Teringat sambutan rektor IAIN pak Dr. Maftukhin Rasmani Tulungagung saat membuka kegiatan sarasehan yang diselenggarakan LP2M IAIN Tulungagung dengan narasumber Prof. Dr. Nadirsyah Hosen, P.hD, dosen senior Monash University Australia dan sekaligus Rois Syuriah PCINU Australia dan New Zeland pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018.

Dalam sambutannya pak rektor menyampaikan, hari ini marak ilmuan atau mahasiswa yang ilmunya hanya sepotong, bukan karrna kuliahnya tifak selesai, tapi karena hilangnya kebiasaan membaca, mengkaji, dan meneliti secara utuh dari sebuah pengetahuan telah mengalami kemerosotan yang drastis dikalangan kaum intelektual. Akhirnya terjadilah pinternya juga setengah-setengah.

Jika dahulu membaca satu buku sebelum tamat tidak akan berganti buku, sekarang yang dibaca hanya potongan berita, potongan jurnal, potongan makalah sehingga tidak tuntas dalam membaca sebuah fenomena. Celakanya lagi, dari sepotong-potong bacaan tadi, diharapkan faham dan mengerti apa saja. Akhirnya diambillah jalan pintas searching via mesin pencarian di google, dan ujung-ujungnya membingungkan pemirsa yang menunggu jawaban.

Itulah gambaran seorang yang malas untuk membaca, baik membaca literatir atau membaca situasi dan kondisi secara utuh. Tidak sadar bahwa zaman berubah. Mereka cenderung menyalahkan apa yang tidak sepaham dan sependapat dengan mereka tanpa melakukan kajian dan tabayyun sebagai ikhtiyar akademis, mereka lebih sering ngomong ketimbang berfikir tentang apa yang diomongkan, sehingga out put dari omongannya tidak membingungkan jama’ah.

Menarik membincang apa yang disampaikan pak rektor IAIN Tulungagung tersebut, budaya adalah kebiasaan yang dilakukan karena tradisi yang juga berulang-ulang. Membudayakan membaca secara utuh, menjadi modal siapa pun untuk memiliki cara pandang yang luas dan fleksibel. Sementara membaca sepotong pengetahuan, justru membuat sikap kita bias. Disatu sisi, kita merasa tahu, walaupun sepotong, tapi disisi lainnya orang yang faham akan menertawai kita karena kedangkalan berfikir dan menganalisa.

Jika dahulu para ilmuan muslim seperti Imam Nawawi al Kabir yang memiliki karya sampai 700 kitab dengan jumlah halaman yang lumayan tebal, dan beliau wafat pada usia 40 tahun dan masih jomblo pula, kita bisa membayangkan betapa seluruh usia beliau, didedikasikan untuk membaca, mengkaji dan menulis dalam karya-karya beliau yang jumlahnya sampai 700 san kitab.

Melihat karya yang monumental dengan fakta, sampai sekarang masih dipakai referensi diseluruh dunia khususnya umat Islam, maka bisa disimpulkan bahwa apa yang beliau tulis bukan sekedar barisan kata tanpa makna, tapi yang beliau tulis adalah gagasan yang bersumber dari bacaan yang diendapkan dalam hati, difikirkan diotak dan kembali diendapkan dalam hati yang dalam dengan proses riyadhoh dan perenungan yang mendalam, sehingga yang keluar menjadi tulisan, benar-benar gagasan brilliant.

Sebuah keberanian ketika hanya pengetahuan sepotong lantas dakwah dengan menenteng kalimat “sampaikan dariku walau satu ayat”. Memang yang disampaikan satu ayat, tapi kriteria penyampai harus jelas. Maksudnya, kalau maqomnya masih belajar, ya jangan sok-sok an jadi penyampai (da’i), belajarlah dahulu. Ya kalau belajar, carilah guru yang bisa diajak bertemu satu majlis, karena bertemu satu majlis ini tidak bisa digantikan vidio call. Apalagi hanya berguru melalui tutorial youtube, tidak termasuk kategori bertemu guru namanya.

Problem kita hari ini adalah, tidak tuntas membaca sebuah pengetahuan entah pengetahuan literasi atau pengetahuan fenomenal. Akhirnya kita tidak bisa menyelesaikan dengan menyerap seluruh pengetahuan menjadi tambahan referensi yang mampu memunculkan gagasan baru yang membawa perubahan. Karena pengetahuan sepotong-potong inilah, akhirnya manusia euforis dan kagetan, jumlahnya bertambah banyak, dan endingnya adalah menimbulkan masalah baru.

Sepotong pengetahuan jika dikumpulkan dengan telaten dan berlanjut, akan menjadi khazanah pengetahuan yang utuh, hanya butuh kesabaran kapan potongan pengetahuan ini bisa dirangkai menjadi pengetahuan yang komplit. Sedemikian pula dengan potongan kejadian, jika puzle kejadian tersebut dapat dirangkaikan, maka rangkaian kronologi akan ditemukan.

Jika hari ini yang ramai adalah Banser membakar Bendera HTI, maka yang dilakukan adalah, membaca berita dari kedua sumber yang pro dan kontra, lanjutkan melakukan check dengan mencari sumber utama yang mengetahui dan faham kejadian di lapangan, lanjutkan mendengarkan pendapat alat negara dalam hal ini kepolisian dan menkopolhukam karena skala kasus Nasional, lanjutkan dengan diskusi dan mereduksi semuanya dalam hati dan pikiran kita.

Ingat! tetap waras diera media sosial. Bagi yang punya media sosial, gunakan untuk melawan hoaks, jangan samapai kelompok kecil perusak persatuan mengobrak-abrik suasana keharmonisan bangsa. Kita mayoritas, harusnya suara kita lebih menggetarkan jiwa dibanding suara minoritas. Jangan samapai kita membiarka mereka yang melakukan kesalahan tanpa kita tegus dan ingatkan, karena kesalahan yang selalu diulang-ulang secara berkelanjutan, pada masanya akan dianggap sebagai kebenaran yang disakralkan.
#KitaAdalahSamaIndonesia
#BhinekaTunggalIka