NU sebagai organisasi dinamis akan selalu melakukan sistem pengkaderan sebagai tongkat estafet penyiapan kader. Disisi lain, kita juga akan mengalami kesulitan dalam melakukan gerakan riil jika generasi muda NU sendiri tidak memahami pemikiran, ajaran, kearifan, filosofi NU secara epistemologis.

Jika pemahaman tersebut tidak dimiliki generasi muda NU, maka NU tidak lebih dari sekedar label. Jadi tidak perlu heran kalau ada NU rasa Wahabi, NU rasa HTI, NU rasa PKS, NU rasa FPI dll. Jika NU adalah proses pelembagaan kearifan Islam Indonesia yang mengakomodir otentisitas sekaligus lokalitas maka NU berbagai rasa itu bukan lagi NU.

Melestarikan paham NU sama dengan menjaga keutuhan NKRI”. Menjadi Nahdliyin itu tidak mudah. Jangan kira kalau anda tahlilan, maulidan, manaqiban, shalawatan, ziarah dan lain-lain anda sudah menjadi NU. Maka itu, para ulama NU menambahkan kata an-Nahdliyah setelah ahlussunah wal jama’ah. Ini untuk membedakan Aswaja NU dengan Aswaja banyak rasa yang dikatakan di atas.

Pengertian Aswaja An-Nahdliyah tidak hanya mencakup aspek normatif-teologis, yaitu mengikuti salah satu dari mazhab 4 dalam fiqh, Al-Asy’ari dan Al-Maturidi dalam akidah, dan Syekh Junaid al Baghdadi dan Al Ghazali dalam tasawuf; tapi juga meliputi sikap hidup (ideologi) yang terangkum dalam sikap tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang, proporsional) serta Ta’adul(berkeadilan). Empat prinsip ini menjadi landasan NU dalam menyikapi berbagai persoalan: kebangsaan, politik, sosial, ekonomi, budaya. Dalam politik, garis politik NU adalah politik kebangsaan.

Hadrotussyekh Hasyim Asy’ari menegaskan, nasionalisme dan agama tak bisa dipisahkan, keduanya saling menguatkan. Agama saja tanpa nasionalisme tak bisa menyatukan bangsa, sementara nasionalisme tanpa agama akan kering nilai-nilai” demikian yang sering disampaikan oleh KH. Said Aqil Siradj, ketum PBNU. Inilah sikap tawazun (seimbang) NU dalam politik. Sikap ini bukan tanpa resiko. Risikonya NU difitnah dengan berbagai macam tuduhan yang memanaskan telinga.

Ingat, tahun 1965 ketika NU memutuskan bergabung dengan koalisi NASAKOM, tujuannya adalah untuk mengimbangi kekuatan PKI di pemerintahan, KH. Wahab Hasbullah dinyinyiri oleh Masyumi. Beliau difitnah sebagai antek PKI, gila jabatan, gila uang, dan tuduhan-tuduhan keji lainnya. Bahkan seorang tokoh Masyumi dengan penuh kebencian berkata, “jika kepala Kyai Wahab dibelah, maka isinya adalah palu arit”. Apa reaksi Kyai Wahab? Cuek.

Mungkin Mbah Wahab dalam kesendiriannya berkata, “biarlah sejarah yang akan membuktikan”. Dan sejarah memang telah membuktikannya, bahwa tindakan Mbah Wahab benar. Kebalikannya, Masyumi yang dibubarkan oleh Sukarno. Kondisi saat ini agak-agak mirip dengan tahun 65-an. Tokoh-tokoh NU difitnah, di bully di medsos, dan terang-terangan di caci maki. Kyai Said disebut menjual NU demi 1,5 Triliun demi mendukung PerPU NO 2 Tahun 2017 tentang Ormas, padahal bantuan 1,5 Triliun itu untuk usaha mikro berkembang dan Muhammadiyah belakangan juga dapat.

