Mbah Bisri Syansuri adalah salah satu Muassis Nahdlatul Ulama’ yang terkenal alim dan teguh dalam memegang prinsip dan pendapat dalam berfiqih. Beliau juga sangat tawadhu’ ketika tampuk kepemimpinan NU pernah dipegang beliau sebagai keputusan rapat, tapi beliau tidak berkenan berada pada posisi tersebut jika Sahabat dan Kakak ipar beliau masih ada (Mbah Wahab).

Perjalanan pengembaraan tholabul ilmi beliau lalui dari Nusantara sampai ke tanah suci dengan sanad keilmuan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Tempaan bathin yang cukup dan tata lahir dan olah fikir yang mumpuni membuat mbah Bisri Muda menjadi bintang yang bersinar, dari hal inilah, menjadikan mbah Wahab akhirnya mengenalkan adiknya kepada sahabatnya dan akhirnya menikahlah sahabat mbah Wahab ini dengan adiknya.

Ada tulisan unik dan luar biasa ketika kita keluar dari pondok Denanyar (New Den) saat kita membaca kaligrafi yang merupakan kutipan wasiat mbah Bisri yang berbunyi: “Ana An Nahdliyu Ma Khayyaitu Wa In Muttu, Fawashiyyati Linnaasi Ay Yatanahhadlu”.
Selama Hidupku,Aku Pengikut Nahdlatul Ulama’, Jika Aku Meninggal Maka Wasiatku Kepada Masyarakat Supaya Mereka Tetap Menjadi Pengikut Nahdlatul Ulama’.

Dari kalimat di atas, jelas sudah bahwa santri dan keluarga Mbah Bisri berkewajiban untuk tetap ber NU dan berkhidmat kepada Nahdlatul Ulama’. Menggerakkan dan menata diri melalui NU. Bukan memanfaatkan NU demi kepentingan pribadi atau kepentingan sesaat.

Kebesaran NU bukan sekedar simbolisasi, tapi lebih kepada kemaslahatan yang didapatkan umat. Membaca apa yang tertulis dibalik pintu gerbang pondok Denanyar, saya menyimpulkan bahwa kewajiban seluruh santri dan keturunan Denanyar menjadi NU bukan berarti menjadikan mbah Bisri sebagai bumper atau tameng saat para santri dan keturunan beliau melakukan kepentingan atau menginginkan bertarung dalam kancah sosial politik dan kenegaraan.