Oleh: Nuruddin

Lho yang dibakar kan bendera tauhid bukan bendera HTI, kata mereka yang setuju HTI atau mantan HTI. Pada kalimat ini, silahkan merujuk pernyataan resmi Menkopolhukam sebagai pernyataan resmi negara. Bahwa yang dibakar oleh oknum berseragam Banser adalah bendera HTI yang sengaja dikibarkan dibeberapa tempat pelaksanaan HSN. Jadi kejadian pengibaran bendera oleh oknum pembawa bendera HTI memang sengaja dilakukan untuk memancing emosi dan memperkeruh suasana berbangsa dan bernegara. Sampai disini, jelas sudah motif pembawa pesan via bendera HTI.

Lha kok dibakar trus ada yang nyanyi nyanyi? Ini era digital bung. Lihat dari kronologi kemunculan pembawa bendera pada acara tersebut. Masalah vidio dan foto, terkadang lebih panas vidionya ketimbang aslinya. Maksud saya begini bro, biasakan menggunakan akal sehat, dengan tabayyun mencari sumber yang valid sebelum komentar atau menshare sebuah informasi.

Inilah yang dahulu diucapkan Soekarno, “Perjuanganku melawan penjajah yang jelas bukan asli penduduk Indonesia, tapi anakku, perjuangan kalian lebih berat, karena yang kau hadapi adalah bangsamu sendiri”. Ya, kita hari ini, sedang menghadapi saudara sebangsa yang teracuni oleh idiologi HTI.

Betapapun dalil dihadirkan dan fakta dipaparkan, mereka tetap berdalih bahwa itu bendera tauhid. Kendatipun jika ditanya “kapan munculnya istilah bendera tauhid? Mereka juga tidak tahu. Lantas apa saya harus bilang bahwa yang membakar bendera HTI bukan oknum Banser, tapi yang membakar adalah api?

Misalnya mereka berdalih, HTI kan sudah dibubarkan, kok masih ditakuti? Stop!. Kita tidak takut pada HTI, tapi kita sedang beretika dan memberi pelajaran akhlaq bahwa sebagai bangsa Indonesia yang tinggal menikmati perjuangan para pendahulu bangsa, tak layak berdalih dengan muter-muter ngeles kayak belut masuk oli. Tenangkan pikiran anda, masih ingat saat HTI bilang bahwa Pancasila adalah Thoghut dan hormat bendera hukumnya haram? Pada kasus ini, dasar negara yang sebegitu jelas, oleh HTI dilecehkan secara terang-terangan.

Ada pula yang bilang, Lho yang dibakarkan bukan bendera HTI, tapi bendera Islam, kata mereka yang punya persepsi membela Islam. Please deh! Jangan merasa paling Islam sendiri. Jika perkara simbol saja yang kita urusi, justru simbol itulah yang nanti menjadikan pertumpahan darah di negara tercinta ini. Saya tidak membayangkan jika sedikit-sedikit simbolis formalis, bagaimana tulisan “Laa ilaaha illallah, Muhammadurrosulullah,” yang ada diuang negara Saudi Arabia, coba mikir bagaimana saat uang-uang bertuliskan lafal suci itu, lusuh, robek, dan oleh negara ditarik kembali, dihancurkan dengan dibakar dan abunya didiamkan untuk dicetak menjadi uang baru dalam waktu satu tahun kemudian. Apakah kita akan bilang bahwa uang tauhid dihina oleh lembaga negara Saudi Arabia? Ingat, hal tersebut sudah terjadi dari kemarin-kemarin. Toh selama ini tak satupun fatwa negara ulama’ manapun yang menyikapi kejadian tersebut sebagai perbuatan menghina Islam.

Mari berpikir jernih, jangan memperkeruh suasana dengan sok-sok an nantang untuk jadi pahlawan dengan memakai topi bertuliskan laa ilaaha illallah lantas nyetatus di medsos, berharap ada Banser yang ngambil topi gue. Kui damen jenenge. Kita kembalikan konteks berbangsa. Ingat bro, saat kami tahlilan engkau membid’ahkan, saat para ulama’ pengamal tauhid dibunuh para teroris di Syuriah yang bersembunyi dibalik bendera tauhid, engkau juga tak teriak apa pun?

Apa sih yang diinginkan mereka pada kejadian pembakaran bendera HTI ini? Mereka sedang melakukan manuver tingkat tinggi. Kenapa yang ditembak adalah NU, bukan Banser. Kok bisa? Inilah manuver tingkat tinggi bias politik kepentingan. Mereka ingin NU ngamuk. Karena kalau NU ngamuk, hilang sudah penjaga NKRI. Kalau hilang penjaga NKRI, maka menghancurkan NKRI lebih mudah. Pelajari kejadian Arab Spring, Suriah, Iraq, Palestina, Libya, Tunisia, semua pola yang dimainkan hampir sama. Masyarakat dijauhkan dari Ulama’, ketidak yakinan pada negara dimunculkan. Akhirnya isu apa pun digoreng dengan bumbu sedap “prasangka” dan sok-sok an sekedar numpang mgartis.

Syekh Ramadhan Al Buthi ulama’Aswaja dari Syiria, bahwa untuk menghancurkan sebuah negara, hanya butuh dua isu, pertama mainkan isu tidak percaya kepada pemerintah yang sah. Kedua, mainkan isu agama. Sama halnya yang disampaikan Syekh Zaini Dahlan yang merupakan guru Mbah Hasyim Asy’ari, bahwa untuk menghancurkan sebuah negara, hanya butuh dua isu saja, pertama munculkan ketidak percayaan dengan pemerintah, kedua, mainkan isu agama.

Jelaslah bahwa bidikannya bukan Banser saja. Kalau tidak percaya, coba dinalar, kalau yang dipermasalahkan adalah Banser, apakah pernyataan Banser menjawab hiruk pikuk gorengan media sosial oleh mereka? tidak kan?

Umpama Banser meminta maaf sebagai kekhilafan, apa yang dilakukan mereka?mereka akan beramai-ramai mengatakan, “lha, iya tho, ngaku salah kan? kalau salah ya dihukum, maaf diberikan, hukum tetap jalan, semua pasal sudah disiapkan. Akhirnya desakan pembubaran Banser mereka lakukan. Setelah itu, Jika Banomnya salah, Induknya juga salah. Sampai disini, masihkah kita berfikir ini adalah mainan tanpa sengaja? Masihkah bergaya sok-sok an dan mengintimidasi Banser.

Mereka tahu bahwa Banser jumlahnya 9 kali lipat jumlah TNI Polri. Mereka juga tahu bahwa menabrak benteng terbesar resikonya hancur atau makmur. Minimal jika hancur mereka akan berteriak sebagai makhluk terdholimi. Kamuflase mereka memang bagus, Sandiwara mereka juga profesional, tapi mereka lupa bahwa kita bukan sumbu pendek yang gampang tersulut. Kita juga bukan penthol korek yang punya kepala tapi tak berakal dan sekali gesek langsung nyala. Kita adalah Indonesia.
#KitaIndonesia
#BhinekaTunggalIka
#KamuflaseTingkatTinggi