Konsep keadilan secara ideal adalah “mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya (وضع شيئ في موضعه)”. Sehingga tidsk ada hak yang terampas  dari orang lain sedikit pun. Bahkan orang yang mampu menjalankan konsep adil dengan benar, akan mampu menghargai dan memiliki moral yang tinggi. Misalnya ada seseorang yang punya alat potong bermacam-macam diantaranya ada gunting, silet, pisau , golok , gergaji, sabit, mesin pemotong rumput, kapak dll. Bagi orang yang adil, dia akan menggunakan alat-alat ini sesuai fungsi dan kebutuhannya, semisal butuh untuk cukur kumis, golok ya nggak usah maju, biar silet saja. Bisa fatal akibatnya kalau golok yang maju. Kalau cuman belah kelapa, gergaji ya nggak cocok, itu tugasnya golok. Nanti waktunya cukur rambut ya gunting yang maju, kapak nggak bisa. Masing-masing punya tugas sendiri dan peran yang berbeda dan saling membantu. 

Begitu juga dalam urusan agama kita. Ada ulama yang galak, ya monggo, wong itu perwatakan?. Tapi jangan semuanya begitu. Ulama yang santun, kalem juga ada dan selalu butuh karakter model ini. Semuanya saling mengisi dan memainkan peran masing-masing. Saling membantu dan saling melengkapi tanpa ada saling membenci satu sama lain.

Musuh Islam sekarang ini sudah beragam dan bermacam-macam. Dari mulai kemiskinan, kebodohan, kemaksiatan yang merajalela, ketertinggalan, merosotnya peradaban. Maka kita butuh motor-motor penggerak yang punya fungsi beragam. 

Karenanya, kita butuh ulama yang santun, kalem, butuh juga ulama yang tegas. Kita juga butuh ulama yang mampu mengajar. Butuh juga kita kepada ulama yang kuat ekonomi dan Teknologi.

Toh dulu, Nabi juga dikelilingi oleh sahabat-sahabat punya karakter khas. Beliau punya Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq, orang tua yang bijaksana. Beliau juga punya Sayyidina Umar  bin Khottob yang tegas. Beliau punya Sayyidina Utsman bin Affan yang kuat ekonominya, beliau juga punya Sayyidina Ali bin Abi Tholib, anak muda yang setia, cerdas lagi berani, Zaid bin Tsabit yang setia dalam hal pencatatan dll. Yang kesemuanya mampu berperan dan mau ditata sebagaimana mestinya.

Jika kita berargumen sulitnya bersatu karena perbedaan latar belakang dan karakter, bukankah semua manusia memang brrbeda dari sisi pemikiran, gaya bahasa, maupun perbuatan. Lha….Perbedaan ini yang ada harus kita hormati. Sebagaimana kita selalu mengumandangkan bahwa kita adalah orang yang menghormati perbedaan dan sangat toleran. Jangan nantinya toleransi yang selalu dikampanyekan itu hanya jadi slogan, tapi faktanya tetap saja kita memaksakan orang lain harus sama dengan kita. Kemajemukan bukan masalah, tapi justru menjadi Khasanah untuk merajut bingkai ukhuwah dalam kehidupan. Sehingga harapan dari kalimat” perbedaan adalah rahmat”.