Akhir tahun 2017 terkesan beda, karena moment pergantian tahun yang biasanya berkumpul keluarga untuk sekedar jalan-jalan, harus digunakan untuk menjalankan tugas ke Malang. Berbekal kesiapan menjalankan tugas, maka pilihan bulat berangkat ke Malang pun dilaksanakan. Walaupun resiko jauh dengan keluarga saat moment pergantian tahun, tapi itulah resiko sebagai konsekwensi yang harus dipilih.

Sesampai di lokasi pelaksanaan acara, decak kagum dan tasbih terucap lirih saat pandangan mata tertuju pada bangunan pondok pesantren Al Munawwariyah Bululawang Malang yang terhampar di atas tanah 4 hektar dengan jumlah santri 2.500 beserta fasilitas pendidikan dan fasilitas pondok yang serba super. Mulai lahan praktik SMK Al Munawwariyah, laboratorium SMA dan SMP Al Munawariyah, sarana prasarana lain yang disediakan untuk memberikan motivasi dan menunjang pengetahuan siswa.

Yang unik adalah SD yang ada di al Munawwariyyah adalah SDN dengan manajemen mengikuti pondok pesantrenbdan siswanya adalah santri pondok tanpa ada siswa dari luar pondok. Selain itu keunikan lain adalah setiap tahun ajaran baru, pendaftaran santri di pondok Al Munawwariyah hanyabdibuka dalam satu hari, itu pun dalam waktu 3 jam dengan kuota maksimal terpenuhi.

Santri baru hanya boleh dijenguk setelah 40 hari menetap di pondok tanpa ada perlakuan beda, siapa pun dan usia berapa pun santri tersebut masuk sebagai santri pemula. Dan jam “sambang” (menjenguk) santri di PP Al Munawwariyah disemua tingkatan dilaksanakan pada hari yang sama, dan waktu sambang tidak lebih dari 2 jam, sehingga bisa dibayangkan betapa ramainya suasana jam “sambang” santri tersebut.

Peluang berkumpulnya santri dan wali santri tersebut oleh warga sekitar dimanfaatkan untuk berjualan dadakan tapi rutin disetiap bulannya. Tentu hal tersebut menjadi moment yang selalu ditunggu oleh warga, santri, dan wali santri al Munawwariyyah.

Ditambah lagi kewajiban infaq sebesar Rp. 2.000, dari santri untuk NU disetiap bulannya, dengan ketentuan, uang 2.000, tersebut adalah uang santri yang berasal dari menyisihkan uang jajan mereka, sebagai penanaman kemauan berkorban, tidak bakhil, dan ideologisasi NU kepada para santri Al Munawwariyah. Selanjutnya uang tersebut diberikan kepada PCNU Malang untuk tasyaruf kegiatan.

Lebih nyentrik lagi semboyan al Marhum K.H Maftuh Said yang pada bulan Agustus 2017 meninggal dunia, beliau merupakan Rois Syuriah PCNU Malang, dengan kalimat sederhana disampaikan oleh gus Fahmi Maftuh pada saat bercengkrama santai”lebih baik mati berjuang di NU sebagai santrinya mbah Hasyim, dari pada mati sebagai kyai kampung”. Maknanya, berkhidmat kepada NU tidak ada batasnya, sampai pada akhir hayat, tanpa mengenal surat tugas maupun posisi dalam jabatan struktural.

Satu lagi yang nambah santri al Munawariyah punya ciri khas Malang, selain mereka ngaji, sekolah dan mendalami ilmu dengan semboyan ” mendalami ilmu pengetahuan dengan keimanan”, mereka semua juga hafal “Mars Aremania dan yel-yel Arema saat tandang keluar dan main di kandang sendiri”. Sebagai wujud mereka memang peka kondisi lokal.
#BravoAlMunawwariyahBululawangMalang