah pewayangan dari sisi yang ada di panggung saat pagelaran di gelar.

Kelir
Dalam konsep ringgit wayang purwo, biasanya salah satu perangkat pagelarannya adalah adanya “Kelir”. Biasanya, bila pertunjuakan wayang purwo diadakan di shohibul rumah joglo, maka kelir di pasang pada bagian “pringgitan”. Bagian ini merupakan bagian peralihan dari pada ranah publik, “pendopo” dengan “ranah privat”, “ndalem” atau “nggandok”. Oleh karena, penonton wayang kulit yang tergolong keluarga, pada umumnya nonton di bagian dalam “ndalem” yang sering dianggep nonton “mburi kelir. Nonton di belakang kelir ini memang benar-benar  “wewayangan”, atau yang berarti bayang-bayang.
Pertanyaannya:
Jika anda nonton pagelaran Wayang Purwo, anda nonton dari belakang dalang, atau belakang kelir???

Jika didepan kelir, maka anda patut dicurigai. Jangan-jangan anda sebenarnya lagi ndedepi sinden!? Bagi penonton publik, mereka menonton didepan kelir, sehingga selain dapat melihat keindahan dari pada peraga wayang itu sendiri, oleh karena tatah dan sunggingnya, berikut simpingannya, juga dapat menyaksikan deretan pesinden atau waranggana manakala ada. Sayang, menyaksikan dari sisi ini selain tak dapat menyaksikan pengaruh blencong, dimana wayang seolah-olah menjadi hidup, juga terkadang terhalang oleh gamelan, terutama “gayor” untuk “kempul dan gong”.

Debog
Debog adalah batang pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang (simpingan). Di simping artinya dijajar. Baik yang dimainkan maupun yang yang dipamerkan (display), digunakan ‘debog’.

Sudah barang tentu untuk „menancapkan‟ wayang yang di-display juga ada aturan-aturan tertentu. Mana wayang yang harus ada disebelah kanan ki dalang, mana pula yang harus berada disebelah kirinya.

Tugas ‘menyimping’ ini sesungguhnya tidak terbatas hanya memasang wayang yang harus di-display, akan tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan dalang. 

Blencong
Blencong adalah lampu minyak (minyak kelapa – lenga klentik) yang khusus digunakan dalam pertunjukan wayang kulit. Design-nya juga khusus, dengan cucuk (paruh) dimana diujungnya akan menyala api sepanjang malam. Oleh karenanya seorang penyimping harus mewaspadai pula keadaan sumbu blencong tersebut manakala meredup, atau bahkan mati sama sekali. Tak boleh pula api itu berkobar terlampau besar. Karena akan “mobat-mabit”.

Karena lampu penerangan untuk dalang pada masa sekarang sudah menggunakan listrik, sesungguhnya ada fungsi dasar yang hilang atau dihilangkan dari penggunaan “blencong” tersebut. Oleh karena blencong adalah lampu minyak, maka apinya akan bergoyang manakala ada gerakan-gerakan wayang, lebih-lebih waktu perang, yang digerakkan oleh ki dalang. Ada kesan bahwa ayunan api (kumlebeting agni) dari blencong itu seolah-olah memberikan nafas dan atau menghidupkan wayang

Kotak [صندوق العمل]
Kotak wayang berukuran 1,5 meter kali 2,5 meter ini akan merupakan peralatan dalang selain sebagaimana sudah diutarakan merupakan tempat menyimpan wayang, juga sebagai ‘keprak’, sekaligus tempat menggantungkan ‘kepyak’. Dari kotak tempat menyimpan wayang ini juga akan dikeluarkan wayang, baik yang akan ditampilkan maupun yang akan di-simping.

 منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى 

Biasanya pada pagelaran wayang, dalang memulai pagelarannya dengan mengetukkan “cempolo” ke kotak wayang, lalu dilanjutkan dengan menjejak keprak satu kali, disambung dengan bunyi “bonang tanggung” yang berbunyi “nung” dengan sedikit agak dipegang sehingga gaungnya seolah hilang.

Bila diperhatikan dengan seksama, seolah bunyinya adalah “kun fayakun”, lalu disusul dengan bunyi-bunyian siter, saron, demung, yang kompak membunyikan suara heneng henung dan hening lagi merdu. Ditambah dengan suara sinden yang seolah padu dengan suara seruling dan siter.

Kemudian, sang dalang mulai bersuara dengan menyebut “huuuuuuuuuuu”[هو] yang panjang. Sang dalang tidak mengawali pagelaran dengan kata awal selain itu. Sampai kemudian memindahkan gunungan dua yg ditaruh ditengah-tengah kelir sambil mengucapkan “Suluk Pathet:

“Hanjrah ingkang puspita rum
Kasiliring samirana mrik”
“Sekar gadhung kongas gandanya”.

“Maweh raras renaning driya” Suluk pathet ini kadang diganti menyesuaikan lakon yg dibawakan.

Sekilas pemaparan tentag perangkat paraga saat wayang digelar( bukan diputar). Jika dahulu,Kanjeng Sunan Kali Jaga menggunakan wayang sebagai dakwah untuk meng “Islamkan” orang, kenapa sekarang engkau jadikan Wayang sebagai klem mengeluarkan orang dari Islam(*mengkafirkan)?.Sampean Waras?.:mrgreen::mrgreen: