Merekontruksi sejarah dalam sebuah kerangka histografi NU memerlukan metode tertentu baik dalam mengumpulkan data dari sumber terpisah berupa cerita dan kejadian atau pun dalam pengambilan makna dari berbagai peristiwa yang berhubung antara kejadian satu dengan lainnya. Karena terkadang kita sering terjebak saat menemukan sepenggal kejadian atau sepenggal perilaku para aktor pada sebuah tindakan.

Bahkan era sekarang, kita hanya mendapat sepotong cerita tentang NU dari sumber youtube, medsos atau pun koran dan buku. Tentunya perlu metode telisik untuk mendapatkan histografi NU secara lengkap. Yang dimaksud dengan metode telisik adalah melakukan penelisikan terhadap sumber yang ada dan telisik pada potongan perilaku aktor atau potongan yang bersumber pada medsos dan buku, bahkan melakukan penelisikan terhadap hal yang mengitari kejadian yang kita kaji untuk mendapatkan sebuah susunan pengetahuan yang komplit tentang NU. Jangan sampai kita mendapatkan cerita dan berita NU dari sumber yang bukan pelaku kejadian di NU atau bukan peneliti yang konsen pada kajian fenomenologi NU. Karena hanyalah bahasa samar dan tak jelas ujung pangkalnya yang kita dapat.

Jangan sampai pula kita bias atau menyimpang dalam melihat sebuah kejadian. Apalagi kalau bias ini terjadi karena kesengajaan hanya untuk memposisikan diri sebagai pemeran utama atau strategi untuk menyingkirkan lawan. Dengan motif seperti ini dipastikan akan terjadi carut marut dan kekecewaan di dalam menjalankan organisasi dan berkhidmat pada NU.

Harusnya pengurus NU yang berkhidmat pada NU menggunakan cara pandang dan Semangat berfikir NU. Semangat kemasyarakatan yang didasari pada empat dasar yaitu: Pertama, Tawasuth dan I’tidal (tengah-tengah dan adil) intinya adalah sikap tengah yang menjunjung tinggi keadilan dan lurus di dalam kehidupan masyarakat dengan menghindari sikap tatharruf (ekstrim). Pada sikap Tawassuth dan I’tidal ini kita harus memahami bahwa berkhidmat pada NU bukan karena bingung atau ketimbang nganggur, berkhidmat pada NU adalah prinsip yang menjadi kebanggaan untuk mewujudkan perubahan diri menuju lebih baik dan membawa dampak perubahan kepada masyarakat. Salah besar jika berkhidmat pada NU berniat ndandani umat tanpa dimulai dari ndandani pribadi kita. Karena bisa jadi benar pepatah”Gajah dipelupuk mata tak tampak, semut diseberang lautan tampak jelas”. Maka pengurus NU harusnya membuka hati dan pikiran, bahkan membuka ruang untuk menerima masukan dari siapa pun, sehingga tidak merasa benar karena sudah berada diposisi Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah. Bukankah huruf ‘ain pada logo NU ditulis terbuka? Yang berarti ‘Ulama’ yang dimaksud adalah yang membuka diri untuk menerima masukan dan kritikan dari siapa pun.

Kedua, Tasamuh (toleran), yang dimaksudkan toleran disini adalah toleransi terhadap perbedaan pandangan dibidang keagamaan khususnya masalah furu’iyah atau khilafiyah dan toleransi dalam masalah kemasyarakatan dan kebudayaan. Kita harus paham bahwa Islam yang dibawa para wali songo di tanah Jawa ini bukan tersebar karena perang atau pekikan Takbir, tapi Islam yang dibawa wali songo masuk dan menyebar di Jawa karena akulturasi nilai-nilai keIslaman dalam kehidupan masyarakat dan budaya masyarakat. Coba saja berhitung, berapa jumlah orang simpati pada Islam ketika diajak dengan pekikan Takbir dan muka bringas sambil menjustifikasi bid’ah, kafir, khurafat dan macem-macem ujaran kebencian? Memang Asyiddaau alal kuffar, ruhamaa’u bainahum (tegas pada orang kafir dan kasih sayang sesama muslim) ketegasan yang dilakukan Sayyidina Umar bin Khattab ini jelas kepada Kafir Harbi (kafir yang berhak diperangi) lha di Indonesia? Adakah kafir Harbi? Tidak ada Bro. Kecuali kejadian 1948 dan 1965 PKI wujud dan menyerang umat Islam secara terang-terangan.

