Amazing, dampak hoax yang dilakukan oleh seorang nenek 70 tahun bisa membodohi para petinggi partai, tokoh, dan ilmuan pada satu kelompok dukung mendukung capres cawapres 2019. Pasalnya secara logika, basis data yang digunakan sekian banyak tokoh ini apa? Percaya begitu saja kah? Gak mungkin. Mereka bukan anak kemarin sore kok. Mungkinkah mereka semua khilaf?. Sulit dipercaya akal sehat.

Setiap kepala pasti punya penalaran dan alasan ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi, tidak mungkin semua kepala langsung berjama’ah bersumpah dan berucap “ini adalah benar, dilakukan oleh rezim penguasa”, lantas ketahuan, bareng pula kalimatnya “menyesalkan hoax yang dilakukan Ratna”. Kenapa kalimat mereka kompak? Dan yang patut emosi adalah setan, yang dianggap menjadi biang kerok hoax.

Perilaku bermedia sosial yang sehat perlu dikampanyekan, karena hoax sudah bukan hal tabu bagi kalangan tokoh masyarakat dewasa ini. Prinsipnya, jika ketahuan minta maaf, jika diuber wartawan, drama nangis dan nyalahkan setan.

Bayangkan saja, gara-gara hoax nenek yang sedot lemak wajah dan operasi plastik pingin tampil kayak Nisa Sabyan, berapa anggaran yang dikeluarkan untuk debat kusir dan saling bela? Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk mengkroshcek transaksi keuangan via BCA dan transaksi lainnya, jejak keberadaan sinyal HP saat kejadian, jejak perjalanan via bandara pada saat hari kejadian, konferensi pers dan mendatangkan wartawan, ngundang sahabat untuk ketemu dan lainnya, mahal pastinya.

Media sosial memang luar biasa dampaknya. Teknologi yang memfasilitasi kita bisa terhubung dengan seluruh kawan dimana pun berada. Ibarat pisau bermata dua, teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab. Pisau bisa untuk membunuh, juga bisa untuk memotong daging qurban sehingga halal dimakan. Tergantung kualitas pemegangnya, jika baik dan benar, maka yang dikeluarkan juga berkualitas, tapi jika dipegang orang bermental setan, adu domba dan huru-hara akan semakin marak.

Marilah kita gunakan akun media sosial kita, untuk menebar perdamaian, menginfokan kabar bermanfaat, tidak share gambar kecelakaan atau bencana secara vulgar tanpa sensor. Bahkan mengklarifikasi seluruh info sebelum membincangkan atau mengunggahnya. Sehingga media sosial baik FB, Youtube, IG, Twitter, WA dipenuhi kabar benar, bermanfaat, dan dapat dipertanggung jawabkan.

Perlu kita giatkan tradisi membaca lebih banyak dari sebelumnya, karena memperkaya bacaan baik offline maupun online akan menambah wawasan dan membuka cakrawala pengetahuan. Dengan banyak membaca, maka hal baru akan sering kita temukan. Tapi bacaan tersebut selanjutnya juga dicerna, bahkan jika perlu ditabayunkan agar jelas kebenarannya. Budaya baca yang rendah, justru akan menjadikan piciknya cara pandang terhadap sebuah permasalahan.

#MariMembacalagi