Belajar dari pilkada Jakarta dari awal sampai hari ini, saya menyebut ini sebagai badai politik politisasi agama. Dari awal penjajakan calon sampai calon pemenang sudah diketahui, term agama selalu menjadi arus politisasi dalam membuat opini baik di grup WA maupun di media lainnya.

“Perkiraan dosis politisasi agama akan berhenti ketika Pilkada telah selesai saat pemenang sudah diketahui, ternyata mbleset dan salah besar. Bahkan keyakinan terhadap kekalahan Ahok merupakan tapal batas kepuasaan emosional yang diakhiri oleh suka cita pengkritiknya, hal ini juga salah. Di luar dugaan, masjid-masjid masih terus menjadi pusat produksi kebencian yang tiada henti dengan ceramah melalui mimbar maupun kegiatan kajian dan perkumpulan lainnya.

Terlalu sulit ditemukan suasana  sejuk yang membahas kesamaan. Menyerukan arti pentingnya perdamaian. Bahkan semakin susah mencari suasana persatuan dalam perbedaan. Intimidasi spiritual terus diaktifkan di mana saja dan kapan saja, bagaikan kayu bakar kering yang sudah disiram bensin dan siap membakar kapan pun dipantik dengan percikan api oleh si empunya kepentingan.

Para mantan pejabat negara yang telah menjadi muallaf, secara aktif ikut mendukung khilafah atau NKRI bersyari’ah. Inilah fenomena dari kebebasan yang kebablasan. Bagaimana bisa para mantan perwakilan negara dengan sadar justru mencoba mengingkari dan merobohkan negara tempat mereka mengabdi dan berbakti untuk mendapatkan gaji?

Demokrasi telah memakan korban. Seakan tidak berdaya menghadapi derasnya kepentingan atas nama kebebasan berpendapat dan menyampaikan pendapat. Conservative turn  bukan hanya berstatus hipotesis tetapi sudah menjadi kenyataan.

Kalau hal ini terus dibiarkan bukan hanya akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi juga akan merembet dan menjalar ke wilayah lain yang akan menggelar hajatan Pilkada, kendati pun motif dan isu yang dibawa akan berubah, intinya mereka si empunya kepentingan, akan menggunakan kesempatan yang sama dengan drama dan pemeran yang beda tapi masih satu marga. Jika fenomena ini dibiarkan, bisa jadi akan terulang sejarah getir abad ke tujuh yang penuh kekerasan lewat pembenaran agama.

Semakin sulit mencari forum netral yang waras dan tidak tercampuri isu politisasi agama dan polarisasi pilkada Jakarta. Mulai forum ngopi, sampai forum alumni sekolah dimana pun lokasinya, selalu dan selalu pembahasan Ahok, Penistaan dan hujatan politik, selalu keluar atas nama agama. Perlu kerja keras untuk membendung polarisasi dan penyeretan politisasi agama yang oleh si Dalang akan ditarik ke wikayah di luar Jakarta. Ibarat seluruh tubuh yang sudah terkena penyakit panu dan merata berwarna putih, tapi ada hidung yang masih belum terkena panu dan sehat normal berwarna sawo matang, itulah perumpamaan jumlah orang waras yang bisa membedakan politisasi agama dan pokitik kebangsaan. Begitu pun si empunya tubuh yang rata terkena panu kecuali si hidung akan ditanya dengan pertanyaan” lho hidung kamu kenapa kok warnanya beda?” itulah perumpamaan orang waras yang sedikit tadi, mereka akan dianggap sebagai kelompok yang salah karena tidak sama dengan keumuman.

Ya Allah selamatkan negeriku ini dari perpecahan yang sia-sia, Jadikanlah NKRI sebagai Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofur Ya Allah.“