Baru saya ketahui dari Muslimoderat.net bahwa salah satu ketua umum MUI di masa Pak Harto, yakni K.H. Hasan Basri (konon ini dimuat di surat kabar harian Terbit tahun 1983) mengatakan, “Tidak ada anak keturunan Rasulullah di Indonesia bahkan di dunia karena sudah dinyatakan terputus dikarenakan tidak adanya lagi keturunan Hasan dan Husein.”

Terang saja pernyataan ini membuat para ulama khususnya para Habaib tidak menerimanya. Al-Habib Muhammad Al-Habsyi Kwitang, yang pada waktu itu dalam keadaan sakit, meminta kepada Habib Nauval bin Jindan untuk tampil membela kehormatan anak cucu Rasulullah saw. Dan peristiwa tersebut boleh dikatakan peristiwa terdahsyat atas fitnah yang ditujukan kepada para Habaib, sampai memakan waktu lebih dari dua tahun peristiwa tersebut masih hangat diperbincangkan. Sampai-sampai sebuah majalah mengeluarkan berita di sampul utamanya dengan judul “APA JASAMU HAI PARA HABIB”.

Habib Nauval dari satu mimbar ke mimbar lainnya menyeru kepada para ulama, “Hai kalian para ulama, bangkit kalian jangan mau diperalat oleh siapapun. Kami para habaib tidak butuh pengakuan. Tapi kalau kalian hanya diam atas fitnahan terhadap kami, sesungguhnya kalianlah yang paling rugi serugi-ruginya.”

Sedangkan Gus Dur, yang menyempatkan hadir di Pondok Pesantren al-Fachriyah di Cileduk sekitar tahun 1984, di antara pidato yang disampaikan adalah, “Hanya orang bodoh yang mengatakan batu permata dibilang batu koral. Dan yang paling bodoh batu permata kok dihargakan batu kerikil. Mereka para cucunya Rasulullah SAW datang ke negeri ini merupakan karunia Tuhan yang terbesar. Dan hanya orang-orang yang kufur nikmat kalau tidak mau mensyukurinya.”

Kedatangan beliau memberi dukungan kepada al-Habib Nauval bin Salim bin Jindan yang sedang menentang pimpinan MUI waktu itu, yakni KH. Hasan Basri, yang tidak mengakui adanya keturunan Nabi Saw. Peristiwa tersebut merupakan hal yang sulit dilupakan.

Akhmad Musta’in: Mungkin di seluruh dunia hanya NU satu-satunya organisasi massa yang mengajarkan bahwa mencintai ahli bait atau dzuriyah (keturunan) Kanjeng Nabi SAW itu bagian dari ajaran Islam (tulisan tentang posisi istimewa Habaib dalam perspektif NU bisa dibaca di postingan Dr. Mahmud Suyuti I serial Habaib). Penghormatan dan kecintaan Nahdliyin kepada mereka mengejawantah dalam tradisi keagamaan yang menjadi ciri kultural dan ideologis NU, yakni Maulid Nabi dan Salawatan. Oleh karena itu, sudah sepantasnya apabila para Habaib berkiprah dan berkhidmah kepada umat, bangsa dan negara melalui jam’iyah NU sebagaimana saat ini dicontohkan Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya (Pekalongan), Habib Umar bin Ahmad Muthahar (Semarang), dan Habib Abd. Rahim bin Djamaluddin Assegaf atau Puang Makka (Makassar).

Sangat disayangkan beberapa Habaib yang (mungkin karena usia mereka masih muda tapi sudah memiliki pengikut/jamaah yang banyak) meremehkan NU dan kiai-kiainya, bahkan terkadang “menyerang” NU. Memaki-maki atau menggunakan ujaran kebencian terhadap kiai-kiai NU di hadapan jamaahnya. Kata Puang Makka (Sayid Abd. Rahim bin Djamaluddin Assegaf / Ahsan Assegaf), kita dilarang berguru kepada Habaib model begitu karena ilmu yang didapat dari mereka tidak akan memberikan kemanfaatan baik di dunia maupun di akhirat( Na udzubillah Min dzaalik).

Allahumma shalli ‘ala Sayidina Muhammadin wa ‘ala ali Sayidina Muhammad.