Hiruk pikuk suasana beragama akhir-akhir ini semakin pendek nalar dalam bersikap. Logika yang dibangun selalu mengahadapkan pada pilihan kawan dan lawan. Seakan berkata” Kamu kawan atau lawan?” ironi memang.

Seyogyanya kita senantiasa mafhum benar bahwa membela Tuhan tidaklah sama dengan memaksa orang lain sepaham dengan pandangan dan keyakinan kita. Apa yang kita yakini sebagai “jalan kebenaran Tuhan” semestinya selalu kita tempatkan hanya sebagai “satu jalan di antara ribuan jalan lainnya”.

Para pendiri bangsa telah mencontohkan bagaimana memposisikan ukhuwah Basyariyah dan wathoniyah bahkan Ukhuwah Isalmiyah dalam memandang sebuah permasalahan. Misalnya saat meletakkan dasar negara, kajian dan sudut pandang luas dipergunakan untuk mewujudkan negara damai( Daarussalam).

Kita selayaknya pula selalu andap asor bahwa perihal hidayah sepenuhnya mutlak hak prerogatif Allah SWT, bukan hak manusia. Nabi Muhammad SAW bahkan tak pernah berhasil mengislamkan Abu Lahab yang notabene adalah paman dan tetangga bersebelah tembok. Nabi Nuh AS juga tak berhasil menjadikan anaknya beriman kepada ajarannya. Apakah lantas kita mengatakan dakwah Nabi Muhammad gagal karena tidak bisa meng Islamkan Abu Lahab? Apakah kita juga mengatakan metode dan pendekatan dakwah Nabi Nuh AS kepada putranya Kan’an salah?

Hindun yang amat membenci Islam sampai tega membelah dada Sayyidina Hamzah paman Nabi Muhammad dan memakan jantungnya dengan buas, siapa nyana kemudian memeluk Islam dan mengatakan, “Dulu aku membencimu wahai Nabi Muhammad SAW dengan kebencian seluas langit dan bumi, tapi kini aku mencintaimu seluas langit dan bumi.” Demikian pula sosok Umar bin Khattab dan Abu Sufyan yang keras melawan Nabi lalu memeluk dan membela Islam dengan sepenuh jiwanya.

Adakah yang perlu kita ragukan dari gigihnya dakwah para Nabi agung itu? Bahkan apakah kita juga meragukan kedalaman doa-doanya sampai gagal menjadikan beriman orang-orang dekat di sekitarnya? Masih kurangkah keperkasaan tentara Nabi Muhammad SAW dikala Fathul Makkah yang tak pernah beliau jadikan kesempatan memaksa semua orang Quraisy Makkah memeluk Islam seketika itu? Lantas, apakah gerangan sebenarnya pangkat dan hak kita untuk memaksa, mengancam, menyerang, dan mementungi orang-orang yang tidak seiman atau berbeda paham?

Kebijaksanaan, inilah kata kuncinya; bahwa kita hanyalah manusia nisbi, bukan Tuhan Yang Serba Maha, yang sama sekali tak pernah pantas untuk memanggul sifat “Yang Maha Semau Gue” atau menyebut diri sebagai Tuhan atas nama apa pun. Tuhan saja begitu santai atas keragaman perilaku manusia, dari yang alim bak nabi sampai yang durja bak jelaga, lalu kenapa kita sebegitu repotnya Sobat?

Ingat huruf Dlat pada Lambang NU yang meliputi bola dunia, artinya dakwah dan Rahmatan lil Alamin milik NU harus menyebar di Seluruh dunia.

Please! Beragamalah yang Santun dan Bijaksana.