Oleh: Inas N Zubir
Ketua Fraksi Hanura DPR-RI

Keputusan Jokowi dengan mengganti nama Laut Cina Selatan menjadi Laut Natuna Utara yang menimbulkan protes dari Beijing, telah membuka mata dunia bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki kedaulatan atas daratan dan lautan-nya dan tidak bisa diganggu gugat, selain itu juga telah membuat lawan politik Jokowi di dalam negeri menjadi malu atau kehilangan kemaluan-nya dimana selama ini selalu menghujat Jokowi dengan istilah antek asing, atau kacung cina.

Beijing tentunya tidak akan berhenti hanya sekedar protes, tapi juga akan berupaya menjatuhkan Jokowi dalam Pemilu 2019 melalui operasi intelejen yang akan melibatkan lawan politik Jokowi maupun oposisi melalui berbagai cara, diantaranya yang sudah berjalan adalah menyelundupkan tenaga kerja cina ke Indonesia lalu menginformasikan kepada lawan politik Jokowi, kemudian di blow up di media untuk dijadikan head line seolah-olah Jokowi telah menerima sebanyak-banyaknya tenaga kerja dari Cina, tapi Alhamdulillah pemerintah sigap dan menangkap mereka semua lalu medeportasikan ke negara asalnya.

Selain itu patut kita duga bahwa gerakan intelejen Cina tidak hanya berhenti dengan membuat isu-isu tenaga kerja cina tapi juga isu-isu lain-nya yang terkait dengan Cina, diantaranya adalah keras kepalanya Jokowi menolak keinginan Cina melalui perusahaan minyaknya yakni CNOOC untuk memperpanjang pengelolaan lapangan minyak di wilayah kerja Southeast Sumatra (SES), dimana pemerintah menyerahkan ladang minyak tersebut 100% kepada PT. Pertamina Hulu Energi (PHE) pada tanggal 6 September 2018 yang lalu.

Ngototnya Jokowi yang lebih mementingkan kedaulatan Indonesia, semakin membuat Beijing berang, dan negara Cina dipastikan akan memilih bekerja sama dengan oposisi yang dipimpin oleh Prabowo, yang sekarang ini tidak lagi memiliki logistik banyak untuk maju dalam Pilpres 2019.

Kedatangan Xiao Qian, duta besar negara Cina untuk Indonesia ke kediaman Prabowo Subianto pada tanggal 26 September 2018 yang lalu, bukan hanya sekedar pertemuan saja, melainkan juga menjajagi kerjasama Indonesia-Cina jika Prabowo terpilih, dan apabila detail kerjasama tersebut menarik bagi Beijing, maka bisa saja logistik Prabowo dalam Pilres 2019 dijamin aman.

Tanda-tanda adanya kesepakatan antara Prabowo dengan Beijing nampaknya semakin terang, yakni dengan kehadiran Prabowo dalam ritual perayaan hari nasional Republik Rakyat Cina pada tanggal 27 September 2019 di Hotel Sangrila Jakarta dengan menggunakan beskap hitam yang mirip dengan pakaian pejabat Komunis Cina di era Mao Zedong.

Prabowo telah mengejutkan pendukungnya, karena selama ini dianggap anti Cina, tapi dalam perayaan tersebut Prabowo nampak sangat patuh kepada Cina dengan mengatakan bahwa hubungan antara Indonesia dengan negara Cina sangat penting dan harus dipelihara bahkan ditingkatkan, jika perlu harus dibantu.

Yang justru menarik adalah Cina membutuhkan bantuan untuk menguasai laut Natuna Utara dan sumber daya alam Indonesia, maka bantuan ini akan didapat dari Prabowo Subianto apabila terpilih menjadi Presiden Indonesia.