“Saat ini sudah tidak sepantasnya terlalu banyak pengarahan dari PBNU kepada pengurus wilayah dan pengurus cabang NU. Kalau kita mau jujur, tingkat pengetahuan saya, Pak Syaichu, Pak Idham Chalid dengam pimpinan wilayah dan pimpinan Cabang itu sama. Hanya beda pafa skupnya saja. Kebetulan kami di PBNU mendapatkan kesempatan di atas, sehingga banyak mendapatkan data di tingkat nasional. Kalau pengurus wilayah lebih mengetahui wilayahnya, sementara pengurus cabang memiliki data tentang cabangnya, sedangkan masalah kecerdasan dan pengabdian kepada NU, kita semua sama. Karena itu diharapkan dalam Muktamar ini sepenuhnya pimpinan NU dari wilayah dan cabang, gunakan kesempatan Muktamar ini sebagai sarana terbuka untuk membahas dan menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi”.

Kalimat di atas adalah sambutan HM. Subhan Zaenuri Ehsan dalam muktamar NU ke 25 di Surabaya tahun 1971. 

Latar belakang sambutan HM. Subhan Z.E adalah munculnya anggapan bahwa urusan PBNU adalah urusan pengurus PBNU, bukan urusan PWNU dan Cabang NU. Menurut HM. Subhan Z.E, secara kemampuan, pengabdian, dan kecerdasan antara Pengurus PCNU, PWNU, dan PBNU adalah sama, bedanya hanya skupnya saja. Oleh karenanya, Muktamar NU adalah forum yang menghasilkan sebuah produk yang di pedomani oleh PBNU yang merupakan karya pengabdian dari PWNU dan PCNU. Selain itu H.M Subhan Z.E juga menegaskan bahwa banyak intelektual, pemikir, dan politisi handal dari daerah yang mumpuni. 

Sikap percaya diri Subhan Z.E sebagai politisi piawai yang disegani oleh kawan maupun lawan yang merupakan hasil belajar kepada ulama-ulama’ NU. Bukan belajar dari penjajah atau pun kepada pengetahuan diluar NU.

H.M Subhan Zaenuri Ehsan adalah Tokoh Muda NU yang pada kisaran 1964-1965 menjadi pemimpin kaum pergerakan demokrasi melawan “Demokrasi Terpimpinnya” Soekarno. Subhan adalah pemimpin yang merangkak dari bawah, sejak dari Pimpinan Cabang NU di Kudus, tetapi karena kepemimpinannya brilian, maka Subhan di promosikan menjadi salah seorang PBNU. 

Dalam situasi Dekrit Presiden 1959 yang mengarah pada Demokrasi Terpimpin, Subhan Z.E melawan arus dengan membuka dialog formal maupun informal dan berani menyampaikan pendapat, gagasan dan tawaran solusinya dalam berbagai forum. Sehingga hampir seluruh pemikiran Subhan Z.E saat itu menjadi rujukan para aktifis muda di Tanah Air ini. Kelas dan kaliber Subhan Z.E saat itu, sama dengan kaliber  Gus Dur untuk ketokohannpendobrak di tahun setelahnya.

Kendati pun demikian, Subhan Z.E tetap konsen dan tekun pada kajian Ekonomi, Subhan Mengikuti beberapa kursus ekonomi di luar negeri dan menjadi mahasiswa tamu di Stanford University, Washington University, Blumington University dan California University. Sehingga pengetahuan ekonomi Subhan sangat mendalam, tidak sekedar textbook thingking, melainkan pengetahuan empiris sehingga lebih berdaya guna dalam menyelesaikan masalah.

Sejak kecil, Subhan Z.E memang belajar dan bergumul dengan bisnis di kota industri Kudus Jawa Tengah. Dengan kemampuan bisnis, dan kepiawaian berpolitik dan kewibawaannya, saat itu Subhan Z.E menduduki posisi Ketua Dewan Ekonomi Indonesia Pusat, Wakil Presiden Perhimpinan Ekonomi Asia Afrika, menjadi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Nahdlatul Ulama’ dan Dosen Tamu bidang ekonomi dan politik di berbagai Universitas. Dan tetap menjadi Pengurus Harian PBNU saat itu.

Sayangnya H.M Subhan Z.E meninggal dunia dalam usia sangat muda yakni 42 tahun, saat kecelakaan dalam rangkaian perjalanan melaksanaan Umrah dengan kondisi mobil utuh dan sopir selamat. 

Subchan Z.E tidak setengah hati dalam berpolitik. Hingga intervensi dan tekanan dari rezim Soeharto membuat Subchan Z.E kehilangan karir politik. Pengurus Besar Syuriyah NU lewat suratnya No.004/Syuriyah/c/1972 yang ditandatangani oleh Rois Aam KH Bisri Syamsuri kemudian memecat Subchan Z.E sebagai anggota NU. Karena larangan PH berpolitik.

Subchan menolak pemberhentian itu dan melawan balik. Tetapi mayoritas cabang NU mendukung pemberhentian Subchan Z.E. Hal itu menguatkan kesan bahwa prototipe kepemimpinan Subchan Z.E yang terlalu kritis dan vokal terhadap pemerintahan Soeharto tidak mendapatkan dukungan dari masyarakat pedesaan dan kultur tradisional.

