Harakat atau pergerakan adalah sebuah usaha berpindah dari sebuah titik menuju titik yang lain dengan capaian menuju kepada hal yang lebih baik. Mustahil perubahan dapat dilakukan tanpa pergerakan.

 Pergerakan (نقل شيىئ الي شيئ اخر) secara terminologi juga bisa diartikan Reformasi, Contohnya pergerakan dari Orde Baru menjuju demokrasi yang hari ini kita laksanakan. Lha apakah hal ini akan terus menerus berubah disetiap masanya?jawabnya perlu di qiyaskan, jika demokrasi hari ini merupakan perekat persatuan dan kebangsaa. Maka demokrasi harus dipertahankan. Perkara para pengusung khilafah yang menginginkan perubahan sistem negara, menurut saya adanya HTI bisa menjadi Khazanah pengetahuan dalam rangka keilmuan pengetahuan bukan pada niat mendukung. 

Kita harus maklum perbedaan menonjol antara Demokrasi Pancasila dan Khilafah adalah,jika Demokrasi menjadi pemimpin, maka HTI bisa hidup tentram dengan fasilitas yang dibiayai negara. dan sebaliknya, tidak ada jaminan bagi kelompok lain jika HTI berkuasa.

Pergerakan yang tanpa renaca justru menyisakan masalah dan cenderung menghilangkan ruh harakah itu sendiri. Oleh karenanya butuh Nilai yang mapu menggerakkan dan merubah pemikiran masyarakat. Berikut ini adalah uraian terkait spirit pergerakan ditinjau dari Harakat. Allah mentakdirkan, sumber Islam berbahasa Arab. Bahasa yang diserap semua bahasa dunia. Tidak terkecuali bahasa Inggris. 

Keunggulan bahasa Arab ada di Harakat. Ia berarti gerakan atau perpindahan dari satu tempat/kondisi kepada tempat lain. Uniknya. Tanda harakat dalam tulisan Arab berkembang saat Islam berjaya dan ekspansi ke seluruh dunia.

Paling tidak ada empat tanda harakat. Rafa’, Nashab, Jarr, Jazm. Semua mengandung makna filosofis. Rafa’ dengan simbol dhommah.الّضمة علامة الرّفع “Bergabung=الّضمة “Kemuliaan”= الرّفع. Berhimpum ciri kemuliaan, keunggulan. Orangtua kita menyebutnya: Bersatu kita Teguh. Dhammah adalah huruf waw (و) yang diperkecil. Spiritnya mengajak dan menggerakkan.

Kondisi Rafa’ dalam Bahasa Arab selalu diposisi Mubtada’ (Inisiator, Pioneer) atau Fa’il (Subjek, Pelaku, Eksekutor). Jelas kemuliaan tidak akan diraih jika sekeder Kerumunan tanpa visi.

Alamat kedua adalah Nashab. الفتح علامة الّنصب “Kemenangan tanda Tegak”. Secara konteks makna filosofisnya, “Jika kita menegakkan (kebenaran) maka menjadi suatu tanda kemenangan”

(ان الباطل كان زهوقا) “Sesungguhnya Kebathilan akan Sirna”.

Fathah (فتحة) mempunyai posisi diatas diibaratkan suatu kemenangan, dan kemenangan itu selalu ada diatas (diposisikan ditempat tinggi).

Fathah sifatnya terbuka. Alhaq atau Albathil bisa melakukannya. Posisinya Maf’ul bih. Maka sangat tergantung Subjek dan jenis Fi’ilnya (kata kerja). 

Ketiga, Kasroh. الكسرة علامة الجرّ. Dimaknai “Pecah”= الكسرة. “Terseret الجرّ. Secara konteks makna filosofis dari  الكسرة علامة الجرّ

“Jika kita terpecah belah tanda diperdaya oleh orang lain (terseret-seret). Kasrah (كسرة) adalah harakat tanda dari ketidakberdayaan. Didesak huruf Jarr. Bahkan tunduk pada Dhorof Makan dan Zaman. Lebih parah, ia patuh pada Mudhof. Harfu Jarr menyeret. Dhorof menjadikan ia terjebak dalam situasi kondisi yang dibuat orang lain. Mudhof, daya tawar lemah dan tidak mampu bangkit menolak. 

Keempat adalah sukun. السكون علامة الجزم. Sukun=diam, pasif. Jazm dimaknai kepastian atau pengharusan atau keterpaksaan. Sukun hanya berlaku di akhirat. Diam/pasif di tengah kemungkaran, cermin tersandera kepentingan orang lain. Makna filosofisnya adalah”Jika kita diatur atau di bawah kekuasaan orang,  maka kita tidak bisa bergerak (diam)”. Di mushaf Utsmani, tanda sukun tidak dilambangkan. Makanya Pergerakan membutuhkan kemandirian agar tidak tersandra dan mati saat menyampaikan aspirasi pergerakan.

Jadi jika ada harakah (pergerakan) minus harakat dan lebih memilih sukun. Dipastikan cari aman. Mirip orang Arab yang kalau bicara, selalu mensukunkan huruf akhir. Kalau tidak sedang cari aman. Pasti dia orang Arab yang gak tuntas belajar manhaj Nahwu dan Sharaf.