Menyusun narasi rihlah ke Ampel bagi saya adalah hal yang butuh waktu lebih. Bukan karena sedikitnya waktu atau tema yang didiskripsikan, tapi semata karena kemampuan yang terbatas untuk menyusun narasi dari sesuatu yang amat besar. Kendati demikian, usaha merangkai kata menjadi kalimat tetap saya lakukan dengan sadar dan insaf banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan.

Beberapa teman memberi komentar saat membaca status di dinding FB saya. Mulai komentar “wah, lagi di luar kota mas ya”, sampai komentar “kok jam pagi, fotonya suasana malam ya”. Saya jawab, itu acara kemarin, bukan siaran langsung bro. Ya memang saat di lokasi, saya gak menulis atau update status di dinding FB, bukan karena takut disamakan dengan Yahudi yang selalu menulis ratapan di tembok ratapan. Tapi karena saya menikmati suasana dan khidmat pada acara.

Saat selesai wasilah dan sambung sanad di makam Kanjeng Sunan Ampel, ada kalimat dari beberapa sahabat yang nyletuk” iki wis tekan koordinator”. Hal tersebut kita maknai bahwa Kanjeng Sunan Ampel adalah salah satu sesepuh dari Wali Songo penyebar Islam di Nusantara. Selain itu, dari beberapa sumber diceritakan bahwa dahulu, Kanjeng Sunan Ampel pernah bermimpi bertemu Rosululloh dan diamanati untuk membawa Islam Ahlussunnah ke Indonesia karena di negara asalnya, Islam Ahlussunnah wal Jama’ah tidak mampu berkembang dan bertahan, karena saat itu Syarif Husein dihabisi oleh geng Muhammad bin Abdul Wahab sang pendiri Wahabi yang dibantu oleh Muhammad Su’udy dan Muhammad Majmu’i (yang bernama asli Mr. Hampher agen CIA). Amanah lewat mimpi tersebut konon diteruskan kepada putra-putra beliau dan terus disampaikan sampai Syaikhona Kholil Bangkalan dilanjutkan kepada Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari.

Saya pernah ditanya, lho mas, mimpi kok dipercaya sampai amanatnya diteruskan begitu? Saya jawab: Kalau yang mimpi ketemu kanjeng Nabi adalah Kanjeng Sunan Ampel, dan rentetan penerima amanat adalah keturunan dan santri-santri beliau, saya percaya tanpa keraguan sedikit pun. Lantas penanya memburu dengan pertanyaan berikutnya ” lha kemarin di medsos ustadz Firanda Addirja kabarnya juga bermimpi mendapat amanah meneruskan dakwahnya, sampean bagaimana pendapatnya mas?”, saya jawab: jangankan ustadz Firanda Addirja yang ngimpi ketemu Kanjeng Nabi, wong Abu Lahab dan Abu Jahal yang ketemu langsung dengan kanjeng Nabi Muhammad, pendapat dan kesaksian keduanya saya gak bakal percaya kok.

Kembali ke pembahasan rihlah ke Ampel, dari silsilah Kanjeng Sunan Ampel Sunan Ampel memiliki darah Uzbekistan dan Champa dari sebelah ibu. Tetapi dari ayah leluhur mereka adalah keturunan langsung dari Ahmad al-Muhajir, Hadhramaut. Maknanya, mereka termasuk keluarga besar Saadah BaAlawi. Berikut silsilah yang saya dapat dari berbagai sumber dan rujukan:
Kanjeng Sunan Ampel / Raden Rahmat / Sayyid Ahmad Rahmatillah bin
Maulana Malik Ibrahim / Ibrahim Asmoroqondhi bin
Syaikh Jumadil Qubro / Jamaluddin Akbar al-Husaini bin
Ahmad Jalaludin Khan bin
Abdullah Khan bin
Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad,India) bin
Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
Ali Kholi’ Qosam bin
Alawi Ats-Tsani bin
Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
Alawi Awwal bin
Ubaidullah bin
Ahmad al-Muhajir bin
Isa Ar-Rumi bin
Muhammad An-Naqib bin
Ali Uraidhi bin
Ja’far ash-Shadiq bin
Muhammad al-Baqir bin
Ali Zainal Abidin bin
Husain bin
Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra binti Muhammad.

Isteri Pertama, Kanjeng Sunan Ampel yaitu: Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi, berputera:
Maulana Makdum Ibrahim/Raden Makdum Ibrahim/ Sunan Bonang/Bong Ang
Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Drajat
Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
Siti Muthmainnah
Siti Hafsah.

Sedangkan istri kedua Kanjeng Sunan Ampel adalah Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Dengan anugrah keturun:
Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri
Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri Raden Fatah
Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
Pangeran Tumapel
Raden Faqih (Sunan Ampel 2)

Titik tekan membahas riwayat Kanjeng Sunan Ampel dan silsilahnya adalah meneladani bagaimana manajemen pendidikan yang diterapkan beliau kepada putera-puterinya. Ternyata seluruh keturunan Kanjeng Sunan Ampel adalah penghafal Al-qur’an dan al Hadist(kitab Bukhori dan Kitab Hadist Imam Muslim).

Bahkan waktu Raden Qosim diperintah Ayahnya untuk mencari Saudaranya yang bernama Makdum Ibrahim yang saat itu berada di daerah Jawa Barat untuk berguru, dan keduanya belum sempat bertatap muka. Raden Qosim hanya berbekal nama, lokasi, dan ciri-ciri khusus saja. Setelah pencarian sekian lama, bertemulah keduanya dan terjadilah dialog, “Kang, Aq Qosim putra Pak Rahmat Ampel, sampai disitu Raden Makdum Ibrahim memotong kalimat Raden Qosim, kalau kamu putera pak Rahmad Ampel, silahkan khatamkan al Qur’an sekarang dengan hafalan! Karena ayah berpesan, nanti adikmu akan mencarimu dan ciri khas kelurga kita adalah hafal al Qur’an dan kitab-kitab al Hadist.

Kaget mendengar jawaban tersebut, Raden Qosim pun memulai menghafal al Qur’an saat itu juga, dan selesai dalam waktu 4 tahun. Setelah hafal, barulah Raden Qosim diakui sebagai adik oleh Raden Makdum Ibrahim dan diperkenankan menyampaikan pesan dari Kanjeng Sunan Ampel. Cerita ini juga pernah disampaikan oleh Gus Muwafiq dalam ceramahnya saat wisuda sarjana kampus STIT Makdum Ibrahim Tuban.

Saya menyebut manajemen yang diterapkan Kanjeng Sunan Ampel kepada putera-puteranya adalah “Manajemen Yakhsallah (يخشى الله)”. Manajemen yang mengedepankan bagaimana pondasi takut kepada Allah ditanamkan sedemikian dalam. Sehingga dengan kedalaman takut kepada Allah ini lah mampu melahirkan pribadi-pribadi yang bertaqwa dan kecerdasan pun terpancar dari pemikiran, tidakan, dan ibadahnya.

Sebagaimana انما يخشي الله من عباده العلماء ( Sesungguhnya yang paling memiliki rasa takut kepada Allah adalah para Ulama’). Pondasi keimanan di dahulukan untuk memancarkan dimensi yang lainnya, sehingga potensi diri ataunyang belakangan disebut faktor X sebagi fitrah manusia yang tercipta dengan keutamaan dan keunggulan bisa di
optimalkan. Semoga kita bisa mengambil ibarat dari keteladanan Kanjeng Sunan Ampel.