Pernah pada suatu masa,Rosulullah berdiri di saat rombongan pengusung jenazah lewat, dan para sahabat memberitahukan jenazah siapa yang lewat dengan kalimat” wahai Rosulullah,mengapa engkau berdiri menghormati jenazah Yahudi yang lewat?, Rosulullah balik bertanya yang sekaligus menjawab statemen para sahabat ” bukan kah si Mayit adalah Manusia?”. Dari kejadian ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa dalam memberikan penghormatan, kita tidak harus berstandar pada aqidah orang yang kita hormati, tapi cukup pada meletakkan posisi sesama manusia layak dan cukup untuk memberikan penghormatan.

Maraknya penggunaan terminologi kafir yang digembar-gemborkan kelompok Islam garis keras yang membawa jargon kembali kepada al-qur’an dan al-hadist, perlu menjadi telaah serius. Supaya tidak menjadi justifikasi dikalangan masyarakat bahwa setiap yang beda faham dan beda pendapat dalam hal sikap dan amaliyah selalu diteriaki”KAFIR”. 

Perlu menata ulang pemikiran dan membuka literatur yang lebih banyak untuk memberikan justifikasi apakah dan siapakah kafir sebenarnya dan apakah kafir berhak untuk di perangi. Mari kita telisik lebih dalam lagi kategorisasi kafir yang ada di Indonesia ini,

1. Kafir Mu’ahad atau Mu’ahid yaitu kafir (non muslim) yang telah mengikat perjanjian damai atau tidak perang/menghentikan perang dengan Islam. Golongan ini tidak boleh diperangi, selama mereka tidak merusak/mengingkari perjanjian tersebut. Masuk kategorisasi Mu’ahad juga adalah mereka yang melakukan gencatan senjata.

2.Kafir Musta’man atau Mu’amman yaitu kafir (non muslim) yang minta perlindungan (suaka) kepada kita.Mereka tidak boleh diperangi dan bahkan wajib dilindungi.
3.Kafir Dzimmy atau biasa disebut Ahluddzimmah yaitu kafir (non muslim)yang telah mendapat izin untuk hidup dinegeri Islam dengan kompensasi bersedia membayar “Jizyah” atau semacam pajak. Mereka wajib juga dilindungi dan tidak boleh diganggu.
4.Kafir Harby yaitu kafir yang memang memusuhi atau memerangi Islam. Hanya golongan inilah yang boleh bahkan wajib diperangi.
BAGAIMANA DI INDONESIA?
Kita bisa menarik kesimpulan,bahwa dinegeri kita Indonesia ini, tidak ada golongan kafir (non muslim) yang boleh kita perangi. Terkecuali ada kelompok “kafir yang sengaja memerangi dan memusuhi Islam seperti kejadian pemberontakan PKI 1965″. Oleh karenanya penyematan label kafir jelas tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rosulullah SAW. Trus jika kanjeng Nabi Muhammad tidak melakukan pelebelan segampang itu, trus siapa yang diikuti oleh kelompok yang suka mengkafirkan orang yang tidak sepaham? Bukankah nanti di hari akhir kita tidak ditanya” seberapa banyak orang yang kamu kafirkan? Tapi seberapa banyak manfaat yang kita berikan?”.

Perlu kita buka fakta sejarah, bahwa empat terminologi kafir  di atas tidak kita temui dalam sejarah Rosulullah ketika masih berada di Makkah, dan justru Rosulullah mengutus para sahabat untuk hijrahbke Habasyah yang nota bene adalah wilayah kafir.