Boleh jadi sejarah pun akan berulang, tentang siapa yang akan dibubarkan. Politik kebangsaan yang diusung oleh NU juga menegaskan bahwa NU menolak ideologi khilafah dan turunannya, semacam NKRI bersyari’ah yang diperjuangkan oleh FPI dan kawan-kawannya. NU menolak dakwah dengan cara-cara radikal (radikal ucapan dan tindakan) dan revolusioner, karena berpotensi mengancam keutuhan bangsa. Cara-cara demikian berpotensi menimbulkan perpecahan bangsa, karena pasti akan mendapat perlawanan dari kelompok nasionalis dan non muslim. Kaidah fiqh-nya, “menolak kehancuran lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan”.

Alhasil, jadilah NU kaffah. Jangan NU setengah. Setengah Wahabi, setengah HTI, setengah PKS, apalagi setengah gila. Caranya dengan memahami dan mempelajari sejarah NU, Aswaja An-Nahdliyah, Nilai Dasar dan Perjuangan NU, Ideologi NU, Garis Politik dan Kebijakan NU, serta profil dan kiprah Kyai-Kyai dan tokoh-tokoh NU yang telah membesarkan NU tanpa pamrih.

Jangan kaget juga, jika banyak yang mengatakan “Tidak usah NU-NU- an, yang penting ahlussunnah wal jama’ah. Ingatlah dengan kehancuran Raja Syarif Husain, penguasa Makkah-Madinah yang beraqidah Ahlussunnah Waljamaah, dengan mudah dihancurkan oleh kaum Wahabi yang didukung Inggris, karena Islam Ahlussunah Waljamaah pada saat itu tidak sempat dibuatkan Nidzhom (wadah) atau organisasi untuk memperkuat dan menjaga aqidah Aswaja. “Sedikit-sedikit mereka katakan yang penting Islam. Ya kalau disini sejajar dengan kalimat”Yang penting ahlussunah waljamaah”. Tidak perlu NU-NU an”. Jika kita sadar, Maka, ungkapan demikian itu adalah upaya-upaya musuh Islam untuk menghancurkan organisasi NU sekaligus untuk memperlemah aqidah Islam Ahlussunah Waljamaah yang dianut mayoritas muslim Indonesia. Dan dalam jangka panjang, kelompok ini menargetkan untuk menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sudah terbukti, melalui berbagai ajaran-ajaran para ulama NU, bangsa kita bisa menjalin hubungan yang harmonis antara Islam dan negara.

Bisa saling menopang dan memperkuat. Alhamdulillah di negara ini, kita masih bisa beribadah dengan aman dan nyaman. Jauh berbeda dengan di negara muslim di belahan dunia lain, tiap hari sesama muslim saling bunuh, perang dan terlibat konflik berkepanjangan. Itulah buah perjuangan para ulama kita yang tergabung dalam wadah Nahdlatul Ulama.

Andai saja ngopeni pondok, madrasah, ngaji dan mulang santri, Jama’ah sholat, Tahlil dan Istighosah sudah disebut sebagai barometer ber Aswaja. Maka saya yakin, Hadrotus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari tidak akan mendirikan organisasi yang diberi nama Nahdlatul Ulama’. Kalau dihitung ngajinya beliau, jama’ahnya beliau, amaliyah beliau, mulang santri yang beliau lakoni, bahkan tirakat yang beliau jalani, kita pasti kalah jauh dan ndak layak dibandingkan. Toh beliau Hadrotus Syekh K.H.Hasyim Asy’ari masih ngopeni NU. Lha kok kita wani-wani ngomong gak usah NU-NU an, emang sudah ngrasa lebih TOP dari Mbah Hasyim? Kiranya teladan para Kyai NU perlu kita gali untuk menjadi teladan dalam kehidupan karena para Kyai adalah al ulama’ yang menjadi pewaris para nabi.(Din)