Kang i’i adalah pemuda yang baru pulang dari luar. Entah luar negeri atau luar planet, yang penting belum sampai luar dunia, begitu guyonan teman-teman kang i’i saat menimpali omongan dalam suasana ngobrol santai di teras kang i’i dengan ditemani biskuit dan Teh Botol Sosro, serasa berada dijaman Belanda yang makanannya roti dan biskuit. Sosok Kang i’i yang modis, progresif, energik, dan seneng membela kaum duafa’ membuat nama kang i’i cukup dikenal dikomunitasnya. 

Pemikiran yang matang, kemampuan analisa yang canggih serta sikap yang egaliter, membuat kang i’i semakin moncer dan digandrungi masyarakat. Terkadang semua itu juga membuat kang i’i jadi mabuk kepayang karena pujian sehingga keseleo dalam tindak dan geraknya menjadi blunder dan berujung kekonyolan. Misalnya saat kang i’i dan teman-temannya mendampingi masyarakat yang kelaparan karena lahan sawah mereka tidak produktif dan tidak bisa ditanami tanaman apa pun semenjak dibangunnya pabrik pengolahan krupuk dan olahan ikan Tengiri. Pada kejadian ini kang i’i blunder karena negosiasi antar warga dan pemilik usaha tidak masuk Plan A atau Plan B yang sudah di rencanakan warga dan tim kang i’i. Tapi justru masuk jebakan pihak lain yang justru membenturkan warga pekerja pabrik dan warga pemilik lahan. Tapi begitulah dinamika pergerakan menuju perubahan adalah semangat yang diusung oleh kang i’i dan sahabat-sahabatnya.

Dilema juga dialami Kang i’i ketika dia harus milih moda transportasi untuk keseharian melakoni kesibukan dan aktifitasnya. Secara keinginan dan kebutuhan, kang i’i pingin kendaraan besar yang menampung bawaan dan belanjaannya, tapi jalan menuju rumahnya hanya cukup untuk sepeda motor. Ketika milih jenis motor pun kang i’i masih dihadapkan pada milih keinginan pribadi pakai matic atau mempedulikan kebutuhan keluarga yang tidak suka matic.

Bahkan Kang i’i juga pernah terombang ambing saat memilih rumah singgah karena rumah yang sejak awal didiaminya kurang nyaman untuk aktifitas dan mobilitas kang i’i yang super sibuk dan multi disipliner dalam mengembangkan usaha saat itu. Akses jalan yang sempit, ditambah jalan yang bergelombang dengan tepian jurang, membuat Kang i’i harus memutar otak dan berhijrah dari rumah singgah tanpa meninggalkan nilai historis perjuangan. Kang i’i pingin tampil beda diantara yang ada, sehingga walaupun tempat tinggal lamanya sudah tidak lagi di diami, tapi kang i’i tetap membangun frame emosional sebagai upaya eksistensi bahwa apa yang dilakukan kang i’i diluaran, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari tempat tinggal awal.

Cerita di atas adalah imajinasi saya terhadap apa yang dialami oleh sebuah organisasi pemuda yang baru saja berkongres di Palu Sulawesi. Iya, organisasi tersebut adalah PMII(Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang anggotanya adalah kalangan terdidik level Mahasiswa Nahdliyiin. Hiruk pikuk mereka membuat agen tiket lumayan kewalahan pada waktu konggres kemarin, bahkan statemen ketua PB PMII sempat menuai protes masyarakat adat setempat tapi terselesaikan dengan permintaan maaf dan pembayaran denda sesuai ketentuan yang berlaku.

Prinsip “Sing penting beda” dengan lainnya harusnya dikaji secara mendalam, agar langkah gerak PMII bisa menghasilkan lompatan-lompatan cerdas tanpa cacat cidera. Ketika PMII memiliki orientasi mementingkan hasil dan lupa pada proses mencapai hasil, maka akan terjadi dokumentasi historis positif dan melahirkan generasi yang kehilangan keaslian sejarah.

