Hizbut Tahrir adalah partai politik beridiologikan Islam. Sebagaimana yang tertulis dalam buku “Manifesto Hizbut Tahrir” yang pernah diterbitkan HTI tahun 2009. Hizbut Tahrir meyakini bahwa Islam diturunkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Dan Hizbut Tahrir berjuang untuk merubah keadaan masyarakat yang penuh kerusakan ini dengan cara mendasar yakni menjadikan Islam sebagai satu-satunya landasan untuk menyelesaikan seluruh permasalahan manusia. Menurut Hizbut Tahrir, perubahan dan pencapaian cita-cita ini hanya bisa sempurna dengan penegakkan kembali Daulah Khilafah.

Sekilas dapat kita fahami bahwa HT yang selanjutnya metamorfosa menjadi HTI adalah partai politik. Mereka secara jujur mengakui bahwa penegakkan supremasi hukum dan pengamalan hukum hanya bisa dilakukan dengan jalur politik yang akhirnya bisa menguasai sebuah wilayah yang disebut negara. Apakah sejarah nabi mencatat bahwa partai politik adalah jalan menuju perjuangan? Jawabnya “tidak”. Perlu dijelaskan pula bahwa selama ini HTI mengatakan perjuangan Islam untuk Khilafah? Hanya omong kosong. Maka tak heran jika HTI golput dalam setiap pemilihan, karena golput adalah sikap politik dan memang HT adalah partai politik yang selalu mencari dukungan(Thalabun Nusrah).

Sedemikian juga pencarian dukungan mereka lakukan pasca pengumuman pemerintah untuk membubarkan HTI. Mulai dari pembangunan opini, mendatangi Komisi Hak Asasi Manusia sampai pembuatan petisi “Tolak Pembubaran HTI dan Tolak Perpu no 2 2017 tentang ormas” bahkan sampai menyewa pengacara Yusril Ihza Mahendra untuk menangani proses beracara di pengadilan.

Tak tanggung-tanggung opini yang dibangun HTI adalah jika perpu no 2 tahun 2017 tentang ormas juga akan membubarkan NU dan ANSOR dengan berbagai dalih dan analisa yang dibuat oleh HTI agar NU dan ANSOR mengikuti logika HTI dan menolak Perpu no 2 tahun 2017. Padahal secara implisit munculnya perpu 2 tahun 2017 adalah terobosan dan kecerdikan pemerintah untuk menemukan solusi dari kebuntuan UU no 17 tentang ormas tahun 2013. Dari kejadian ini para Syabab, Akhwat dan anggota HTI senewen dang ngamuk-ngamuk diberbagai diskusi offline dan online. Dan yang lebih parah lagi ketika per tanggal 19 Juli 2017 pemerintah Indonesia melalui Kemenkumhan mencabut izin badan hukum HTI, justru Kabar pencabutan badan hukum HTI ini membuat shock disertai menurunnya kondisi kesehatan John Mc Cain yang berada di London, sang pengelontor dana beserta pemegang kendali Hizbut Tahrir dunia.

HTI juga mengadu kepada Komnasham sebagaimana kita ketahui HTI juga menyusupkan kadernya mengikuti seleksi pemilihan komisioner Komnasham. HTI wadul dan sambat atas nasib yang menimpanya, mereka taqiyah dan senewen sehingga mereka lupa bahwa mereka menyumpahi pemerintah dengan sebutan “Thoguth” dan menyebut negara Indonesia sebagai negara yang belum menjalankan dan menegakkan hukum-hukum Allah melalui Daulah Khilafah seperti yang dimaksud HTI.

Dalam Thalabun Nusrah(pencarian dukungan) HTI tak peduli apa yang sudah mereka kutuk pun mereka lakukan. Segala cara (uslub) dan sarana(wasilah) mereka tempuh. Ada istilah name calling (memberikan stigma negatif kepada sasaran) karena HTI tahu bahwa sasaran mereka adalah pemerintahan yang dipimpin Jokowi, maka seluruh upaya mereka pusatkan untuk menggempur pemerintah, agar opini masyarakat terpengarui dengan opini yang dikehendaki HTI. Grup WA, Telegram FB dan Tulisan di media, mereka penuhi dengan berbagai pembelaan kepada HTI atau mereka upayakan untuk mengkritisi pemerintah dan menyerang pemerintah.
Ada juga cara yang dipakai HTI dalam merebut simpati dan Thalabun Nusrah yaitu dengan cara Testimonial (menyatakan keterkaitan dengan tokoh berpengaruh) penggunaan jasa YIM sebagai pembela HTI dalam beracara adalah wujud nyata testimonial yang dilakukan HTI. Statemen awal YIM pemerintah salah dan tidak bisa membubarkan HTI adalah berdasar kecerdasan YIM membaca berdasar UU ormas 17 tahun 2013. Tapi pemerintah lebih cerdas lagi dengan mengeluarkan Perpu no 2 tahun 2017 tentang ormas.

HTI juga melakukan The Plain Folks (mengatas namakan masyarakat) seperti halnya sambat dan wadul mereka ke Komnasham atas nama masyarakat yang ingin berkumpul dan berserikat, dan HTI juga melakukan Card Stacking (menonjolkan hal-hal positif yang dilakukan HTI) Sampai pada Succes Story (cerita kesuksesan) mereka mengadakan tabligh akbar dengan mengumpulkan ratusan ribu massa dan acara besar lain yang pernah mereka lakukan. Intinya HTI terus melakukan perlawanan karena mereka dituntut oleh daulah londoniyah (John Mc Cain) yang berorientasi pada Daulah Khilafah (Reunifikasi) menjadikan seluruh negara yang mereka jadikan target untuk menjadi satu komando yang mereka namakan dengan daulah khilafah yang dipimpin oleh kholifahbyang ter bai’at.

Insaf dan sadar bahwa keyakinan tidak akan bisa dipenjara. Sekali pun HTI sudah dicabut izin organisasinya, maka perlu penyadaran kepada mereka yang lagi sibuk bertaqiyah dan senewen kepada negara dan pemerintah. Ihdinashiraatal mustaqim shiraathalladziina an amta alaihim ghoiril maghduubi alaihim waladhoollin. Wallahul muwaffiq ilaa aqwaamithooriq.