Oleh:Nuruddin

Tak banyak kalangan milenial yang masih mengenal tembang atau lagu dengan nada khusus semisal Dandang Gulo. Mereka memang terlahir dizaman milenial, yang pastilah beda trand dan kebutuhan serta media yang digunakan. Jika syair atau lirik lagu zaman sekarang lebih bersifat entertaint dan hura-hura, berbeda dengan lagu lama yang isinya adalah nilai ajaran dan tuntunan luhur atau ajakan mengenal sang maha pencipta.

Sedikit flashback pada era awal santri masih tahu apa dan bagaimana tembang “Dandang Gulo”: “Semut ireng, anak-anak sapi/ Kebo bang kang nyabrang bengawan/ keong gondang dowo sungute/ Suroboyo geger kepati/ Ramene wong ngoyak macan/ lamun kecekel diwadahi bumbung”.

Tembang Dandang Gulo Semut Ireng yang memuat ramalan Jayabaya inilah yang dahulu dinyanyikan para sesepuh desa di pos-pos penjagaan di kampung-kampung dan didengarkan serius oleh para pemuda yang memang meyakini bahwa tembang ini adalah ramalan atau prediksi kejadian masa depan.

Sehingga penafsiran bebas para pemuda dan orang kampung saat itu adalah sebagai berikut: ” Semut Ireng” bermakna “semut hitam” dengan maksud orang pribumi Jawa yang lemah tanpa kekuatan. Padahal kalau kita lihat fakta ilmiah, justru semutlah hewan yang mampu membawa beban lebih berat dari berat tubuhnya, bahkan kekuatan semut adalah mampu membawa berat 50 persen lebih berat dari berat tubuhnya.

Syair lanjutannya adalah “Anak-anak sapi” yang berarti melahirkan sapi ditafsirkan melahirkan sapi hutan yang kuat “yaitu banteng-banteng Indonesia” yang siap menyerang musuh, “Kebo Bang” berarti “kebo bule” ditafsirkan kerbau bule ini adalah Belanda dan Inggris, bangsa berkulit putih, “Nyabrang Bengawan” yang bermakna menyebrangi sungai besar dan lautan dari negeri seberang ke Indonesia.

“Keong Gondang dowo sungute” dimaknai kedatangan mereka dari seberang menaiki kendaraan tank, panser baja dengan meriam panjang di depannya. “Suroboyo geger kepati” ditafsiri bahwa Surabaya akan menjadi ajang perang besar dan sengit, “Ramene wong ngoyak Macan” diartikan sebagai suasana gaduh orang-orang mengepung macan/harimau/Singa yang merupakan nama lain dari Inggris yang memiliki lambang harimau, “lamun kecekel den wadahi bumbung”, jika harimau yang terkepung sudah tertengkap, maka akan dimasukkan bumbung (potongan bambu), yang sekaligus ditafsirkan bahwa untuk mengalahkan Inggris harus menggunakan “bambu runcing”. Maka saat itu, penduduk Surabaya dan sekitar, pasca dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari, semuanya berbondong-bondong membawa bambu runcing ke pondok pesantren untuk di asma’, hizib, wirid, dan digembleng oleh para Kyai.

Diantara para Kyai yang melakukan gemblengan kepada masyarakat saat itu diantaranya adalah K.H Mas Moedjahid, Sidoresmo, K.H Hamzah Ismail, Ngelom, Sepanjang, Sidoarjo yang juga madih keluarga dengan Mbah Abbas Buntet Cirebon sang pemimpin laskar santri pada perang 10 November 1945, Kyai Soebchi dari Parakan, Temanggung Jawa Tengah yang dikenal dengan Kyai Bambu Runcing.

Hubungan santri dengan masyarakat dan budaya, sangat erat dan tak bersekat. Tembang yang menjadi curahan jiwa masyarakat, tak sekedar barisan kata. Tapi memiliki makna yang sangat dalam, bahkan mampu memberikan gambaran dan proyeksi dari fenomena yang sedang terjadi.

Santri tidaklah anti budaya, masyarakat juga tak memisahkan diri dari santri dan kyai. mereka menjadi satu bagian yang menguatkan kebangsaan. Kyai selalu terbuka dengan masyarakat apa pun. Masyarakat juga merapat dan menyatu dengan Kyai dan santri. Mereka saling berbagi, mengasihi, menghargai, dan mempersatukan diri dalam bingkai satu negeri yang dicintai dan dibela sampai mati.

#SelamatHariSantri
#22OktoberHariSantriNasional
#SantriDamaikanNegeri