Kutipan kalimat bahasa arab di atas maksudnya adalah kabarkanlah kegembiraan kepada para pelaku dosa, dan berikan rasa jera melakukan dosa bagi orang-orang yang bertaqwa. Maksudnya adalah terhadap pelaku dosa, yakinkanlah bahwa sebesar apa pun dosa mereka, Jika bertaubat dan tidak mengulangi lagi, maka ampunan Allah swt sangat luas. Sehingga pelaku dosa tersebut memiliki motivasi untuk berubah menuju yang lebih baik.

Sedangkang maksud dari Wa Mundziril Muttaqin adalah memberikan rasa jera bagi orang-orang yang bertaqwa terhadap bergesernya ketaqwaan menjadi berkurang dan luntur. Karena sebaik-baik manusia, ya tetap manusia, tempatnya salah dan lupa. Kadang seseorang mampu melewati ujian ketika diuji dengan cacian ,tapi justru hancur saat diuji dengan sanjungan.

Para pelaku dosa, jika salah dan meminta maaf ya di maafkan, bukan ditakut-takuti atau di bully. Tapi jika pelaku mengulangi lagi hal yang sama, ya ditegur dengan teguran yang lebih keras. Sebaliknya orang-orang yang bertaqwa, janganlah selalu disanjung atas predikat kesholihannya tapi kabarkan pada mereka rasa efek jera untuk tidak bergeser dari posisi yang sudah diperoleh, bahkan ditingkatkan sampai pada maqom hamba yang pandai bersyukur.

Fenomena sosial hari ini, jika ada orang yang salah dan meminta maaf, bukanya di maafkan dan diarahkan menjadi baik, tapi terus di bully dan seakan terucap “tiada maaf bagimu”. Ambil contoh kejadian puisi Sukmawati, ketika sudah minta maaf dan ngaku salah, ya sudah maafkan!. Bukan disiapkan aksi atas nama agama memanggil untuk aksi kebiadaban.

Kalau indikator baik dan buruk, salah dan benar, semuanya diserahkan pada berapa jumlah mereka yang aksi, kira-kira apa yang terjadi pada bangsa ini? pastilah bangsa yang dahulu dikenal sebagai bangsa yang ramah, akan berubah jadi predikat bangsa pemarah. Bangsa yang oleh para penerus nabi termasuk para wali, ulama’, dan Kyai dididik untuk menyampaikan perdamaian seluruh alam atau rahmatan lil ‘alamin, tiba-tiba wajah Islam kita menjadi sangar dan garang. Bahkan berubah menjadi Islam pemarah yang ketika ada orang yang salah dan menyinggung Islam, maka solusinya adalah aksi bela Islam.

Bukan berarti saya anti Islam, lihat saja, bagaimana dunia memandang muslim di Indonesia pasca aksi yang berjilid-jilid itu?. Dunia menilai bahwa ternyata wajah Islam di Indonesia yang selama ini adem dan teduh, sudah mulai berubah menjadi serem dan sangar. Para pelaku aksi berdalih sebagai kelompok yang paling Islami, karena telah melakukan aksi dan memberikan predikat mereka yang tidak datang dalam aksi sebagai banci dan antek pemerintah. Dimana korelasi bela Islam dengan anti terhadap pemerintah bro?. Atau jangan-jangan aksimu itu hanya kedok untuk ngukur kekuatan yang kau siapkan untuk lainya?.

Pernah juga ada sahabat bertanya, Islam itu dasarnya sama, kok pendapatnya bisa berbeda? ya jelas sangat bisa. lha wong kita yang berjauhan dari gunung, akan tampak hijau meranum tanpa ada batu kerikil. Sedangkan mereka yang berada di gunung yang sama, pasti tidak hanya rumput hijau yang tampak, tapi kerikil, bebatuan, jurang, duri dan lainnya. ini menunjukkan bahwa orang yang menguasai agama secara utuh, tidak akan kagetan dan nggumunan terhadap sebuah perbedaan, tapi mampu menjadikan perbedaan sebagai pemersatu.

Jika permintaan maaf tidak cukup, maka apalah yang bisa membuatmu senang wahai saudaraku? Jika jawabanmu tidak ada, apakah aksimu akan membuat maslahah bagi mayoritas Islam? Jika yang kau tampakkan adalah wajah Islam anti memaafkan, benarkah engkau mewakili Islam?. Maka benarlah kiranya “barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka sejatinya dia juga mengenal tuhannya” من عرف نفسه فقد عرف ربه .

Mengenal diri sendiri adalah memahami tugas dan kewajiban sebagai hamba Allah swt dan Kholifatullah. Jika menjadi hamba ya harus tunduk, jika menjadi Khalifatullah ya harus mampu mensejahterakan masyarakat yang dipimpinnya. Jika tidak mampu menjalankan tugas dan fungsi tersebut, maka siap-siaplah memberikan pertanggungjawaban kepada tuhanmu. Ingat, كل كم راع وكل راع مسؤل عن راعيته
Setiap kamu sekalian adalah pemimpin, yang nantinya akan dipertanyakan bagaimana nasib rakyat yang engkau pimpin. Memang kalau mau menjadi bermanfaat bagi orang lain harus bisa menunjukkan kemampuan berbuat dan menggerakkan seluruh potensi yang ada, tapi cukup diam saja, ada sudah dianggap sebagai orang baik.