Pada tahun 1744, dibawah skenario dan konspirasi Inggris, Muhammad bin Saud yang konon berasal dari Kabilah Hanifah (masih debatable) dan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dari Kabilah Tamim mendirikan Daulah Su’udiyah, atau terkenal sebagai Negara Saudi Pertama. Wilayah Daulah Su’udiyah meliputi Nejd, Hejaz, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, sebagian Oman dan sebagian Yaman.  Negara ini berbentuk Monarchi Absolut dan tidak tunduk kepada Khalifah Umat Islam di Turki. Kepala Negara bergelar Imam. Karena Daulah Su’udiyah yang berideologi Wahabi selalu membuat kerusakan di jazirah arab, maka pada tahun 1818 Khilafah Islam bergerak memberantas Daulah Su’udiyah, kemudian menangkap  Imam terakhir mereka yaitu Imam Abdullah bin Saud. Imam Abdullah bin Saud dibawa ke Ibukota Islam dan dikenakan hukuman pancung. Kepala Imam Abdullah bin Saud dibuang ke selat Bosphorus.
Walaupun telah ditumpas oleh Khilafah Islam, Bani Saud tetap bertahan dengan mendirikan Negara Saudi Kedua (1818-1891). Mereka memang sulit ditumpas karena diback up kuat oleh musuh besar Khilafah Islam, yaitu Inggris. Negara Saudi Kedua ini wilayahnya tidak seluas Negara Saudi pertama. Pada tahun 1836, atas restu Khilafah Islam Bani Rashidi mendirikan Negara Emirat Jabal Shammar. Emirat Jabal Shammar sebagai bawahan Khilafah Islam terlibat perebutan wilayah dalam jangka panjang dengan Negara Saudi Kedua (antek Inggris), hingga akhirnya pada tahun 1891 Emirat Jabal Shammar berhasil mengalahkan negara saudi kedua dalam pertempuran Mulayda. Akibat kekalahan perang tersebut, Bani Saud di bawah perlindungan Inggris eksodus ke Kuwait. Tapi pada tahun 1902, dengan dukungan Inggris, Bani Saud kembali dari pengasingannya di Kuwait sambil membawa tentara, pecahlah pertempuran dan Bani Rashidi kalah telak, Emir terakhir Jabal Shammar gugur dalam pertempuran tersebut sehingga kota riyadh berhasil dikuasai lagi oleh Bani Saud. 

Setelah Riyadh berhasil direbut kembali, maka Bani Saud mendirikan Negara Saudi ketiga dengan nama Emirat Nejd wal Ahsa (1902-1921). Pendiri Negara Saudi ketiga adalah Abdul Aziz bin Abdul Rahman, beliau bergelar Emir. Pada periode ini, Khilafah Islam di Turki sudah sangat lemah sehingga tidak mampu berbuat apa-apa.
Pada tahun 1921 setelah berhasil menaklukkan Emirat Jabal Shammar (Bani Rashidi) dan Kerajaan Hejaz (Bani Hasan), Emir Abdul Aziz membentuk Negara Saudi keempat yang bernama Kesultanan Nejd atau Sultanat Najd. Dengan jatuhnya Hejaz ke tangan Bani Saud, maka Khalifah Islam di Turki tidak lagi bergelar Khadimul Haramain, dan pada saat itu Khilafah Islam sudah lumpuh di bawah tekanan antek zionis yang bernama Musthafa Kemal Pasha, sehingga Bani Saud dan wahabismenya dibiarkan menggerogoti umat islam.
Pada tahun 1926, setelah kekuasaan semakin luas, Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman membentuk Negara Saudi Kelima yang bernama Kerajaan Nejd wal Hejaz. Kepala Negara bergelar Raja. Pada periode ini wahabi semakin merajalela krna sudah memiliki kekuasaan . Para ulama aswaja dan habaib di aniaya bahkan di bunuh .maqon rasul saw akan di bongkar . periode negara kelima inilah para ulama Hindia Belanda (blom bernama indonesia krn masih jajahan) di bawah pimpinan KH Wahab Chasbullah memimpin delegasi yang disebut sebagai Komite Hejaz menemui Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman dalam rangka menyampaikan beberapa permohonan diantaranya agar makam Rasulullah SAW jangan dibongkar. Hentikan penganiayaan dan pembunuhan ulama aswaja dan habaib .Komite Hejaz ini kemudian menjadi latar belakang berdirinya Ormas Nahdlatul Ulama di Hindia Belanda.
Pada tahun 1932 ketika kekuasaan Bani Saud semakin kokoh, Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman mengubah Negara Saudi kelima menjadi Negara Saudi keenam, yaitu Kerajaan Saudi Arabia (Al-Mamlakul Arabiatus Saudia), Negara Saudi keenam inilah yang bertahan hingga sekarang. Kerajaan petrodollar ini aktif mengirim misionaris wahabi ke seluruh dunia, dan besar kemungkinan membiayai banyak kelompok radikalis dan teroris. Jadi kedekatan Arab Saudi dengan Amerika Serikat dan Israel tidak aneh, karena akar sejarah berdirinya Daulah Bani Saud memang tidak lepas dari skenario Inggris yang saat itu sedang berusaha keras meruntuhkan kejayaan Khilafah Islam di Turki.