Ada sebuah cerita yang dialami dua orang santri kosmopolis, sebut saja si Dadap dan si Waru(jangan tanya santri kosmopolis namanya kok katrok). Keduanya orang Indonesia yang baru saja pulang umroh dari Tanah Haram. Secara mafhum, keduanya bermadzhab Syafi’i. Ketika menginjakkan kaki di Surabaya, keduanya bermaksud membeli air mineral di gerai sekitaran bandara. Si Dadap melihat si Waru tersenggol kulit perempuan tanpa sengaja yang juga menjadi pembeli di warung tersebut. Sekembalinya dari warung dan meminum air mineral, keduanya mendengar kumandang adzan Dhuhur, bergegaslah keduanya menuju Masjid disebelah bandara. Si Waru tanpa wudhu langsung menuju ke dalam masjid dan langsung dihentikan oleh si Dadap dan terjadilah dialog:” lho Kang Waru, bukane sampean tadi senggolan dengan wanita pembeli minuman di toko? Kok gak wudhu kang?”. Si Waru menjawab” lho Kang, sampean gak ngerti ta, kalau di Makkah itu senggolan dengan perempuan itu tidak membatalkan wudhu. Lha iki(saut si Dadap) di Makkah itu kang, banyak penganut Madzhab Hanafi, lha kalau sampean batal wudhunya ngikut Hanafi, Wudhu sampean dan lainnya juga pakai Hanafi, jangan loncat-loncat dalam bermadzhab kang. Sampean juga harus ingat, kita di Indonesia, mayoritas pengikut Madzhab Syafi’i kang. Jangan prinsip asal beda tapi ngawur ditengah komunitas mayoritas kang! Si Dadap memungkas kalimatnya.  

Dari kejadian Dadap dan Waru di atas, kita dapat simpulkan bahwa “Mengikuti mayoritas yang benar bukanlah aib, justru membuat beda dikelompok dengan jumlah minoritas, akan menunjukkan ketidak jelasan menangkap kekritisan”. Andaikan si Waru faham bahwa di Madzhab Hanafi wudhunya tidak hanya membasuh dengan air, tapi menggosokkan air kepada anggota wudhu. Jadi tidak asala ngikut, tapi benar-benar faham alur dan prosesnya. Dan inilah yang perlu ditegaskan kepada Sahabat-sahabat yang berkhidmad di organisasi apa pun nama organisasinya. Harus faham alur dan proses, tidak sekedar ikut tanpa sadar atau ngikut tanpa memahami dan justru menyalahkan ketika bertemu masalah.

Tulisan ini bukan untuk membully PMII yang hari ini masih gamang dalam memutuskan kemana melangkah mmelabuhkan arah, apakah menjadi Banom NU seperti keputusan Muktamar NU ke 33 di Jombang? atau tetap berniat menjadi “Sapi Unggu” (baca: membuat beda) dengan tidak masuk dan tidak keluar dari NU dengan kata lain(Interdependen) karena pada Konggres PMII Palu menurut keterangan PC PMII Tulungagung “Tidak ada pembahasan hubungan PMII dengan NU dalam Konggres di Palu tersebut”. 

Saya jadi teringat cerita saat Pak Din Syamsudin melakukan kunjungan ke PBNU pada masa beliau masih menjabat sebagai ketua Muhammadiyah, saat itu terjadi dialog ringan antara pak Din Syamsudin dengan Kyai Said Aqil Siraj. Awalnya pak Din Syamsudin nyletuk kepada Kyai Said” Pak Said, nanti kalau saya sudah tidak jadi pengurus Muhammadiyah, saya mau kembali ke NU Pak Said, tolonglah saya diberi bagian ketua di PBNU, yang langsung dijawab dengan antusias oleh Kyai Said” oh gampang pak Din, nanti Sampean kalau kembali ke NU, akan diberikan posisi dan tugas khusus, apa itu pak Said?(tanya pak Din Syamsudin). Nanti Sampean akan diberikan tugas khusus ngurusi banom”Muhammadiyah” yang langsung disambut tawa ger-geran dari hadirin diforum kecil di PBNU saat itu. Untuk kevalidan cerita  Pak Din Syamsudin ingin kembali ke NU ini, silahkan cek di media online maupun cetak, karena pernah dimuat media kaliber nasional seperti Kompas dan detik.

Analogi saya, jika sekaliber Pak Din Syamsudin yang di Muhammadiyah pingin kembali ke NU, lha kok ada yang sudah di NU justru masih bingung untuk bersikap. Jika, kebingunggan bersikap ini dasarnya juga untuk masa depan organisasi, lantas mengapa berada dikelompok mayoritas NU justru masih ragu Sahabat?. Wallahu a’lam bishowab.

Penulis adalah salah satu pimpinan di Media Lakpesdam Tulungagung dan Dosen Muda STAI Diponegoro Tulungagung.