Kalimat singkat yang begitu menggelitik disampaikan Prof.Masdar Hilmy, P. hd membuka kuliah di ruang lt. 3 gedung UINSA Jl.A Yani, Rabu, 18 Oktober 2017 yang diikuti oleh 54 mahasiswa pasca sarjana IAIN Tulungagung dari Program Studi Islam Interdisipliner, Manajemen Pendidikan Dasar Islam, dan Manajemen Pendidikan Islam.

Stressing kalimat yang diperdalam dalam pembahasan adalah nilai baru dari ide yang di dapatkan atau dimunculkan atau ditemukan dalam karya mahasiswa pasca sarjana, khususnya tugas akhir studi. Nilai kebaruan bukan berarti belum pernah ditemukan, bisa jadi baru adalah ke khasan yang beda dari yang sudah pernah ada, bukan sekedar beda lokus atau tempus. Tapi nilai beda yang original yang secara radionalisasinya kebaruan tersebut juga ditentukan oleh rasionalitas peneliti. lha akan jadi repot kalau si Mahasiswa menganggap baru, tapi menurut penguji tidak ada kebaruannya.

Sebuah kejadian yang perlu tanggungjawab secara moral dan akademik jika rasionalitas yang kita anggap baru, tapi para penguji menyampaikan apa yang kita anggap baru justru dianggap biasa oleh penguji dan tidak punya nulai kebaruan.

Ternyata semakin banyak yang belum saya ketahui, menemukan kebaruan yang memiliki nilai originalitas dan ada daya guna publik (exposfacto) tidak gampang. Bukan berarti kebaruan berada pada lembaga bonafide, tapi nilai kebaruan adalah celah yang belum ditemukan pada karya sebelumnya.

Atau Novelty yang dimaksud adalah sesuatu yang didekati dengan disiplin ilmu lain, misalnya Manajemen Pendidikan dalam Perspektif Kebijakan Publik. Sehingga ada nilai kebaruan daru Manajemen Pendidikan yang di dekati denga ilmu sosial. Sehingga ada intradisipliner, ekstra disipliner dan Transdisipliner.

Menemukan kebaruan bukanlah mengadakan sesuatu yang seharusnya ada. Kalau memaksakan sesuatu yang seharusnya ada, inilah yang disebut pemerkosaan dan pemaksaan keilmuan. Lebih baik menemukan sesuatu yang baru dari lembaga yang sudah bubar dari pada menemukan hasil yang diadakan dari pemaksaan.

Ada seorang peneliti yang berhasil menemukan sesuatu yang baru gara-gara meneliti “Konflik Lembaga Pesantren Perspektif Manajemen Pendidikan” dalam penelitian itu ditemukan bahwa penyebab bubarnya pesantren tersebut adalah: adanya kelompok lain penyusup, adanya kepentingan individu antar pengelola, adanya pola menjatuhkan kewibawaan dan peran fungsi mrlalui fitnah. Dari penelitian ini, sang peneliti juga diledek para penguji” kon dadi doktor pondok bongkor”(kamu jadi doktor karna neliti pondok mati). Siapkan semuanya sekarang, temukan masalah bagi sampean, dapatkan novelty dari masalah sampean.(tutup Prof.Masdar mengakhiri perkuliahan). (Din).