Ketiga adalah Tawazun(seimbang) adalah sikap seimbang dalam berkhidmah kepada Allah SWT, khidmah kepada sesama manusia serta khidmat kepada lingkungan. Menyelaraskan kepentingan organisasi NU masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Jadi sikap Tawazun ini memiliki dasar dan visi yang faham terhadap keaslian sejarah masa lalu organisasi, faham konteks kekinian dalam menjalankan organisasi NU, dan memiliki gambaran menghadapi masa depan dalam mengembangkan organisasi. Bukan sekedar sukses story (cerita kesuksesan) dengan berucap” Jaman saya dahulu”, justru jika ada orang yang suka berucap” Jaman Saya dahulu” berarti orang tersebut kehilangan kontek, dengan merasa jumawah tanpa melihat dan menghargai orang lain yang sudah berbuat. Harus faham dan mampu membedakan antara keaslian sejarah(otentisitas historis) dengan ego sektoral.  Kalau otrntisitas histori lahirvdan ada tanpa kepentingan personal, tapi jika ego sectoral, ada karena rasa jumawah dari merasa “paling” diantara lainnya.

Keempat adalah Amar Ma’ruf Nahi Munkar maksudnya adalah selalu mendorong perbuatan baik, berguna, dan memiliki manfaat bagi kehidupan bersama serta menolak dan mencegah semua hal yang dapat menjerumuskan dan merendahkan nilai-nilai kehidupan. Kalimatbyang perlu ditegaskan adalah Amar Ma’ruf ini mendorong perbuatan baik, bermanfaat, dan berhasil guna, bukan sekedar mendorong ibarat orang ndorong mobil mogok yang ketika sudah dapat dibidupkan, mobil sudah berlari dan yang mendorong ditinggalkan. Tapi mendorong disini merupakan kebersamaan demi kebesaran dan kejayaan organisasi NU. Sedangkan Nahi Munkar disini bukanlah menggunakan kekerasan atau aksi sweeping saja, tapi dalam wujud dakwah (ajakan) tutur yang bagus, dengan petunjuk yang jelas, dan jika ada perdebatan pun, dilakukan dengan perdebatan yang bagus demi mencari hidayah menuju perubahan yang lebih baik. Seluruh tahapan tetap harus dilalui tanpa meninggalkan alur sistem tahapan. Bukankah standar patokan kita adalah kanjeng nabi Muhammad SAW? Lihat sejarah dakwah beliau! Apakah kilatan pedang dan pekikan Takbir menjadi senjata dalam menyelesaikan masalah? Sewaktu beliau dilempari batu di Thaif? yang saat itu Jibril menawarkan bantuan untuk menimpakan gunung karena kekasihnya yang mulia Sayyidul Anam Kanjeng nabi Muhammad SAW disakiti dan dilempari batu. Beliau Rosulullah justru mendo’akan ” Allahummahdi Qoumi Fainnahum La ya’lamuun” Ya Allah, berikanlah hidayah umatku, karena mereka masih belum mengetahui”. Ada kalimat qoumi (umatku) padahal yang melempari batu itu adalah kafir yang memusuhi beliau? Lha kalau sekarang ada orang yang Islam terus diteriaki Kafir gara-gara beda kelompok dan beda pilihan politik terus dipekikkan Takbir seakan boleh diserang, siapa yang jadi standar dan barometer dakwah kita saudara?

Dalam berbagai kondisi dan sikap, dewasa ini kadang warga NU tidak yakin dengan tokoh NU dan PBNU karena dinilai lamban dan pasif, padahal diamnya PBNU dalam hal ini, justru menunjukkan kematangan NU dalam bersikap dengan tetap berpegang pada empat prinsip keberagamaan di atas. Sehingga kondisi sebenarnya mampu diurai dengan tenang tanpa mengorbankan umat demi kepentingan sesaat. 

Jika kita beda pemikiran dan pilihan, bukan berarti NU yang harus disalahkan. Tapi masalah personal bukan untuk ditarik menjadi masalah organisasi, karena kita berkhidmat di NU untuk belajar menata diri menjadi lebih baik. Semoga kita tergolong orang yang berkhidmat pada NU yang ngopeni NU. Sehingga nantinya masuk pada kelompok yang di anggap santrinya Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari.