Donorejo,Sebuah desa di pinggiran Pacitan yang menyimpan cerita mengagumkan dari sosok seorang visioner bernama si Mbah Umar. Beliau yang bernama lengkap Mbah Umar Syahid merupakan sosok visioner yang selalu berpesan agar saling menghargai dan menjaga persatuan. Salah satu kalimat yang beliau ucapkan kepada seorang santrinya adalah” yen Asu sing kewan wae kudu di kasihi,opo maneh sesama manusia?”. Kalimat singkat yang jika dimaknai dan dikaji mengandung falsafah yang dalam. Betapa si mbah Umar dengan sudut pandang yang komprehensif mampu menyederhanakan perintah menjaga persatuan dalam bingkai kebhinekaan.

Indikator Visioner si Mbah dapat kita temukan jika kita membedah apa yang melandasi beliau mewakafkan sebidang tanah untuk didirikan SMKN 1 Donorejo. Pertama, jika kita lihat geografis Donorejo yang berada di pelosok pegunungan, alasan didirikannya SMKN ini pasti si Mbah kepingin masyarakat Donorejo dapat menikmati pendidikan tingkat atas dan mempunyai ketrampilan setelah selesai sekolah, sehingga andaikan para siswa tidak dapat melanjutkan pada jenjang lebih tinggi, minimal para siswa sudah memiliki ketrampilan. Kedua, Donorejo yang berada di jalur antar kota antar provinsi yakni jalur pacitan Wonogiri dan Solo, memproyeksikan wilayah yang akan menjadi jalur ramai untuk transportasi dan industri, disini si Mbah Umar mampu membaca jauh ke depan dengan mempersiapkan SDM masyarakat melalui pendirian SMKN 1. Sehingga masyakat mampu mewarnai pembangunan dan tidak gagap pada perubahan zaman. Ketiga, pemilihan SMKN dengan status Wakaf dari Mbah Umar,menunjukkan bahwa kecintaan beliau kepada NKRI tidak ada duanya. Karena beliau seorang sosok kyai yang lazimnya mewakafkan hartanya untuk swasta atau yayasan. Tapi beliau si Mbah Umar justru mewakafkan tanahnya untuk Negara yang kebetulan nama Dono berarti Dana  sedangkan Rejo artinya ramai, sehingga Donorejo juga bermakna mbandani tempat agar rejo(ramai), dan ini sudah dilakukan si mbah Umar.

Dari hal di atas,secara tersurat dan tersirat betapa keikhlasan beliau si Mbah Umar dalam menjalani hidup. Disisi lain beliau juga sangat visioner dalam memberikan teladan kepada masyarakat. Satu pesan beliau yang sering diucap adalah”jaga persatuan, kerukunan dalam keadaan bagaimana pun dan kapan pun. Tak lupa beliau juga selalu berpesan bahwa NU harus bersatu dan menjadi pemimpin peradaban.
Pada tahun 1992 si Mbah Umar setelah tiga bulan pulang dari menunaikan ibadah haji, beliau bermaksud membangun menara masjid di depan rumah beliau yang saat itu menjadi pertanyaan warga sekitar. Selang 3 tahun, beliau mewakafkan tanah untuk NU. Beliau berkeinginan dilokasi tersebut dibangun menara NU yang merupakan simbol bagi kejayaan NU yang berada diatas mercusuar nan tinggi dengan ditopang bangunan kokoh dibawahnya, ibarat sebuah mercusuar yang terlihat dari laut, misalkan ada orang yang akan menghancurkan NU dengan menabrak mercusuar, maka orang tersebnut justru akan menabrak bangunan penyangga mercusuar tersebut dan selamatlah NU, begitu maksud beliau mendirikan menara ini sebagaimana cerita yang dipaparkan oleh ketua PCNU Pacitan bapak Kyai Mahmud dalam menyambut para peziarah dari PCNU se Jawa Timur pada Minggu 08 Januari 2017. 

Disisi lain hal yang beliau ajarkan pada kita adalah, tradisi menjamu tamu sembari mengatakan”jangan pulang sebelum makan yang banyak disini”. Beliau secara tak langsung mensuratkan bagaimana menghormati tamu dan menghormati sesama.