Melihat sebuah gambar atau foto, seseorang bisa berbeda pendapat dengan orang lain walaupun obyek foto yang dilihat sama. Sehingga, jika ada 4 orang disuruh melihat satu obyek foto yang sama, akan ada 4 model pendapat tentang foto yang berbeda dari 4 orang tersebut. Sehingga subyektifitas sangat tinggi dan belum tentu sama dengan maksud pelaku yang ada dalam foto. Kendati pun demikian, ada makna yang bisa dibedah dari sebuah foto atau gambar dari sisi makna konotatif, denotatif dan mitos.

Saya ingin memberikan pendapat pribadi terkait fenomena unik yang sempat jadi trending topic para netizen, yakni fenomena presiden Jokowi yang tampil berpayung diberbagai situasi, misalnya saat aksi 212, Jokowi tampil dengan payung biru saat menyapa para pelaku aksi. Pada kesempatan lain, saat berjalan dengan ibu negara, tampak dalam dua kesempatan yang berbeda, presiden tampil dengan payung warna merah yang dikomentari para netizen sebagai kemesraan. Sampai pada saat berjalan dengan ulama’, tak ketinggalan, payung putih beliau pegang memayungi sang ulama’ dan satu lagi payung hitam saat memayungi raja Salman dalam kegiatan lawatan ke Indonesia.

Saya yakin, presiden tidak sedang menjadi endorsment pengusaha payung, tidak pula presiden yang tampil berpayung hitam misalnya, beliau sedang terkenang dengan lagu Iis Dahlia “payung hitam”, atau sedang ingin menghadirkan nuansa “payung kertas”. Tapi saya meyakini preseiden sedang menggambarkan sebuah maksud yang ingin disampaikan lewat tampilan berpayung tersebut ditinjau dari Semiotika.

Semiotika dalam kajian ilmu komunikasi adalah teori yang digunakan untuk menelaah tanda-tanda. Jadi dengan pisau analisa ilmu semiotika ini, sebuah gambar tidak hanya bisa ditelaah secara apa yang tersurat, melainkan apa yang tetsirat dan mitos dibalik gambar tersebut. 

Teori semiotika memiliki kelemahan, penafsiran makna tandanya sangat subjektif tergantung dari si penafsir. Untuk itu terbuka peluang untuk penafsiran lain.

Salah satu tokoh Semiotika terkemuka adalah Roland Barthes. Beberpa karyanya tentang semiotika ” Mytologhies (1973), Element of Semiology (1977), The Fashion System (1983), dan Camera Lucida (1994). Konsep Semiotika Barthes adalah pemaknaan tanda melalui denotatif, konotatif  dan mitos.

Menurut Barthes, dalam menelaah tanda, kita membedakannya dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tanda dapat dilihat latar belakang (1) penanda dan (2) petandanya. Pada tahap ini tanda dilihat secara denotatif. Pemaknaan denotasi menelaah tanda secara bahasa atau lahiriah. Dari pemahaman bahasa ini, masuk ke tahap kedua, yakni menelaah tanda secara konotatif. Pada pemaknaan konotasi konteks tanda ikut berperan dalam penelaahan tersebut. Konteks budaya, sosial, atau konteks lainnya. Makna denotatif dan konotatif ini jika digabung akan membawa kita pada sebuah mitos.

Bagaimana menelaah tanda payung biru dalam foto Jokowi dalam berbagai suasana tersebut? Secara bahasa payung adalah alat pelindung dari sinar matahari yang terik atau dari air hujan agar tidak mengenai tubuh. Jadi, presiden Jokowi menggunakan payung untuk meliindungi dirinya dari air hujan/terik matahari. Itu makna denotatifnya.

Sedangkan secara konotatif Jokowi sedang menandaskan bahwa dia melindungi dirinya dari tuduhan bertubi-tubi yang menyebutkan ia tidak dekat dengan rakyat karena di aksi 411 sebelumnya ia tidak bersedia menemui peserta aksi. Ia memayungi dirinya sendiri tanpa dibantu orang lain. Berarti kepercayaan dirinya sangat tinggi.

Secara mitos berarti Jokowi menandakan kepercayaan diri melindungi dirinya dari berbagai tuduhan. Beliau tampil berpayung untuk menandaskan komunikasi interpersonalnya cukup baik.

Dalam sejarah politik kuno, payung adalah simbol kekuasaan yang sangat penting. Di kerajaan China atau India para kaisar atau raja menggunakan payung dalam perjalanan jauh mereka. Saat itu payung terbuat dari besi yang sangat kuat, dan material kain yang mahal dan dihiasi oleh berbagai macam batuan mahal. Payung menjadi simbol kehormatan dan kemakmuran bagi para penguasa saat itu.

Payung Jokowi memang berbeda dengan payung para raja tempo dulu. Bahan payung sederhana, tanpa atribut batuan mahal atau kain mahal. Biasanya payung presiden Jokowi ditambahi simbol bendera merah putih. Tapi saat beberapa kejadian 212, Trans Papua, bersama ulama’ semua payung yang digunakan presiden Jokowi tanpa simbol bendera.

Pada pemilihan warna, saat menemui aksi 212 presiden menggunakan payung dengan warna yang paling disukai secara umum sehingga aman dipakai siapa saja. Biru dalam psikologi warna berarti kepercayaan diri, kejujuran, kehandalan dan tanggung jawab. Warna biru lebih terkait dengan komunikasi personal daripada komunikasi massa. Sehingga dapat disimpulkan warna biru dipilih untuk mewakili ungkapan” aku adalah bagian dari kalian semua”.

#Bravo Mr. President