Sang pelukis lambang NU yang mampu mengejawantahkan perintah Hadrotus Syaikh Hasyim Asy ‘ari kedalam karya monumental berupa logo Nahdlatul Ulama’. Berawal dari perintah yang diberikan kepada Mbah Ridlwan Abdulloh untuk melukis lambang organisasi yang belum pernah ada yang menggunakan, tidak norak dan selalu cocok disemua jaman. Maka Mbah Ridlwan Abdulloh menjawab” ngesto aken dawuh, “siap Kyai”.

Selanjutnya mbah Ridlwan Abdulloh bermunajat ke makam kanjeng sunan Ampel diawali Ziarah, wasilah, baca Yasin dan Tahlil, disambung dengan melakukan Sholat Sunat di tempat Sholat (Musholla) dilokasi makam, saat antara sadar dan tertidur, Mbah Ridlwan Abdulloh melihat bola dunia berwarna hijau dengan dikitari bintang sembilan dan untaian tali berjumlah sembilan puluh sembilan yang semuanya seperti terbang berkililing di atas Mushalla tempat mbah Ridlwan Abdullah.

Tiba-tiba Mbah Ridlwan Abdulloh terjaga dan melihat keluar untuk menyatakan dengan mata telanjang, apakah hal itu mimpi atau nyata? Dan anehnya, mbah Ridlwan Abdulloh melihat semua yang ada dalam mimpi sebelumnya dengan mata telanjang tanpa ada perubahan.

Akhirnya apa yang dilihat mbah Ridlwan tersebut dilukis dan jadilah gambar bola dunia berwarna hijau, dikitari sembilan bintang, dengan tali jagad terdiri dari untaian berjumlah 99 yang sampai hari ini bisa dilihat pada lambang Nahdlatul Ulama’.

Silahkan bandingkan dengan logo organisasi paling TOP di dunia , PBB misalnya, pakai lambang bola dunia juga kan? Jika PBB ada dan dibentuk pada 1960 an, maka dahulu mana antara penggunaan lambang bola dunia pada lambang NU yang digambar Mbah Ridlwan Abdulloh pada kisaran tahun 1926? Siapa yang Trendsetter? Jawabnya adalah NU. Ini fakta yang tidak bisa dipungkiri.

Makna logo NU menurut mbah Ridlwan Abdulloh adalah, Bola Dunia sebagai lambang keberadaan organisasi NU harus bisa memakmurkan dunia sebagai Rahmatan lil ‘alamiin. Ingat, bukan hanya Indonesia, tapi dunia. Makna bintang Sembilan adalah wali songo, dan jika dilihat 5 bintang dibagian atas, bintang yang ditengah paling besar adalah lambang Kanjeng nabi Muhammad SAW, dengan dua bintang di kanan dan kiri sebagai lambang para sahabat Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Ustman dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib dan Empat bintang dibagian bawah sebagai lambang Madzhab empat yang dipedomani NU yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Maknanya: NU mengikuti Madzhab empat, Sunnah para Wali, Sunah para Sahabat dan Sunnah Rosulullah Muhammad SAW. Dan kesemuanya harus dibingkai dalam bingkai tali membumikan asmaul husna yang jumlahnya 99.

Selain itu jika kita lihat bentuk untaian tali tersebut akan terbentuk angka 8, sementara jumlah bintang yang 9 jika ditambahkan maka akan berjumlah 17. Jika kita menata dan mengeja bintang lambang NU dang bentuk untaian tali tersebut, maka akan ketemu pertanyaan begini: kejadian apakah yang terjadi di Nusantara ini pada tanggal 17 bulan 8 tahun empat puluh lima? Jawabnya adalah, Indonesia Merdeka. Ini dapat kita lihat pada lambang NU saudara, karena 17 (hasil penambahan jumlah 9 bintang dan bentuk untaian tali yang mirip angka 8 ), bulan 8(adalah bentuk untaian tali) dan empat lima (adalah 4 bintang di bawah dan 5 bintang di atas). Jadi karya Mbah Ridlwan Abdulloh ini benar-benar monumental dan orisinil.

Sementara pesan mbah Ridlwan Abdulloh kepada generasi penerusnya adalah, “NU adalah organisasi yang diridloi Allah SWT, masuklah ke NU dengan ketulusan dan keikhlasan, jangan sekali-kali keluar dari NU “, Jangan takut lapar jika kalian mengurusi NU, jika kalian kelaparan karena ngurusi NU, datangi aku, tagih padaku, dan jika aku telah meninggal, datangi makamku, guncangkan nisanku”.

Selain itu, jasa besar mbah Ridlwan Abdulloh adalah sebagai pemrakarsa lahirnya kampus ITS. Karena nama ITS(Institut Teknologi Sepuluh Nopember) adalah nama pemberian mbah Ridlwan Abdulloh untuk mengenang jasa para santri dan syuhada’ pada pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya antara Inggris dan para Santri serta arek-arek Suroboyo yang di sulut oleh Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadrotussyekh Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 atas permintaan presiden Soekarno karena Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945 dan belum ada pengakuan dari dunia International dan pengakuan dunia International baru di dapat pada 1948.

Mbah Ridlwan Abdulloh ingin mengabadikan kejadian 10 Nopember 1945 untuk nama Kampus dibidang Teknik, maka dimandatkanlah tugad tersebut kepada keponakannya, dan berdirilah ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember).

Rihlah kami ke makam mbah Ridlwan Abdulloh bukan untuk mengguncang pusara beliau karena kami kelaparan gegara berkhidmat pada NU, tapi rihlah kami adalah dalam rangka nyambung sanad perjuangan, sanad gerakan, dan sanad keilmuan sebagai santrinya Hadrotussyekh Hasyim Asy’ari yang berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama’.