Rombongan kami berjumlah 14 orang dengan formasi standart armada elf long, cukup longgar lah rasanya. Pagi sekitar jam 6 usai sholat Subuh di Denanyar, kami langsung bertolak menuju Tebu Ireng. Kami sempatkan untuk tabarukan ke lokasi kamar salah satu alumni Tebu Ireng Gus Fadeqwae yang juga nepaki satu rombongan.

Diawali menunggu pintu makam yang masih satu jam lagi akan dibuka, kami sempatkan ngopi sambil membahas program dan kegiatan setahun ke depan walaupun secara tidak formal. Mulai evaluasi kegiatan, campur guyonan-guyonan lain serta usulan-usulan santai, tak terasa tahu dan tempe hangat dua leser pun ludes dihadapan 14 orang.

Tepat jam 07:00 pintu gerbang makam Tebu Ireng di buka oleh satpam yang memiliki nama Syaifuddin Z. Saya bertanya” Z nya niku Zuhri pak nggih? Nggih mas “jawab pak satpam”, monggo daftar rumiyen lanjut beliau. Begitu gerbang dibuka, rombongan peziarah tak ada putusnya menziarahi makam orang-orang hebat dan mulia. Ada 3 Tokoh lintas generasi yang saya ketahui dimakamkan dilokasi tersebut, yakni Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari, K.H Wahid Hasyim dan Gus Dur.

Pertama Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari pendiri dan penggerak Nahdlotul Ulama’, organisasi yang secara tegas menentang raja Ibnu Su’ud saat itu dengan Komite Hijaz. Pun gelar Hadrotus Syekh adalah gelar yang diberikan oleh orang arab khusus bagi orang yang memiliki kelebihan hafal “kutubus syittah beserta sanad dan matannya”. Jadi Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari itu, hafal Kitab Hadist Bukhori, Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzi, Nasa’i dan Sunan Ibnu Majjah. Karena beliau hafal 6 kitab hadist beserta sanad dan mattannya beliau diberi gelar Hadrotus Syekh.

Kedua K.H Wahid Hasyim, Putra Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari yang juga ayah dari Gus Dur. Kyai Wahid Hasyim meninggal dalam usia 32 tahun gegara kecelakaan yang sampai saat ini tidak diungkap ke publik, walau pun ada pengakuan pelakunya. Tokoh Pergerakan dan Kemerdekaan yang saat itu diprediksikan layak menggantikan Soekarno sebagai presiden karena kecerdasan, dan kepiawaian beliau dalam berbahasa, berfikir dan bertindak. Sejumlah karya dan jasa beliau torehkan dalam persiapan kemerdekaan dan penyusunan dasar negara Indonesia.

Kyai Wahid Hasyim adalah seorang yang visioner, bagaimana tidak, dari kecil dikalangan keluarga, Kyai Wahid memanggil Abdurrohman Wahid dengan tambahan Ad daakhil( yang cerdas dan pemberani). Hanya seorang yang visioner, mampu menembus lorong masa depan. Bukti lainnya, silahkan cek di Google atau di dokumen foto apa pun, amati foto Gus Dur, anda akan menemukan foto Gus Dur kecil sampai dewasa dengan tangan kanan memegang buku, maknanya tradisi keluarga Kyai Wahid mengenalkan putranya pada membaca ditanamkan sejak kecil. Dan yang dikonsumsi Gus Dur bukan hanya buku ringan, tapi buku kelas berat semua.

Anehnya lagi, begitu Kyai Wahid Hasyim wafat diusia muda, Ibunda Gus Dur dengan kemampuan dan keuletannya membesakan semua putranya dan tetap berjuang di organisasi Muslimat NU. itu pun seluruh putranya jadi tokoh Nasional semuanya dengan kaliber yang sama.

Orang hebat ke Tiga di makam Tebu Ireng yang saya ketahui setelah Kyai Wahid Hasyim adalah Gus Dur. Seorang pejuang kemanusiaan, Kyai, Bapak Revolusi Bangsa yang langkahnya tak tertebak oleh kemampuan yang dimiliki orang awam. Hujatan, cemo’ohan dan pisuhan, beliau hadapi dengan santai tanpa dendam. Sanjungan dan pujian tidak membuat Gus Dur lupa diri dan sombong.

Pengetahuannya luas, sejarah, bahasa, politik, ekonomi, sosial, filsafat, tasawuf, musik, diplomatik, semuanya beliau kuasai dengan sempurna. Saya pernah membaca ditulisannya AS Hikam, kaitan musik, Gus Dur tidak hanya hafal judul lagu, lirik, sejarah musiknya, tapi juga toko kasetnya di manca negara pula. Gus Dur hafal kitab hikam, fathul Mu’in dan tariqotnya Syadziliyah. Jangan kira Gus Dur tidak alim ilmu agama, dua kitab tersebut cukup sulit dihafal oleh umumnya kita sebagai awam, tapi selesai dihadapan Gus Dur.

Gus Dur juga visioner, teringat dahulu saat Gus Dur jadi presiden dan berniat membuka kerjasama dengan Israil dan membuka kedubes di Israil, semua orang menghujat dan menggagalkan maksud Gus Dur dengan sudut pandang agama. Tapi Gus Dur melihat dari sudut pandang lain, bagaimana kita bisa menyampaikan pada Israel kalau pesan kita di titipkan Amerika, lha Amerika dan Israil kan bersahabat. Sementara pesan kita isinya pasti protes pada Israil. Makanya pesan kita gak prrnah nyampai, karna komunikatornya trouble. Makanya butuh membuka komunikasi sendiri dengan Israil. Supaya pesan kita jelas dan sampai. Selain itu, Gus Dur tahu, banyak warga Indonesia yang ekspor impor dengan pengusaha Israil, dan ini hasilnya tidak masuk devisa negara karena tidak ada kerjasama antar kedua negara. Lha maksud Gus Dur saat itu, jika ada kerjasama antara negara Indonesia dan Israil, para pengusaha dan penyelundup ini mudah ditangkap untuk diarahkan masuk menjadi pendapatan negara.

Satu lagi yang sampai kini, pakar hukum dimana pun, tidak mampu membantah keabsahan dekrit presiden yang dikeluarkan Gus Dur. Tapi alat negara, tidak ada yang patuh pada dekrit tersebut. Dan ini hanya terjadi di Indonesia. Lembaga yang dibubarkan, malah mengimpeachment pemerintah yang syah.

Dengan menyebut tiga tokoh di makam tersebut bukan berarti selainnya tidak ampuh dan luar biasa, tapi semata karena pengetahuan saya yang cethek. Semoga niatan kami nyambung sanad perjuangan, sanad gerakan serta sanad keilmuan saget khasil dunia akherat. Aamiin.