Media sosial menjadi lahan baru untuk mengaktualisasikan diri dan interaksi. Termasuk pula, untuk berdebat dan berjejaring secara online. Khusus madalah debat di media sosial, tema tahunan seakan menjadi jadwal berputar setiap tahun. Misalnya bulan Desember, tema debatnya natal dan jelang tahun baru, mulai bagaimana hukum menjaga gereja, menghadiri natal, sampai pada idiologi natal. Disusul bulan Januari dan Februari biasanya tema Valentine dan pernak-perniknya, tema Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra’ Mi’raj, Ramadhan, Tarawih, Akhir Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, Agustusan, dan seterusnya yang semuanya rutin dan siklusnya tetap.

Sebuah dalil ketika disampaikan dengan tujuan membenarkan kepentingan pribadi tanpa melihat konteks dan teks secara komprehensif, maka lahirlah kebenaran subyektif yang endingnya adalah penggunaan dalil untuk menyalahkan orang lain. Misalnya hari ini yang mendekati natal, maka trompet menjadi sasaran dalil di bawah ini,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Artinya:

“Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda: Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu” (HR. Abu Daud no. 3512 dan Ahmad no. 4869)

Dengan hadis ini trompet tiba-tiba menjadi terkenal, hingga mengisi halaman-halaman medsos saban tahun menjelang akhir Desember. Dikatakan bahwa sesiapa yang meniup trompet maka dia menyerupai kaum Yahudi. Dan sesiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu. Gamblangnya, siapa saja yang meniup trompet maka secara otomatis telah keluar dari Islam dan menjadi penganut agama Yahudi. Mengerikan bukan?

Andai simpulan itu benar, maka tak bijak rasanya jika menjual dan meniup trompet menjelang pergantian tahun aja yang dilarang, tapi seharusnya grup drum band di sekolah-sekolah dan di instansi-instansi pemerintah pun harus ditiadakan. Kalau tidak, berarti berbondong-bondonglah orang Islam jadi murtad di akhir tahun dan di tiap hari-hari besar kenegaraan.

Yang paling rugi dengan penerapan “tafsir” hadis itu ialah kalangan bawah umat Islam sendiri. Karena pasti mayoritas mutlak pembuat dan pedagang trompet adalah mereka (orang Islam), yang seyognyanya paling panen di musim permintaan terompet meningkat drastis, yang hasilnya lumayan buat menafkahi anak istri mereka.

Tidak perlu memperdebatkan kesalahan metodologi istinbat hukum dalam penerapan hadis itu pada trompet. Cukup searching saja kata “sangkakala” di aplikasi Alquran Terjemahan Indonesia, niscaya akan dibawa ke tidak kurang dari 10 ayat yang bicara soal trompet ini. Diantaranya, QS. Az-Zumar (39) ayat 68:

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَآءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ

Artinya:

“Dan sangkakala pun ditiup maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi ( sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).”

Jikalau kita terapkan hadis itu pada ayat ini, maka Allah adalah Tuhan Yahudi dan malaikat Israfil adalah penganut Yahudi. Ini yang fatal: Tuhan dan malaikat sama-sama murtad. Betapa tidak, Tuhanlah yang memerintahkan penggunaan trompet dan malaikat adalah pengguna trompet.

Oh…pet… Trompet…. Alangkah malangnya dikau. Engkau hanyalah alat pembesar suara yang terbuat dari gulungan kertas, tapi mereka sampai hati mengkambing-hitamkanmu sebagai penyebab jadi Yahudinya umat kanjeng nabi Muhammad. Ya Rasulallah, alangkah lemahnya iman umatmu, hanya karena meniup gulungan kertas, mereka jadi Murtad.