Beberapa hari yang lalu saya ingin membahas tentang sampah digital, tapi saya tahan karena pas ramai masalah foto AA yang akhirnya menjadikan sebab yang bersangkutan mengembalikan dukungannya kepada partai pengusungnya untuk maju di pilkada Jatim. Selain itu, alasan menahan untuk tidak membahas sampah digital, juga karena cuwitan diakun Pramono Anung yang tiga hari sebelum kasus foto AA muncul, juga membahas hal yang sama. Seakan ada sinyal entah sengaja atau tidak.

Saya menyebut Sampah Digital , karena apa yang telah beredar di medsos dalam jangka waktu tertentu, lebih sering terlupakan. Bahkan ada yang dalam hitungan hari, sudah lupa dengan apa yang telah dia unggah di media sosial baik FB, WA, Twitter, IG, Web, Telegram, Path dll. Ada juga yang sering ngeshare di berbagai grup, tanpa baca, apalagi tahu dan faham isinya. Sehingga hal tersebut seakan sampah yang tak berguna.

Kendati demikian, masih ada juga yang menyimpan rapi apa yang dia share, dan dia fahami apa maksud dan konsekwensinya, tapi diantara seratus orang, paling hanya ada 3 orang saja yang memang mampu melakukan hal tersebut. Jadi, penyebutan sampah digital tidaklah berlebihan. Saking tidak adanya yang mempedulikan apa yang telah kita share tersebut. Padahal jika kita tahu, era digital justru era yang dengan mudah menyimpan jejak. Misalnya hari ini kita nulis caci maki kepada diri sendiri atau pujian pada seseorang disertai gambar meme dan emoticon jungkir balik, pastikan bahwa 10 tahun ke depan bahkan sampai waktu yang lebih lama, jejak hari ini akan terekam di memori media sosial.

Saya contohkan, UAS (Ustadz Abdul Somad) yang pernah berpidato di muktamar HTI di Riau. Hari ini begitu nyata ditampilkan. Misalnya lagi, dahulu waktu Rieke Diah Pitaloka aktif sebagai oposisi pemerintah yang kemana-mana menyebut, partai yangbtidak memihak rakyat adalah yang saat memerintah akan melakukan: Kenaikan harga dan TDL, Mencabut Subsidi Pupuk, BBM dll. Hari ini hal itu ditampakkan, mak Plass, rasanya kok beda banget.

Adalagi dokumen aksi 212 yang mengutuk pemilih pendukung perppu dan hanya ada tiga partai di Indonesia yang wajib dibela menirut mereka (PAN, PKS, dan Gerindra). Tapi silahkan amati koalisi partai saat pilkada, di Jatim, PKS malah kemarin merapat ke PDIP dan PKB.

Begitu Sampah Digital itu dibongkar dan dihadirkan, maka kontradiksi yang didapatkan. Kalau sudah demikian, apa mau dikata? Persih apa yang terjadi pada AA, saya turut prihatin karena kejadian tersebut dipublikasi tanpa ada upaya mencari siapa yang mempublikasi. Jika ada upaya mencari yang mempublikasi dengan mempolisikan perkara beredarnya foto tersebut, minimal ada nama yang dikantongi dan jelas apa motifnya. Justru dengan membiarkan tanpa ada pelaporan dan pengusutan penyebar foto AA, seakan AA dibiarkan menjadi korban Sampah Digital, tanpa bisa berkata apa-apa dan harus terima apa adanya. Persis dengan اليوم نختموا على افواههم وتكلمنا ايديهم وتشهدو ارجلهم بما كانوا يكسبون
“Dihari itu mulut mereka terkunci dan tangan-tangan mereka berbicara sedangkan kaki-kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka perbuat sebelumnya”.

Sampah Digital justru membungkam pelakunya dimasa kini karena kontra diksi dengan apa yang dilakukan masa lalu. Perlu menata diri dalam menggunakan medsos agar kita terselamatkan dari badai sampah digital kelak dimasa yang akan datang.