Ahad 28 Oktober 2018 bertempat di Stadion Gelora Delta Sidoarjo Jawa Timur ratusan ribu warga NU dari seluruh Jawa Timur membanjiri stadion dan sekitarnya untuk mengikuti Istighotsah Akbar yang diselenggarakan oleh PWNU Jawa Timur dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional yang bertepatan dengan hari sumpah pemuda.

Hadir dalam acara tersebut, para Masyayikh, Kyai NU, Habaib Ahlussunnah wal Jama’ah, Gubermur Jawa Timur, para kepala daerah di Jawa Timur, dan para menteri kabinet pimpinan Presiden Joko Widodo seperti menteri Pertanian, menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri pemuda dan olah raga, menteri riset teknologi dan pendidikan Tinggi dan juga hadir Wakil MPR Muhaimin Iskandar yang didaulat sebagai pembaca ikrar santri .

Sesuai jadwal yang disampaikan panitia, acara Istighosah dimulai pukul 06:00 WIB dengan upacara pembukaan dan dilanjutkan pelaksanaan Istighotsah yang dipimpin oleh para Masyayikh NU dan diikuti secara khidmad oleh seluruh warga NU yang hadir memadati seluruh bagian dalam stadion dan halamam luar stadion Gelora Delta Sidoarjo.

Sebagaimana menjadi maklum bagi warga NU, bahwa amaliyah Istighosah adalah upaya warga NU untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT setelah melaksanakan usaha dan upaya, karena dibalik segala yang mampu dilakukan makhluk, ada tempat meminta pertolongan yakni Allah SWT tuhan semesta alam.

Adapun pertolongan dari Allah SWT yang diminta dalam Istighotsah Akbar hari ini adalah keutuhan dan keselamatan bangsa Indonesia dari segala bencana yang mengancam baik gerakan separatisme yang mengancam keutuhan NKRI, gerakan terorisme yang mengancam nyawa dan keberlangsungan keamanan bangsa dan agama, serta permohonan diselamatkan dari bencana alam yang melanda bangsa Indonesia. Jadi Istighotsah bagi warga NU adalah amaliyah untuk sambat kepada Allah SWT bukan sekedar Show a Force atau unjuk kekuatan menggerahkan masa dan turun jalan mengkibas-kibaskan bendera.

Setelah Istigotsah selesai, tampil sebagai pemberi orasi kebangsaan dua tokoh NU berpengaruh yakni Kyai Marzuki Mustamar yang juga menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur dan tausiyah Kebangsaan disampaikan oleh Prof. Dr. K.H Ma’ruf Amin selaku Musytasyar PBNU.

Dalam orasinya Kyai Marzuki Mustamar menyampaikan bahwa negara Indonesia adalah negara warisan para ulama’ pejuang perlawanan melawan penjajah sejak zaman Pati Unus, Diponegoro, sampai pimpinan Hizbullah yang langsung dipanglimai oleh Hadrotussyekh Mohammad Hasyim Asy’ari yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya perlawanan melawan sekutu yang datang kembali dipimpin Inggris dengan keluarnya fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang isinya adalah “Barang siapa yang berada radius 94 km dari Surabaya, laki-laki, perempuan, tua atau muda wajib hukumnya mengangkat senjata melawan penjajah, dan barang siapa mati pada pertempuran tersebut, maka tergolong mati sahid” karena kewajiban membela tanah air sama halnya menjaga keberlangsungan kehidupan beragama ala Ahlussunnah wal jama’ah, dan membela tanah air, sama halnya mencintai tanah air dan merupakan sebagian dari iman “Khubbul Wathan Minal Iman”.

Sementara Mustasyar PBNU Prof. Dr. K.H Ma’ruf Amin dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa santri adalah harapan bangsa dimasa depan, oleh karenanya santri harus mampu membaca tulisan dalam kitab al Qur’an dan Hadist, tulisan dalam kitab kuning, dan tulisan yang ada dalam lingkungan kehidupan.

Jika dahulu pada tahun 1934 mbah Wahab menulir Syair Syubbanul Wathan dengan mengatakan Indonesia bilaadi (Indonesia Negeriku, maka santri zaman Now yang juga disebut santri milenial, harus faham situasi dan kondisi dan mampu memberikan solusi dari masalah yang dihadapi masyarakat dan bangsa Indonesia.

Masih dalam tausiyahnya, Kyai Ma’ruf Amin menceritakan kronologi mengapa beliau berada pada jabatan Musytasyar padahal sebelumnya beliau adalah Rois Aam PBNU. Hal ini dikarenakan beliau dipilih pak Jokowi menjadi calon wakil presiden dalam pemilu 2019, beliau berseloroh “wong sudah tua kok masih berhasrat jabatan”, “memangnya siapa yang bilang saya muda, saya memang tua wong usia saya 75 tahun”, kata beliau disambut gelak tawa dan riuh tepuk tangan para hadirin yang memang faham selera humor Kyai NU.

Beliau melanjutkan ceritanya dengan menggambarkan cerita “ada orang tua yang menanam pohon, lantas ditegurlah si orang tua tersebut oleh anak muda, “mbah untuk apa engkau menanam tanaman yang andaikan tanaman ini besar dan berbuah, engkau mungkin sudah meninggal dan tidak pernah menikmati hasil tanamanmu mbah?, jawab penanam pohon”aku menanam bukan untuk diriku, tapi untuk generasiku yang akan datang”. Sedemikian saya yang sudah setengah baya ini, hari ini saya maju menerima pilihan pak Jokowi yang memilih Kyai walaupun beliau bisa memilih yang lainnya, tujuan saya adalah menyiapkan pohon untuk masa depan, untuk anak-anak muda Indonesia yang mencintai NKRI dan Ahlussunnah wal Jama’ah.

Terang sudah bahwa jika dahulu 90 tahun yang lalu, para pemuda Nusantara mengikrarkan sumpah pemuda dengan semangat persatuan, maka hari ini warga NU yang diprakarsai PWNU Jawa Timur, mengikat semangat persatuan sumpah pemuda melalui Istighostah dengan mengetuk pintu langit untuk memohon pertolongan Allah SWT demi keutuhan, keselamatan dan keberkahan NKRI.

#KitaSamaIndonesia
#SayaNU
#NKRIHargaMati
#PancasilaJaya
#BhinekaTunggalIka