Membahas Syiria merupakan hal dengan sensasi beda, bukan karena apa, tapi dinamika penghancuran dan penguasaan Syiria yang dilakukan benar-benar Sekutu luar biasa. Isu agama dan aqidah, isu kemanusiaan, sampai isu nasab keturunan juga menjadi bumbu penyedap yang lumayan mempengaruhi banyak mata dari belahan dunia.

Peringatan syeikh albuty untuk rakyat dan pemimpin negara-negara berpenduduk muslim.

Salah satu analisis Syeikh Said Ramadhan albuty jauh-jauh hari bahkan tahun sebelum perang-perang di dunia Arab meletus, cara “mereka” membuat perang di dunia Arab:

Adu domba antara pemerintah dengan rakyat(muslimin), dengan cara membuat rakyat selalu curiga pada pemerintah lalu membuat mereka berfikir kalau pemerintah itu sudah terlalu dalam dan tidak mungkin diperbaiki dengan cara-cara yang baik lagi, jika kita cermati, hari ini pola ini juga ditarik oleh para pihak untuk mensyuriahkan Indonesia. Dalam pisisi lain mereka juga selalu mengiring opini pemerintah dan pendukungnya agar berfikir kalau umat islam itu ancaman bagi kekuasaan, dan harus digerus balik secara pemikiran maupun gerakan, dengan menyempitkan pergerakan mereka, dan jangan pernah mau berdilalog apalagi duduk sama kita, dengan mereka karena mereka beda sama kita, tapi tekanlah mereka. 

Ini akan berefek pada opini yang terbentuk pada sisi rakyat “pemerintah benci Islam” dan pada pemerintah “muslim itu tidak nasionalis dan ancaman negara”. Padahal kedua pihak itu cinta Islam dan nasionalis!!! Efek jangka pendek tidak akan terasa, tapi setelah beberapa puluh tahun, hubungan kedua pihak akan membatu bahkan mengkristal, hanya butuh satu atau dua tahun memasukkan provokator baik dalam atau luar negeri, perang pun akan meledak. Padahal kedua pihak sama-sama tidak mau perang, tapi efek emosi yang dipendam ditambah provokator yang memancing emosi itu keluar, perang tidak bisa dihindari, setelah beberapa tahun mereka sama-sama menyesal, tapi perang tetap gak bisa dihentikan, karena yang berperang tidak hanya mereka tapi banyak juga asing bermain dengan teroris boneka buatan, tiap mereka mau berdamai selalu ada provokasi, yang melanggar perdamaian yang entah dari pihak mana yang melakukan tidak ada yang tahu, mereka akhirnya saling tuding, perdamaian  yang direncanakan batal, orang mati bertambah karena sebab tidak jelas “yang dibunuh tidak tahu kenapa dibunuh, yang membunuh juga tidak tau untuk apa membunuh”, begitu terus rantai masalah berulang dan seakan menjadi sistem sampai batad waktu yang belum diketahui.

Dan beliau Syekh Ramadhan Al Buty selalu mengingatkan kedua belah pihak baik melalui ceramah pada rakyat atau ketika bertemu langsung dengan pemimpin berbagai kelompok yang bertikai, tapi karena yang nampak dipermukaan adalah efek jangka panjang yang tidak terasa langsung dan saling mempertahankan ego, apalagi ditambah munculnya opini merasa terancam dari pihak-pihak yang bertikai atas nama ketidak jelasan, sudah dipercaya sebagai opini yang terbentuk dan menyatu menjadi syndrome di otak dan fikiran para pihak, nasehat ini sulit diterima. Nah di Indonesia gejala seperti ini sudah ada, jika terus berlanjut, bisa saja kejadian di Syiria akan dibawa ke Indonesia. 

Berawal saling tuding antara radikal vs dhalim atau anti-nasionalis vs anti-Islam atau bela Islam vs tidak bela Islam mulai dilakukan. Padahal sebenarnya kedua belah pihak cinta Islam dan nasionalis hanya berbeda cara pandang, dan kedua pihak jarang yang mau duduk bareng, karena saling suudzon dan merasa benar sendiri juga karena adanya kepentingan kelompok yang akhirnya muncul Ta’asub/kesukuan. Dan ketahuilah, bahwa sikap demikianlah yang menyebabkan perang Syiria terjadi dan berkepanjangan tanpa kejelasan. 

Mempertahankan kubu-kubuan yang merasa paling suci adalah hal berbahaya, karena kelompok yang merasa paling suci inilah yang justru memantik konflik diberbagai sudut kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Para pengimpor konflik timteng ke Indonesia bukan hanya satu pihak, tapi banyak pihak, intinya mereka pingin Indonesia kacau, perang saudara, lalu turunlah pasukan perdamaian dunia yang akhirnya masuk kejantung Negara Indonesia untuk kepentingan penguasaan Aset dan mengeruk kekayaan alam serta hasil perut bumi Indonesia, lihat dan ingatlah kejadian Timor-Timur.

Lihat pula bagaimana opini media dan berita online dengan leluasa beredar berita hoaxs atau berita palsu setiap hari tanpa terputus, lha celakanya pembaca kita kurang teliti dan langsung menelan mentah-mentah apa yang dibaca di Medsos, grup WA dan media lainnya atas dalih kebenaran. 

Coba kita ambil contoh sederhana, adakah berita dimedsos yang menjelekan pemerintah? Misalnya nyletuk “lha…. betulkan pemerintah sekarang memang rezim dhalim” dan satu pihak lagi akan berfikir “benar kan apa yang aku katakan? Kaum sorban ini memang harus dibasmi, mereka benar-benar mengancam negara”. Itu karena keduanya sama sekali tidak mau melihat sisi positif pihak yang berbeda, kebencian sudah mendalam, walaupun keduanya berkata kami adalah yang mewakili cinta. Dan akhirnya perang pun berkecamuk tanpa jelas siapa musuh dan siapa teman, karena tak mampu membedakan mana kepentingan bangsa, negara dan kepentingan kelompok. Serya adanya propaganda yangbingin menguasai Sumber Daya Alam Indonesia. 

Oleh karenanya, mari merajut kebhinekaan Indonesia atas nama negara Bangsa yang terdiri dari berbagai suku, dan bahasa. Dengan tetap “Bertumpah darah satu, berbahasa satu, dan berbangsa satu, Indonesia.

Allahumma Sholli a’la Sayyidina Muhammad wa ala alihi washobihi wasalim