Munculnya berbagai fenomena aksi dan opoini baik di media online maupun media offline beberapa waktu akhir ini hampir dapat dipastikan akan menyasar NU. Mulai dari pilkada Jakarta dengan pernak-perniknya, FDS, PerPU no 2 tahun 2017 dan rentetan fenomena lainnya. NU diam maupun beraksi, dengan pasti pasukan pembully sudah menyambut dengan ganas.  Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka sangat agresif untuk menghancurkan NU dengan berbagai cara.

Jika kita tarik benang merah, maka upaya penghancuran NU mereka mulai dari:

1. Memisahkan Nahdliyyin kultural dari para Kyai NU. 

Mereka fitnah dan caci maki sesepuh NU, berharap Nahdliyyin kehilangan akhlaq dan pudar rasa hormat kepada para Kyai. Merka berharap seperti memisah anak ayam dari induknya, jika sudah terpisah, maka satu persatu anak ayam akan dihabisi dan induk pun juga sama nasibnya.

2. Kampanye anti terhadap Ketum PBNU. Selain sebagai Ikon, simbol dan mandatori muktamar PBNU selain juga Rois Aam, Ketum PBNU memiliki peran paling strategis di tubuh NU. Mereka berharap, dengan fitnahan dan cacian mereka terhadap Ketum PBNU maka perlahan akan hilang muru’ah dan kebesaran ormas Nahdlatul Ulama.

3. Agitasi dan propaganda yang mereka lakukan bukan hanya kalangan elit saja, tapi masyarakat kelas menengah dan perkotaan, sudah mereka susupkan dan bahkan masuk ke NU struktural sampai di tingkatan paling bawah, baik PCNU, MWC maupun Ranting NU. Harapan mereka jelas, ranting sebagai ujung tombak NU, akan termakan isu yang mereka buat, mereka olah, dan menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, saat tahlil, perayaan maulid dan seremonial lain di masyarakat.

4. Stigmatisasi bahwa NU adalah koruptor dan penyedot uang negara. Hal ini bukan barang baru, bahkan Gus Dur yang lengser dari jabatan presiden karena dilengserkan oleh MPR yang di motori oleh Amin Rais dkk, mereka putar balikkan fakta menjadi Gus Dur lengser karena korupsi. Hal yang terbaru adalah PerPU No 2 tahun 2017 yang diberlakukan pada 19 Juli 2017 justru NU yang mendukung PerPU ini dikabarkan menerima 1’5 Trilliun karena mendukung pemerintah. Padahal anggaran 1,5 Triliun ini adalah bantuan untuk usaha menengah dan kreatif yang memang layak menerima bantuan. Kejadian ini pun terjadi pada bulan Februari 2017. Berbagai klarifikasi disampaikan dan beribu kali dijelaskan, tapi tetap tidak membuat para penyerang NU bergeming menebar fitnah dan kebohongan.

Mereka berfikir bahwa dengan melakukan hal di atas, dapat menghancurkan NU. Merka salah besar, justru sebaliknya NU semakin solid saat memiliki musuh bersama.

Media sosial mereka kuasai dan mainkan sebagai ujung tombak propaganda menghancurkan NU. Oleh karenanya, barang siapa mampu menguasai media, maka opini publik akan digiring dan diarahkan sesuai maksud pemegangnya. Oleh karenannya, Ayo anak muda NU, melek medsos, dan sampaikan kepada siapapun, kapan pun dan dimanapun, bahwa kita ber-NU lahir bathin. Kepada mereka yang berniat menghancurkan NU, jangan takut menyampaikan kata, kami akan lawan! Bukan jamanya lagi “Sing Waras Ngalah” tapi “Sing Waras Ojo Ngalah”.

Media sosial bukan sekedar gaya-gayaan, bukan sekedar eksistensi selfi, tapi media sosial kita gunakan untuk berdakwah dan memberikan pencerahan untuk perdamaian. Bukan untuk mencaci dan menebar kebencian. Berbeda pendapat dan pandangan adalah biasa, tapi jangan sampai menghilangkan etika.

Katakan dengan tanpa ragu. Sampai kapanpun kita akan tetap memuliakan dan menghormati para kyai kendatipun berbeda pendapat!. Karena dari para kyai lah kita mendapat petunjuk tentang pengertian dan definisi kehidupan beragama sampai mengenal akhlaq sampai perilaku kehidupan.
Jika dahulu pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda yang kasat mata dengan menunggang kuda bersenjatakan pedang ditangan kanan dan keris ditangan kiri, maka hari ini konteks perangnya adalah perang urat syarat di media sosial dengan bersenjatakan android, paketan pulsa dan musuhnya juga di media sosial. Jangan sampai kita tertipu tidak kenal kawan dan lawan, bahkan tidak tahu kalau kita sedang diserang oleh musuh-musuh kita.

Mari bersatu, dan katakan pada mereka:

NU kuat tak bisa di hancurkan.!

Dan PBNU adalah benteng Indonesia !!