Kritik-kritik tajam pada pemerintah dan popularitasnya yang terus meningkat adalah ancaman bagi rezim Soeharto. Perilaku koruptif rezim jelas dia benci. Kebencian itulah yang membuat dia mati muda di usia 42 tahun. Kematiannya yang tiba-tiba banyak mengejutkan banyak orang, terutama kalangan kaum muda yang selalu setia mengidolakannya. Kejadian ini terjadi setahun setelah pemecatan Subchan dari NU.

Hingga saat ini kematiannya masih menjadi misteri. Karena saat itu Subchan berencana melakukan pertikaian politik terhadap rezim Soeharto setelah pulang dari Mekkah. Beberapa sumber mengatakan, kematiannya tak luput dari “campur tangan” CIA yang berada dibalik suksesi Orde Baru.

Sebelum kematiannya, dia memberikan wawancara eksklusif koresponden AFP, Brian May, tentang jaringan bisnis Soeharto yang ada di Singapura, Belanda, dan AS.

Kecelakaan yang merenggut nyawa Subchan cukup janggal karena supir mobil justru lolos hanya dengan luka-luka ringan. Usai kematiannya, referensi tertulis, biografi dan kisah tentang Subchan Z.E dihilangkan perlahan dari sejarah. Namun, namanya masih sempat diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Kudus, Jawa Tengah.

Kisah hidup Subchan ZE menandakan bahwa semangat pemuda selalu kebal terhadap impunitas, pembunuhan karakter, dan bahkan upaya penghilangan paksa dari sejarah.

Kisah tentang pemuda kelahiran Kepanjen, Malang Jawa Timur, yang besar dan tumbuh di Kudus ini, tidak banyak dikisahkan dalam ruang publik. Seolah, nama Subhan Z.E hanya menjadi penghias dari gerakan politik NU pada masa transisi kekuasaan, dari Soekarno ke Soeharto.

Kisah Subhan Z.E memang unik. Ia berada di garda depan dalam gerakan politik menjelang 1965, akan tetapi tersingkir dari panggung republik ketika Soeharto tampil sebagai presiden. Subhan tidak sejalan dengan visi politik Orde Baru. Dalam dinamika sejarah, NU pernah mengalami masa rumit, terutama pada transisi Orde Lama menuju Orde Baru. 

Ketika itu, Subhan Z.E menggalang kekuatan untuk menurunkan presiden Soekarno dan membubarkan Partai Komunis Indonesia. Pihak Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) mendukung penuh langkah Subhan, yang menggerakkan pemuda dan massa dalam komando KAP-Gestapu. Kalangan militer dan NU menjalin hubungan mesra, karena kepentingan yang sama. Namun, ironisnya hubungan manis antara militer dan NU berubah menjadi ketegangan politik, ketika Subhan Z.E justru sering mengkritik Jenderal Soeharto, yang menjadi presiden menggantikan Soekarno. 

Figur Subhan Z.E sebagai representasi gerakan NU, menjadikan organisasi ini terkena dampaknya. Ketika pemerintah Orde Baru berusaha membatasi ruang gerak politik Subhan, NU juga terkena dampaknya. Betapapun, Subhan ZE berjasa besar dalam menggiring isu strategis serta bermain sebagai figur utama pada masa krusial dalam sejarah negeri ini. Subhan menjadi jaminan dari gerak politik pemuda, pada masa itu. Meski, jika dibaca pada konteks zaman sekarang, langkah Subhan tidak bisa menjadi stempel dari gerakan NU pada masa 1965, terutama sikapnya terhadap gerakan komunis dan PKI. Beberapa kiai NU, juga tidak serta merta mendukung langkah frontal yang dilakukan Subhan.  

Karir Subhan Z.E di Nahdlatul Ulama, bermula ketika ia memimpin Lembaga Pendidikan Maarif Cabang Semarang, pada 1953. Sejak itu, nama Subhan Z.E melesat cepat menjadi bintang gemerlap yang disukai anak-anak muda NU, juga disegani aktifis muda dari organisasi lain. Pada saat Kongres NU di Medan pada 1956, Subhan diangkat menjadi Ketua Departemen Ekonomi PBNU. 

Kemudian, pada 1962, ketika NU menyelenggarakan Kongres di Solo, ia menjadi Ketua IV PBNU. Pada rentang waktu itulah, menjadi masa keemasan Subhan Z.E di pentas politik dan ormas negeri ini. Subhan Z.E menjadi idola baru bagi pemuda-pemuda ketika negeri ini sedang mencari referensi, mencari panutan dalam gerakan kepemudaan.

Kisah-kisah Subhan Z.E masih banyak yang tersimpan dalam laci sejarah bangsa ini. Meski telah ada beberapa buku yang mengulas, tapi sejarah hidup dan pemikiran Subhan Z.E masih menjadi misteri. Sudah saatnya, ingatan pada Subhan Z.E dibongkar, disegarkan kembali sebagai referensi politik pemuda dan santri masa kini. Tentu, dengan konteks zaman dan arah politik yang berbeda, namun dengan visi dan integritas yang sama: menjaga bangsa, menjaga marwah gerakan kita.