Media sosial di Indonesia ibarat musim yang silih berganti sampai pada tema debat tiap bulan juga sudah ada musimnya. Januari, tema tahun baru yang gandeng dengan tema Natal di bulan Desember, Februari tema valentine, Maret masalah ekonomi, April tema persiapan ujian dan pendidikan, belum ketambah tema Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan khusus September lagi hangat isu PKI. Semua diarahkan pada hitam putih PKI, sampai khutbah Jum’at pun disisipi Waspada Kebangkitan PKI. saya mikir juga, kok ada ya, khotib Jum’at yang khutbah sambil nambahi pikiran jama’ah waktu sholat? Bayangkan saja, khotib pas pesan penutup ngucapkan “mari kita waspadai kebangkitan PKI disekitar kita”!. Lha otomatis pas sholat Jum’ahnya yang kepikir ya kebangkitan PKI.

Isu kebangkitan PKI menjadi dodolan para cukong yang berkepentingan. Hari ini perang dinginnya dibalik isu ekonomi, ada China dengan kekuatan ekonomi yang luar biasa, dan Amerika yang tidak mau kalah.

Ketika ada orang bicara PKI dan kekejamannya, lantas kita meluruskan sejarahnya sesuai sumber yang kredibel sekalipun, kita akan dituduh antek “PKI”. Padahal kita hanya menyajikan berita penyeimbang bahwa komunis tidak harus atheis. Banyak komentar yang gagal paham. Mungkin waktu pelajaran bahasa Indonesia dulu sering bolos sekolah.

Masih banyak yang mengartikan Komunis = Atheis, padahal komunis itu ideologi politik lintas agama, lintas etnis. Siapapun bisa menganut ideologi komunis dari agama apapun.

Bahkan di negara-negara Arab (Timur Tengah) yang mayoritas muslim banyak partai komunisnya. Contohnya di Palestina, Partai Komunis Palestina berjuang melawan zionis, di Iraq, Mesir,Yordania, Saudi Arabia juga ada Partai Komunis, bahkan benderanya ada kalimat tauhid juga. Bukan dalam rangka membenarkan PKI, tapi yang perlu diketahui adalah, PKI adalah partai politik yang bisa dimasuki agama dan unsur apa pun. Sedangkan di Indonesia sudah dilarang. Kalau pun ada yang bisa menangkap pemakai logo PKI, bendera PKI, tanyakan dengan jelas, dimana kantor PKI, siapa pimpinannya, ayo datangi dan laporkan pihak berwajib. Jangan main hakim sendiri. Agak aneh juga, jika ada orang aksi bakar bendera PKI, tapi gak tahu kantor PKI, atau memang mereka sendirj yang membuat bendera tersebut.

Apalagi jika ada yang bilang, bahwa PKI adalah korban dan negara harus minta maaf pada PKI. Ini lucu dan ngawur, apalagi dasar pengadilan yang di agul-agulkan adalah pengadilan Leiden Den Hag Belanda. Wong mereka yang di Belanda itu adalah NGO, apakah negara Indonesia tidak bisa menyelesaikan rumah tangganya sehingga harus keluar?.

Munculnya isu PKI, juga kayak siluman, jaman Soekarno akhir muncul dan tetjadi pemberontakan oleh PKI (1948 dan 1965). Jaman Presidenya Soeharto yang 32 tahun, gak ada isu PKI, jaman Gus Dur dan Megawati, muncul lagi, zaman Pak SBY yang 10 tahun juga ilang isu PKI, giliran pak Jokowi, munculkan lagi. Kok kayak hantu saja ya munculnya kadang ada dan kadang tidak.

Dari fakta dan fenomena di atas, kita tahu bahwa memahami sejarah sangat penting, sejarah sebagai cermin kita untuk menghadapi berbagai kondisi yang akan datang, sehingga Al-Qur’an pun memberikan informasi tentang sejarah dan para ‘Ulama mengatakan hampir 1/3 al-Qur’an berbicara tentang sejarah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yusuf :111).

Jadi sejarah dipandang penting di dalam al-Qur’an, untuk menjadikannya ‘ibroh (pelajaran) diwaktu mendatang.
Seorang sejarahwan Abdur Rahman al-Jailany dalam bukunya: Tarikh Jazair, Hal. 11, mengatakan;

“Umat yang tidak mengetahui sejarah, tidak akan bisa memperbaiki masa depannya”.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk terus berusaha meneladani sisi-sisi yang baik dari sejarah-sejarah yang diinformasikan baik melalui al-Qur’an, Sunnah, para Ulama’, para pendiri bangsa Indonesia dan para pahlawan kita. Sehingga kita bisa mawas diri dan lebih berhati-hati dimasa yang akan datang. Semoga Allah menjaga kita semuanya Aamien Allahumma Aamien.