Kita sering mendengar Valentino Rosi sang empunya nomor 46 melafalkan kalimat yang menjadi slogan Yamaha saat menonton kejuaraan moto GP, kalimat tersebut adalah “Yamaha Selalu Di Depan”. Apakah ada yang aneh? Tidak. Justru dari moto tersebut, banyak yang membuat guyonan satire tatkala ada yang sok tahu dan merasa paling awal, maka akan disoraki dengan kalimat ” wah, minumanmu kayaknya oli Yamalube bro, buktinya, kamu selalu di depan, bahkan saking depannya, kamu sering kepagian bro.

Menjadi terdepan memang tidak ada salahnya, tapi harus siap dengan segala konsekwensinya. Misalnya kita ingin mengabarkan sebuah kejadian, untuk menjadi yang terdepan, kita juga dituntut akurat, faktual dan terpercaya. Jangan sampai ingin terdepan dalam pemberitaan tapi tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang disampaikan. Konyol akhirnya.

Beda lagi ketika kita ingin menjadi terdepan dalam merespon isu perfilman, misalnya film The Santri, kita harus paham apa isinya, bagaimana adegan per adegan secara utuh, bahkan naskah film tersebut juga kita pahami secara detail. Kenapa demikian? Jangan sampai kita koar-koar mengeluarkan statemen sampai berbusa-busa, tapi akhirnya salah.

Menurut saya berkomentar masalah film “The Santri” untuk saat ini adalah komentar yang tidak penting. Karena komentar apa pun tentang film The Santri, faktanya film tersebut belum pernah tayang dimanapun. Jadi yang dikomentari dan dihujat, adalah potongan adegan yang bisa jadi benar atau sebaliknya.

Bahkan menghujat “The Santri” dalam posisi belum ditayangkan, malah membuat orang yang tidak tahu sama sekali bergeser menjadi penasaran, dan akhirnya berduyun-duyun melihat apa dan bagaimana sebenarnya The Santri. Sehingga hujatan dan makian tersebut menjadi promosi gratis bagi film “The Santri”.

Menyikapi para penghujat film “The Santri, Anda ini pemangi atau kemanjon (dhisiki kerso) ya? atau anda termasuk kelompok weruh sak durunge ditayangne?”, yang akhirnya, offside dan keluar garis?. Walaupun engkau memperhalus dengan bahasa “ini adalah bentuk kehati-hatian”, tapi mengomentari serpihan, tentu beda jauh dengan melihat utuh. Apalagi yang anda komentari adalah film buatan manusia. Kenapa tidak tabayun (klarifikasi) kepada produser atau langsung ke sutradara? Sehingga masalahnya lebih terang dan sesuai bidangnya. Atau karena anda merasa “Ahlinya-ahli, dan intinya-inti yang lebih sutradara dari sutradara, bahkan lebih produser dari produser”.

Mbok kalau jadi orang itu yang sewajarnya saja, misal mengkritik film, pahami dulu alur dan maksudnya, atau kalau perlu, buat film tandingan, supaya impas gitu. Karya film dilawan dengan film. Jangan sampai terjadi pertandingan tinju antara Mike Tyson VS Ely Pikal. Ndak sepadan bro.

Silahkan mengeluarkan dalil dan hujjah penguat argumen, tapi sebaiknya, itu semua dilakukan setelah melihat dan klarifikasi dengan para pihak yang berkompeten. Janganlah jubah agamamu kau gunakan menutupi nafsu bandelmu. Bukankah agama diperuntukkan bagi mereka yang berpengharapan untuk berubah menuju kebaikan?

Pepatah Jawa mengungkapkan “Ojo Grusa-Grusu, Ojo Gampang Kemrengseng (Jangan tergesa-gesa, jangan menuruti hawa nafsu)”. Misalnya ada kalimat: “Jenggot bersyariah”. Lantas apakah minuman gambar mbah Jenggot disebut minuman bersyariah? ya kudu diklarifikasi dulu bro.