PACITAN-Jum’at (6/1/17), Panitia secara lengkap meninjau persiapan teknis di lokasi Apel Kesetiaan Kader NU terhadap NKRI. 90 % penyiapan sarana prasarana dan perangkat Apel di lokasi Pantai Pancer Door telah terpasang dan siap digunakan.

Mohammad Rofiqin, ketua Panitia Pelaksana Teknis Apel Kesetiaan menyatakan kesiapan warga NU Pacitan dalam mensukseskan kegiatan Apel Kesetiaan. “Alhamdulillah, Insya Allah warga NU Pacitan siap menyambut kedatangan Kader NU se-Jawa Timur untuk konsolidasi gerakan di Pacitan melalui Apel Kesetiaan”, katanya.

Sambil menyaksikan wayang kulit yang digelar untuk menyemarakkan Apel Kesetiaan, Mamad, panggilan akrab Mohammad Rofiqin menjelaskan partisipasi warga NU Pacitan untuk sukses Apel Kesetiaan luar biasa. “Wayang kulit ini digelar atas partisipasi para seniman Pacitan, bahkan WC umum yang kita bangun di lokasi Apel Kesetiaan, nanti selesai kegiatan kita hibahkan kepada Pemerintah Daerah. Kini saatnya NU memberi, bukan merepotkan”, kata Mamad menambahkan.

Kebetulan, dalam dunia wayang terdapat sosok kesatria yang bernama Ontoseno yang memiliki karakter; jujur, terus terang, bersahaja, berani dan apa adanya. Sosok ini tepat untuk menggambarkan kader NU yang sedang konsolidasi melalui Apel Kesetiaan.

Dalam wawancara beberapa saat sebelum gelar wayang kulit, Ahmad Samsul Rijal, salah satu Koordinator penyelenggara Apel Kesetiaan menjelaskan bahwa konsolidasi kader NU di Pacitan diwujudkan melalui kebersamaan yang terkomando untuk memandirikan gerakan jam’iyyah.

“Apel ini untuk melatih kader agar mandiri bergerak dan memberi warna gerakan jam’iyyah yang bertumpu pada keswadayaan, komitmen dan konsistensi perjuangan demi memperkuat nasionalisme dan menjaga NKRI”, katanya.

Sebagaimana direncanakan oleh Panitia, kader NU se-Jawa Timur akan hadir dalam Apel Kesetiaan, dan tidak banyak pejabat yang diundang, karena lebih bersifat konsolidasi internal kader. “Karenanya, Apel Kesetiaan ini menghindarkan diri dari topangan sponsor dan segala bentuk kepentingan politik yang masuk. Kita betul-betul menjaga agar ini murni gerakan kader yang digambarkan sosok Ontoseno dalam dunia wayang”, kata Rijal menegaskan.

Pemilihan Lokasi Pacitan juga tidak jauh dari Historisasi Peran Mbah Mahfudz Termas yang sudah mempopulerkan nama Termas di dunia peradaban Islam melalui karya monumental Al Fawaaid At Tarmisiyah Al Asanid Fi Qiroatil Asyriyah yang beliau ajarkan kepada para santrinya di Timur Tengah. Pencantuman Nama Termas dalam kitab karya beliau, mengilhami kepopuleran nama pondok pesantren di Nusantara yang justru lebih terkenal nama desanya dari pada nama pondoknya, misalnya Pondok Ploso, Lirboyo,Peterongan,Tebu Ireng,dll. Inilah fakta bahwa Pacitan merupakan embrio Persatuan untuk NKRI.