Kalimat di bawah ini adalah apa yang tercantum pada Kalimat Mutiara dari Sahabat Nabi Muhammad yang bergelar Baabul Ilmi yakni Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah yang dapat kita jadikan teladan dan awarning system atau sistem pengingat bagi kita disaat bergaul dengan sesama manusia. Pada kalimat mutiara tersebut juga kami berikan komentar subyektif dari perpektif pribadi yang perlu ditanggapi dan dikomentari untuk kebaikan bersama. Diantara kalimat yang kami maksud adalah:

“Bantahlah orang-orang muda dengan perdebatan, orang-orang dewasa dengan pemikiran dan orang-orang tua dengan diam” kalimat ini menunjukkan tiap usia ada caranya berkomunikasi, walaupun dalam hal membantah. Tidak semua bantahan harus diwujudkan dengan kalimat dengan nada membentak, tapi ada motode yang pilih untuk berdebat dengan usia yang beda.
Bergaullah dengan manusia dengan perangai apa saja yang engkau kehendaki karena sesungguhnya mereka akan memperlakukan kalian dengan perangai yang serupa. Hal ini menunjukkan bahwa aura positif atau aura negatif yang kita keluarkan, itulah yang akan kita dapatkan sebagai respon. Kalau bahasa jawanya” wong iku ngunduh wohing pakerti” setiap orang, akan mendapat dari apa yang ia perbuat.
Jika engkau ingin berteman dengan seseorang, maka lihatlah siapa musuhnya.
Janganlah sekali-kali engkau mendekati orang yang engkau takutkan darinya keselamatan agamamu dan kehormatanmu. Perumpamaan susunan kalimat tersebut adalah “siapa bersama siapa? dan karena apa?” untuk memilih teman supaya selamat.
Temanmu adalah yang melarangmu dari kemaksiatan sedangkan musuhmu adalah yang membujukmu untuk mengerjakan kemaksiatan. Dari kalimat ini, kita bisa mengambil manfaat bahwa teman yang baik adalah yang mau mengingatkan ketika kita hampir berada pada kesalahan dan musuh sebenarnya kita adalah yang membujuk menuju kemaksiatan.
Perjalanan adalah bagian dari siksaan dan teman yang buruk adalah bagian dari neraka. Ketika perjalanan adalah bagian dari siksaan, syari’at Islam membolehkan dan memberikan rukhsah(keringanan). Oleh karea perjalanan adalah bagian berat dan siksaan, maka memilih teman dalam perjalanan harus sesuai dan mampu mengamankan perjalanan kita. Termasuk teman dalam perjalanan hidup.
Sebaik-baik teman, jika engkau tidak membutuhkannya dia akan bertambah dalam kecintaannya kepadamu dan jika engkau membutuhkannya dia tidak akan berkurang sedikitpun kecintaannya kepadamu. “mencari teman yang bisa diajak tersenyum, dan bahagia sangatlah mudah, tapi teman sejati tidak akan berkurang rasa cintanya walaupun dalam penderitaan dan perjuangan.

Sikap saling menghargai, tawadhu’ dan rendah hati, menjadi modal utama dalam bersosialita. Seperti yang disampaikan Syekh Abdul Qodir Jailani:

ما وصلت الى الله تعالى بقيام ليل ولاصيام نهار ولكن وصلت الى الله تعالى بالكرام والتواضع وسلامة الصدر

Tidaklah sesuatu hal yang menjadikanku dapat wushul kepada Allah karena qiyamul lail, bukan pula karena rajin puasa pada siang harinya, tetapi yang menjadikan aku dapat wushul kepada Allah karena sifat ringan tangan(loman/suka memberi), tawadhu’, dan murah hati”.

Dari modal di atas, perbaikan dan perubahan individu dimulai, untuk selanjutnya dapat merubah sebuah tatanan lingkungan, dan masyarakat dapat diwujudkan. Oleh karenanya memulai dari individu untuk selanjutnya menularkan semangat positif “loman, tawadhu’ dan rendah hati” kepada sesama manusia.