Upaya untuk menghancurkan Nahdlatul ‘Ulama sudah sejak lama selalu mereka lakukan. Berbagai fitnah dan adu domba terus mereka upayakan secara masif dan sistemik. 

Mereka mencoba dengan melakukan konfrontasi secara langsung melalui debat terbuka bahkan lewat pengajian-pengajian yang sengaja menampilkan caci maki kepada NU secara komplit. Mulai cacian terhadap organisasi NU, tokoh NU, amaliyyah, dan jama’ah NU menjadi menu wajib dan misi besar mereka membusukkan NU. Namun, hal ini gagal dan tidak membawa hasil. Faktanya, NU tetap tidak tergoyahkan.

Kemudian kebencian mereka pun berlanjut dengan melakukan kolaborasi bersama rezim terdahulu untuk menekan NU secara intistusi bahkan melakukan gerakan represif dengan mempersulit izin penyelenggaraan kegiatan NU seperti Lailatul jtima’, Istighotsah, Muktamar dan kegiatan berkumpul lainnya. Mereka yang ada di tahun awal rezim Soeharto pasti faham. Tapi taktik inipun juga mengalami kebuntuan. NU Masih selalu menjadi yang terdepan !

Setiap zaman pasti ada masanya, seiring dengan perkembangan dan perubahan, para pembenci NU juga berubah strategi dari cara lama menuju cara lain yang dianggap lebih baru yakni secara masif melakukan pembunuhan karakter para pengurus NU mulai dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama sampai Pengurus Ranting dan anak ranting menjadi sasaran. Sehingga tercipta sedikit kegaduhan di level masyarakat. Dan seperti Biasa, cara keji ini pun juga tidak membuat NU kehilangan pamornya. NU semakin moncer dengan ikon Islam Nusantaranya yang mampu menghipnotis wacana dunia.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pembunuhan karakter seperti ini sedikit membuat kegaduhan masyarakat awam. Tapi kegaduhan itu tidaklah membuat kecintaan para Nahdliyyin menjadi pudar. Malah kepercayaan dan kebanggaan publik terhadap NU semakin tinggi. Terbukti dengan semakinbanyaknya negara di Eropa dan Asia yang membuka Pimpinan Cabang Istimewa NU.

Setelah adu domba dengan melalui pembunuhan karakter, siyasah licik pun mereka lakukan dengan membentuk suatu kepengurusan tersendiri di luar tubuh NU berupa NU Garis Garisan. Mulai yang Garis Lurus, bengkok, sampai Garis putus-putus. Mereka memanfaatkan kelompok yang tidak puas atau dendam pada NU untuk digandeng menyerang NU.

Kebencian dan dendam para penganut faham Khowarij terhadap NU Selaku Ormas Keagamaan Terbesar di Seluruh dunia akan tetap ada dan bersambung tiada putus. Dan disisi lain, akan senantiasa ada pula generasi-generasi muda dari kalangan Nahdliyyin ataupun para Muhibbin NU yang menjaga dan menggerakkan dan melindungi NU dengan segenap jiwa dan raga baik di SK atau tidak, jadi pengurus atau tidak jadi pengurus sebagaimana mereka bertekad menjaga dan melindungi agama Islam.

Sebagaimana pesan Mbah Ridlwan Abdullah sang pembuat logo NU kepada keluarganya” Masuklah menjadi anggota NU, karena organisasi ini yang diridhoi Allah, jangan sampai keluar dari NU”. Tetaplah Selalu Bersama NU Wahai Saudara!