Anas bin Malik: Abdi Ndalemnya Rasulullah

Oleh: Rijal Mumazziq Z

Kanjeng Rasul, bulan ini adalah bulan kelahiran panjenengan. Bulan biasa yang menjadi istimewa karena kelahiran manusia mulia seperti engkau. Saya malu, sangat malu, belum bisa mencintai engkau sebagaimana dengan egois saya mencintai diri saya sendiri.

Saya hanya bagian dari umat engkau yang bandel, yang kecintaan terhadap engkau masih di bibir saja, belum mendarahdaging seperti orang lain yang mencintaimu dengan penuh.

Duhai al-Musthafa, masih ingatkah engkau, saat Ummu Sulaim menyerahkan putranya, Anas bin Malik yang masih belia, untuk melayanimu, menjadi abdi ndalemmu, menjadi santri kinasihmu? Tubuhnya masih kecil dengan rambut lebat berkucir. Dia duduk dengan takzim sambil malu-malu memandang wajah muliamu. Engkau dengan tersenyum membelai rambut Anas kecil dan menyambutnya sebagai anggota keluarga barumu. Anas, yang seringkali engkau panggil dengan nama Anas kecil (Unais), mengenang kejadian ini sebagai sebuah peristiwa yang membuatnya bahagia sepanjang hidupnya.

Engkau juga paham, Anas bin Malik ini juga memiliki adik kandung bernama Abu Umair yang suka memelihara burung. Ketika engkau berkunjung ke kediaman Abu Talhah, bapaknya Abu Umair, engkau bertanya, “Wahai Abu Umar, bagaimana kabarnya an-Nughair (burung pipit kecil) peliharaanmu?”

Duh, manusia mulia seperti engkau masih sempat menanyakan kabar burung kecil kesayangan seorang sahabat kecil? Betapa remehnya perkara ini bagi kami, tetapi sangat penting bagi engkau sebagai wujud kepedulian terhadap anak-anak?

Duhai laki-laki berwajah purnama, kepada kami Anas bin Malik bertutur, selama beliau melayanimu lebih dari sepuluh tahun, tak pernah sekalipun melihat engkau menghardik, marah, dan menampakkan wajah menyebalkan. Anas, sahabat kecilmu itu, bahkan mengisahkan engkau lebih sering memanggilnya “anakku”. Sebuah panggilan sayang dari manusia penyayang.

Duhai al-Mujtaba, sahabat cilikmu tersebut pernah berkisah. Pada suatu waktu, engkau memintanya mengerjakan sesuatu. Dia menyanggupinya. Tapi dasar anak-anak, dia lupa dengan permintaanmu dan malah bergabung dengan anak-anak lain. Di jalanan dekat pasar Madinah, Anas kecil bermain dengan sahabat-sahabatnya. Lupa amanah darimu. Hingga kemudian sepasang tanganmu yang mulia meraih bahu anak kecil itu dari arah belakang. Anas memutar pandangannya. Alangkah tersipunya saat dia tahu ada tubuh sucimu di balik badannya. Tak ada raut kemarahan di wajahmu, duhai an-Najmus Tsaqib. Yang ada hanya tatapan kasih sayangmu atas keteledoran seorang anak kecil dan senyum permakluman yang menggantung indah di bibir muliamu.

Duhai Sayyidul Kaunain, engkau mendoakan agar sahabat cilikmu tadi diberkahi dalam tiga hal: hartanya, usianya dan keturunannya. Allah mengabulkan permohonanmu. Sepeninggal engkau, Anas putra Malik menjadi salah satu manusia terkaya yang diberi usia panjang dan dianugerahi keturunan yang banyak.

Anas yang mulia seringkali menceritakan pribadi dan akhlakmu selama dia mendampingi engkau, wahai al-Muzammil. Putra Malik itu juga menjadi salah satu periwayat hadis terbanyak yang menjadikan kami bisa menikmati riwayat kepribadian engkau yang luar biasa.

Menjelang akhir hayatnya ada dua harapan yang dilontarkan abdi ndalemmu yang luar biasa itu: dikuburkan bersama tongkat kecil yang engkau hadiahkan kepadanya, serta berharap kelak di akherat, saat berjumpa dengan engkau, Anas akan mengucapkan kalimat indah ini, “Duhai utusan Allah, masih ingatkah dengan diriku? Aku adalah Unais, Si Anas Kecil, pembantumu.”

WAllahu A’lam bisshawab