Mundurkan hoax atau hilangkan hoax atau lawan hoax dengan info yang terang. Kurang lebihnya demikian arti yang dimaksud dari judul di atas. Betapa kita tahu bahwa informasi palsu adalah sumber kekacauan yang bisa menjadikan kesalah fahaman antar para pihak. Bahkan bisa memunculkan pertikaian antar bangsa.

Pada Zaman rosulullah, pernah terjadi penugasan kepada Uqbah bin Walid bin Muith untuk melakukan penarikan zakat kepada Bani Mustholiq. Mendengar kabar tersebut, Bani Mustholiq dengan suka cita menyambut utusan Rosulullah dengan mendatangi dan berencana menjemput utusan tersebut.

Akan tetapi Uqbah bi Walid bin Muith yang punya masalah pribadi dengan Bani Mustholiq, justru kembali memutar haluan dan menghadap Rosulullah dan menyampaikan bahwa Bani Mustholiq akan menyerang utusan rosulullah dan menuduh Bani Mustholiq sudah murtad dan tidak mau membayar zakat.

Mendengar berita tersebut, Rosulullah marah dan menugaskan Khalid Bin Walid untuk klarifikasi kebenaran berita yang dibawa Uqbah bin Walid bin Mu’ith.

Bersama beberapa orang, Kholid bi Walid sengaja memata-matai Bani Mustholiq dalam beberapa hari, mulai kegiatan pagi, sampai muncul waktu pagi kembali, dan ternyata, brrita yang disampaikan Uqbah bin Walid bin Muith tidak ada benarnya sama sekali.

Ternyata Bani Mustholiq tidak murtad. Mereka bukan mau menyerang utusan rosulullah, tapi bermaksud menyambut utusan rosulullah karena suka cita yang mendalam. Sholat malam pun, juga dilaksanakan oleh Bani Mustholiq. Bahkan, sholat lima waktu juga dilaksanakan dengan berjama’ah.

Akhirnya Khalid bin Walid pulang bersama rombongan untuk menyampaikan hasil investigasi dan klarifikasi terhadap berita yang sebelumnya di bawa oleh Uqbah bin Walid bin Muith. Akhirnya munculah kesimpulan bahwa berita yang dibawa Uqbah adalah berita bohong, atau jaman sekarang disebut hoax. Dan akhirnya turunlah al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 6:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ)

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (Q:S Al-Hujuraat, 6).

Selanjutnya Rosulullah juga menyebut orang yang tergesa-gesa seperti Uqbah bin Walid bin Mu’ith menyimpulkan tanpa melakukan penggalian data mendalam dengan sebutan yang disabdakan beliau;

التأني من الله والعجلة من الشيطان

Berhati-hati dalam menyikapi masalah adalah sikap yang mendapat pertolongan dari Allah, dan tergesa-gesa dalam menyikapi masalah adalah sikap yang datangnya dari Syetan.

Dari Q:S al Hujurat ayat 6 diatas memberikan pelajaran penting bagi kita, bahwa :
Orang yg membuat berita Hoax disebut Fasiq, karena besarnya bahaya yang ia timbulkan.

Orang yg mudah percaya pada berita yang belum tentu benar tanpa klarifikasi, orang tersebut dicela oleh Allah dengan bahasa ;

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ.

Jika kalian mudah percaya pada berita yang belum tentu benarnya maka akhirnya kalian membeci suatu kelompokxgolongan dan ujung-ujungnya kalian menyesal.

Di dalam sebuah hadits, Rosulullah mencela dan memberikan predikat pembohong kepada orang yang suka menyebarkan (share) semua berita yang ia terima tanpa klarifikasi/tabayyun terlebih dahulu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ»

Berhati-hatilah terhadapa para pendusta/pembohong, yaitu para penceritrera apa-apa yang ia dengarkan.

Maka, marilah kita berhati – hati dalam ber”medsos”. Karena media sosial sejatinya adalah media untuk mendekatkan yang jauh dan mengeratkan yang renggang”. Andaikata tidak dapat menemukan tempat klarifikasi, lebih baik diam dan tidak men share berita yang tidak jelas.
#TurnBackHoax