Reuni secara arti bahasa dapat diartikan berkumpul kembali, ada juga yang mengartikan temu kangen atau bernostalgia mengingat kebersamaan yang dahulu pernah terjalin dan lama terpisahkan oleh kesibukan dan kebutuhan yang berbeda. Inti semangat reuni adalah berkumpul melepas kangen.

Tidak ada batasan berapa lama syarat kebersamaan yangbharus ditempuh sehingga bisa menggelar reuni. Bisa jadi kebersamaan sebulan, setahun, bahkan sehari pun bisa menyelenggarakan reuni. Menurut logika keumuman orang waras, dan hasil survey, rata-rata mereka yang melaksanakan reuni minimal pernah bersama 1 tahun di sekolah atau pondok yang sama.

Berbeda lagi dengan era milenial, ketemu sehari pun ngajak reuni rutin tiap tahun. Bukannya tidak diperbolehkan, tetapi keanehan inilah yang sengaja dijual kepada khayalak media untuk diberitakan. Jadi, kejanggalan dan ketidak tahuan khalayak dimanfaatkan sebagai komoditas yang layak dijual.

Padahal jika sekolah, ketemu sehari lantas balik kesekolah bukan untuk reuni, tapi untuk registrasi. Tapi itulah bedanya era jadul dan era milenial yang segala sesuatu bisa dijadikan the art of visualitation. Pripsipnya adalah siapa yang mampu melakukan karbitisasi fenomena, maka bisa jadi orang tak dikenal pun lantas muncul menjadi tokoh nasional by desain.

Secara akrobatik, apa yang dilakukan dalam the art of visualitation ini saya sebut sebagai politik etalase. Pada politik etalase masyarakat dihadapkan dengan situasi dagangan yang ditaruh dalam etalase sebagai komoditi politik yang dikehendaki para penjualnya.

Politik etalase memanfaat simbolisasi yang seakan viral memadati beranda media sosial. Semakin masyarakat terbodohi oleh framing yang dimunculkan media, maka semakin untung pula media menggiring kebodohan masyarakat dalam drama media sosial.

Maka nalar sehat bermedsos, diuji sebagai pembuktian eksistensi keberadaan manusia yang punya kelebihan akal budi. Artinya dengan kelebihan akal budi tersebut, seharusnya manusia mampu menjaga eksistensinya di dunia nyata dan bersikap mengksplorasi framing media dengan bersikap bijak tidak sekedar mengekor.

Kegiatan memadati dunia maya dengan framing menggiring opini masyarakat, diharapkan mampu meraup keuntungan fanatisme yang akhirnya dikonversi menjadi keuntungan finansial bagi pemilik media. Lantas apa keuntungan masyarakat? Masyarakat hanya untung mendapat kesibukan dan heroisitas fantasi yang semu.

Faktanya, berapa kali mereka digerakkan untuk reuni? lantas hasilnya apa? apakah kecerdasan? kepuasan pribadi? atau kepuasan finansial? Jawabannya ada pada mereka yang ikut reuni. Tapi sekilas menilai keumuman perilaku mereka, hasil yang didapatkan adalah perilaku menghujat pemerintah, apa pun masalahnya, yang salah adalah rezim. Misalkan mereka naik motor di kampung, lantas ban motornya bocor, yang disalahkan juga pemerintah yang dituduh korupsi anggaran jalan, padahal ban bocor karena ban luar juga sudah halus kayak pipi perawan.

Maka era milenial ini perlu sedikit mengernyitkan dahi untuk menemukan kewarasan perilaku yang meliputi: pertama, kenali hobi positif yang bisa mendatangkan keuntungan pemasukan rupiah, kedua carilah ilmu, dimana pun dan kapan pun. Gunakan smart phone anda untuk menambah wawasan dan khazanah pengetahuan. Ketiga, bangun komunitas nyata yang solid untuk mempermudah terwujudnya kesuksesan bersama. Keempat, posisikan smart phone untuk membantu kesuksesan anda, dan tinggalkan smart phone saat anda berkomunikasi dengan sesama teman, keluarga, dan masyarakat.

Dengan melakukan empat hal di atas, minimal kewarasan menghadapi derasnya bonus negatif era milenial akan dapat terwujud. Jika warga dunia sudah berfikir pada kecerdasan multi dimensi, bahkan mereka sudah sampai pada berfikir tinggal di planet baru, masihkah kita berdebat masalah cebong dan kampret?.