Beberapa hari ini viral Status yang ditulis ole Afi Nihaya Faradisa menyikapi fenomena yang terjadi di Indonesia hari ini dengan perspektif subyektif. Terang saja apa yang ia tulis sangat tergantung dengan baground, pengalaman, pengetahuan, dan kondisi jiwa Afi saat itu dalam menilai dan mengomentari sebuah fenomena. Secara pribadi, tulisan Afi memang sindiran halus, tapi juga sebuah bentuk statemen menyalahkan pada keadaan yang semuanya adalah “Warisan” tanpa ada campur tangan pihak lain termasuk diri sendiri. Oleh karenanya kami juga menampilkan Status jawaban dari status Afi yang ditulis oleh Kang Abdi Kurnia Djohan dengan menampilkan sosok bijak, bukan sosok yang menakuti, pesimis, atau apatis. 

Tampilnya dua status ini bukan sebagai wujud latah viralisasi, tapi lebih kepada membangun kritisisme berfikir dan  kreatif, karena hari ini era digital, menuntut kita untuk peka, mampu menguasai dan mengisi dunia ketiga yang disebut “dunia maya” dengan konten positif, kreatif, membangun. Bukan dalam rangka demarkasi atau segragasi, tapi lebih kepada penekanan ideologi berbangsa dan bernegara sesuai Pancasila dan UUD 1945. 

Jika pada gambar di atas saya tampilkan Kim Jhon Ung Presiden Korea dengan busana ala Da’i yang mau ngisi pengajian, apakah ini kebetulan? Tentu bukan saudara.

Mari kita biasakan untuk membalas tulisan dengan tulisan, sehingga frame potition berfifir mendapatkan ruang menjadi orang yang mampu membaca keadaan. Berikut secafa urut saya tampilkan dua status tersebut.

WARISAN

(Ditulis oleh Afi Nihaya Faradisa)

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan.

Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita.

Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar.

Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka.

Ternyata, teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya.

Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata.

Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu.

Jalaluddin Rumi mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu,

memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya.

Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja “iman”. Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan.

Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.

Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, “Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya”.

Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?

Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.

Tapi tidak, kan?

Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan?

Tidak!

Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.

Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana.

Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.

Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain.

Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial.

Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan.

Kita tidak harus berpikiran sama, tapi marilah kita sama-sama berpikir.

Jawaban Status di atas adalah sebagai berikut:

ORANG BIJAKSANA

(By Abdi Kurnia Djohan)

Anakku, 

Lahir bukanlah proses kebetulan. Kalaupun dihubungkan dengan tempat, itu adalah qadarullah/takdir yang jelas bukan sebuah kebetulan. Menjadi orang Indonesia bukanlah sebuah kebetulan. Meskipun secara fisik, tubuh seseorang adalah keturunan Indonesia. Tapi, tidak sedikit yang jiwanya bukan Indonesia. Apakah ini juga sebuah kebetulan?

Beragama juga bukan sebuah kebetulan. Seorang yang lahir dalam keadaan menganut agama tertentu, pada awalnya adalah kebetulan. Ia mengikuti agama kedua orang tuanya yang melahirkan dan membesarkannya. Namun, dalam proses selanjutnya, seseorang pasti akan berpikir tentang keyakinan agamanya. Ia menilai apakah agama yang dibawanya sejak lahir itu cocok dengan jiwa yang menerima dan menjalankan agamanya. Karena itu kita lihat orang berganti agama ketika dia merasa menemukan apa yang dicari selama hidupnya.

Sementara itu, ada juga orang yang kemudian menemukan penguatan atas agama yang dibawanya sejak lahir. Pendidikan agama yang secara intensif dia dapatkan, memberinya keyakinan bahwa agama yang disandangnya sejak lahir adalah agama yang tepat dan sesuai dengan jiwanya. 

Tapi nak, jangan kamu lupa bahwa ada juga orang yang tidak peduli dengan agamanya dan apa itu agama. Bagi orang seperti ini, agama adalah asesoris yang pantas digunakan untuk perhelatan seperti lebaran, nikahan atau sunatan. Mereka menganggap agama tidaklah memberi makna apapun bagi kehidupan mereka. Dalam pandangan mereka, tanpa agama pun mereka bisa makan, tidur dan mendapat penghidupan yang layak. Lalu kenapa dianggap penting? 

Anakku apakah itu juga terjadi karena kebetulan? 

Anakku, kamu menyebut faktor genealogis, agama dan bahasa sebagai kebetulan, padahal dunia ini tercipta melalui sebuah proses bukan semata-semata kebetulan. Tentu, kamu pernah belajar ilmu alam tentang bagaimana terciptanya alam semesta. Bukankah Big Bang Theory menjelaskan sebuah proses dan bukan menjelaskan sebuah kebetulan?

Anakku, kamu juga menyinggung persoalan warisan dan menganggap orang selalu ribut karena warisan. Lalu kamu hubungkan warisan itu dengan semua yang kamu anggap kebetulan, padahal dunia ini adalah proses. Ayah memahami apa yang kamu pikirkan nak. Tapi, tolong sekali lagi anakku yang bijak. Pahami semua itu dalam kerangka proses. 

Keributan yang terjadi karena warisan bukan kemudian menganggap semua yang ada sebagai kebetulan. Keributan itu terjadi karena ketidakpahaman terhadap apa yang semestinya dilakukan. Ketidakpahaman itu bukan soal pikiran yang kamu gambarkan seperti parasut. Tapi, disebabkan oleh hilangnya kepekaan.