Momentum hirahnya rosulullah dari Makkah ke Madinah yang diikuti para sahabat Muhajiriin dan disambut oleh sahabat Anshor dijadikan tonggak sejarah penanggalan tahun yang kemudian disebut tahun hijriyah. Pemilihan waktu dan tujuan hijrah merupakan berdasar apa yang diterima oleh rosulullah melalui Jibril yang selanjutnya disampaikan kepada seluruh sahabat rosulullah.

Di dalalam sebuah hadist yang artinya “Sesungguhnya segala sesuatu perbuatan, itu tergantung niatnya, dan segala urusan tergantung apa yang ia niati. Barang siapa berhijrah karena pingin untung dalam perdagangan, ia akan mendapatkan keuntungan perdagangan, barang siapa hijrahnya karena mencari jodoh, maka ia akan memperolehnya, dan barang siap yang hijrah karena mengharap ridha Allah SWT, maka ia akan mendapatkan semuanya”.

Berhijrah secara bahasa dimaknai berpindah. Secara logika, berpindah pastilah dari hal buruk menuju kepada hal yang lebih baik, dari hal yang tifak aman mrnuju hal yang aman. Berhijrah juga dimaknai menata diri menjadi lebih baik dalam hal dunia dan akhirat. Oleh karenanya, sebelum melakukan hijrah, rosulullah menata niat bersama para sahabat untuk mendapatkan niat terbaik, karena Allah semata.

Dari sini kita review apa yang ada disekitar kita yang sering menyebut “berhijrah” adalah berubah dari biasa menjadi “jidatnya hitam” karena pingin kelihatan bekas sujud atau bahasa arabnya “atsaarissujuud”, padahal di dalam hadist, bekas sujud yang dimaksud adalah perilaku yang berubah dari perilaku jahat menjadi baik, dari perilaku hasud menjadi penyebar damai, dari perilaku pemarah menjadi ramah, dari perilaku angkuh menjadi teduh, karena tidak layak orang yang rajin sujud yang mengaku hamba di depan Allah lantas jumawah dan semena-mena kepada sesama hamba Allah, apalagi berlaku menjadi tukang memvonis selainya dia, adalah salah.

Ada pula yang menganggap Hijrah adalah perpindahan style berbusana, atau tiba-tiba celananya menjadi ngantung ala celana artis Korea Lee Min Ho, dengan alasan, celana ini adalah pakaian yang tidak sombong karena tidak berlebihan sampai menyentuh tanah. Saya kadang geli kalau mendengar jawaban model beginian, mengapa? Lha yang tidak boleh dan dilarang oleh rosulullah di dalam hadistnya “pakaian yang diniati pamer, sombong dan merasa paling baik dan paling lebih dalam segalanya”, silahkan lihat kebiasaan bangsawan Arab masa lampau, pakaian bangsawan Arab pastilah menyisakan kain sampai 2 meter dari jubah aslinya, sehingga jika berjalan, butuh pengawal untuk menata ekor pakaian tersebut. Maka dapat kita fahami, bahwa yang tidak diperbolehkan adalah pakaian yang tujuannya adalah pamer dan sok paling TOP, lha masalah celana ngantung terus nyalahkan lainnya? Semoga niatnya bukan ngerasa paling TOP dan pamer.

Coba kita review saat kanjeng Nabi Muhammad Hijrah meninggalkan Makkah sampai pada perbatasan keluar Makkah, beliau mengambil segenggam tanah dan membawanya dan seraya berucap “Wahai tanah kelahiranku, engkau kucintai dan kubanggakan, aku meninggalkanmu bukan karena membencimu, tapi aku akan kembali dan selalu mencintaimu” maknanya, kanjeng nabi sangat cinta pada tanah air kelahirannya, lantas salahkah jika para Ulama’ dan Kyai NU mengatakan “Hubbul Wathaan Minal Imaan” (Cinta tanah air sebagian dari Iman).

Sebelum masuk wilayah Madinah, rosulullah menanggalkan seluruh pakaian ala Makkah, dengan berganti jubah ala Madinah dan surban ala Madinah. Apa karena beliau mencari suaka politik? Tidak, beliau bukan orang lemah dari sisi diplomasi maupun dari sisi mental. Beliau berganti busana ala Madinah dalam kerangka menghormati tradisi Madinah atau dalam bahasa Melayu “dimana bumi diinjak, disitu pulalah langit disunggi” artinya, dimana kita berada, maka budaya dan tradisi setempatlah yang kita hormati.

Ketika rombongan Muhajirin masuk Madinah, semua warga Madinah menyambut dengan suka-cita, semua berebut ingin menghormati para Muhajirin, disinilah sebutan Muhajirin dan Anshor muncul dan pemilihanya sangat tepat. Andaikan bahasa yang digunakan adalah Muqimiin dan Ghoiru Muqim, atau sebutan pengungsi atau eksodus misalnya, maka jarak antara mereka semakin lebar dan tak akan ada persatuan. Pada saat semua massa berkumpul dalam suasana haru dan bahagia, maka rosulullah berpidato pertama kalinya dengan pemilihan bahasa yang sangat santun dan universal ” Yaa Ayyuhannas! Afsyussalaam, Wa ath ‘imutha ‘aam, Wa Shollu Fillail Wannaasun Niyaam”. Saudaraku semua, Tebarkan Salaam(Perdamaian), Saling berbagilah makanan, dan Sholatlah malam disaat semua orang sedang terlelap”.

Ada tiga dimensi yang disampaikan dalam pidato pertama Rosulullah, yaitu: Pertama, dimensi kebangsaan yang damai, menebarkarkan perdamaian diawali dengan saling sapa dan berucap salam. Karena di dalam salam terdapat doa keselamatan dan kebaikan antar sesama. Jika masyarakat daling sapa dan salam, maka mereka juga saling senyum dan akrab. Kalau keakraban sudah terwujud, maka perdamaian akan tercipta.

Kedua, dimensi sosial untuk saling berbagi dan memberi, tidak peduli Anshor dan Muhajirin, semuanya terkena perintah atau himbauan dari kalimat yang disampaikan rosulullah Muhammad SAW. Saling memberi perlu dibiadakan kapanpun, dimanapun, dan oleh siapa saja. Tanpa pembiasaan, sangat sulit mewujudkan dimensi sosial yang saling percaya, damai, dan adil.

Ketiga, dimensi rohani atau spiritualitas. Rosulullah memerintahkan dimensi perdamaian dan dimensi sosial untuk ditunjukkan kepada khalayak ramai, tapi untuk dimensi spiritualitas atau kerohanian untuk disembunyikan hanya diketahui oleh hamba dan tuhannya, tidak untuk dipamerkan dan ditonjol-tonjolkan.

Semoga di tahun baru hijriyah ini, kita bisa meneladani semangat hijrah Rosulullah dengan diawali niat tulus mengharap ridho Allah SWT.