Pernak pernik hari Santri mulai bermunculan pasca peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 72. Diawali dari kreasi enterprenuer yang mencipta marchandise khusus hari santri sebagai buah tangan untuk pengunjung, peserta dan penggembira acara semarak hari santri yang penanggalannya adalah 22 Oktober di seluruh pelosok Nusantara.

Berbagai kreasi kegiatan digelar sebagai rundown acara hari santri tahun 2017, mulai acara yang sifatnya perlombaan, Kajian, Bhakti Sosial dan pengobatan massal, tersusun rapi memeriahkan rangkaian hari santri di tahun 2017 ini. Diantara rundown acara hari santri tersebut adalah: Lomba Futsal Santri, lomba pidato dan cerdas cermat dengan tema Aswaja An Nahdliyah, lomba karya tulis santri dengan tema sosok tokoh kyai lokal dan peran pondok pesantren dalam pendidikan dan penyebaran Islam, baca kitab kuning, lomba lalaran nadhom, bedah buku karya para santri, halaqah santri dan umara’, kirab santri, semarak shalawat al Banjari, gerak jalan santri, Bhakti Sosial, Pengobatan masal dan sedekah santri untuk negeri.

Seluruh kegiatan hari santri tersebut dimaksudkan untuk mengenang momentum resolusi jihad pada 22 Oktober 1945 yang sejak kepemimpinan presiden Joko Widodo ditetapkan sebagai Hari Santri untuk menghargai perjuangan para santri dalam mempertahankan perjuangan dan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sejengkal tanah mereka pertahankan sampai titik darah penghabisan demi kedaulatan dan harga diri bangsa yang merdeka sebagaimana yang diproklamirkan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pembelaan terhadap status kemerdekaan bangsa Indonesia saat itu bukan tanpa alasan, tapi penuh pertimbangan dan dasar pijakan yang kuat yakni “Hubbul Wathan Minal Iman”(Cinta tanah air adalah sebagian dari Iman). Atas dasar Fatwa Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari yang kemudian dikenal dengan “Resolusi Jihad” yang mewajibkan warga negara Indonesia dalam radius 90 KM dari Surabaya untuk mengangkat senjata melawan sekutu yang mendarat di Surabaya, dan dalam fatwa Resolusi Jihad juga disebutkan bahwa siapa pun yang gugur di medan pertempuran melawan sekutu akan disebut syuhada’.

Tanpa ada Resolusi Jihad, kiranya akan sulit membayangkan bagaimana wajah negara yang baru di proklamirkan terus di serang sekutu dengan formasi lengkap dan kekuatan penuh. Bahkan tidak ada dalam sejarah perang yang mencatat kekalahan sekutu, tapi di Indonesia sekutu dibuat kocar-kacir dan berhasil dipukul mundur setelah pertempuran berhari-hari dengan puncak pertempuran pada tanggal 10 Nopember 1945.

Bahkan Jendral Terbaik Inggris yang baru 3 hari ditugaskan bersama tentara sekutu di Indonesia, terbunuh dalam perang antara pasukan arek-arek Suroboyo yang tersulut Nasionalisme dan heroisme Resolusi Jihad dan di baca oleh Bung Karno setelah sowan ke Tebu Ireng meminta petunjuk dan restu kepada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari.

Dan hari ini, jika kita yang tinggal menikmati jerih payah dan perjuangan para pejuang dan para syuhada’ hanya berdiam tanpa kreatifitas, rasanya kurang pas secara etika dan kurang ajar secara perilaku bernegara. Ingat Bung! “Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah, tapi berkat Rahmat Allah yang Maha Kuasa dan di dorongkan oleh keinginan luhur bangsa Indonesia” sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.

Oleh karenanya, mari sambut hari Santri sebagai momentum berkreatifitas mengisi kemerdekaan dan mengingat jasa para pahlawan dan syuhada’ yang telah gugur mendahului kita dalam mempertahankan harga diri bangsa dan kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia. Merdeka!