Tulisan kedua dari bu Nyai Istatik/ bu Nyai Salam Simo, Kedungwaru Tulungagung (Alumni Pelatihan IT PC Muslimat Tulungagung)

Ketika kita berkunjung di pondok anak-anak, sering kita lihat fenomena anak yang menangis sambil merajuk “ibu jangan pulang, aku ingin ibu disini”, atau rayuan sang anak saat disambangi orang tuanya yang menyampaikan “Ibu aku ingin pulang, aku tidak krasan, aku kangen rumah” dan banyak juga yang ketika diantar ke pondok, si anak sudah siap secara niat dan mental untuk mondok dan belajar di pondok di bawah bimbingan para guru dan Kyai.
Fenomena di atas merupakan gambaran singkat bagaimana kemampuan orang tua mengenalkan dan memberikan pemahaman kepada anak terhadap dunia pesantren dan pendidikan pesantren. Sehingga dengan pemahaman yang bisa diterima, si anak menjadi siap secara mental untuk melewati hari-harinya melakoni peran sebagai santri yang lingkungannya berbeda dengan rumah atau keluarga yang sebelumnya dia ketahui.

Di pondok, si anak akan berinteraksi dengan kawan, lingkungan, dan keluarga baru, bahkan aturannya juga baru. Kadang suara lantang para pengurus yang membangunkan setiap kegiatan, misalnya “Ayo bangun, mandi, jama’ah, mengaji, persiapan sekolah dan lainnya.

Setiap orang tua memiliki pertimbangan dan alasan dalam memilihkan pendidikan terbaik untuk anaknya. Tapi muara semua alasan tersebut adalah keinginan bagaimana anaknya dapat sukses dan mewujudkan harapan orang tuanya yakni menjadi orang sukses baik dalam karir atau dalam kehidupan bermasyarakat sampai pada sukses dunia dan akhirat. Dan perlu diketahui, bahwa untuk mewujudkan kesuksesan anaknya tersebut, tidak sedikit orang tua yang rela mengeluarkan biaya berapa pun.
Termasuk pemikiran saya sebagai orang tua yang berpendapat bahwa pengenalan pendidikan pesantren harus di mulai sejak sedini mungkin. Karena bagi saya, pendidikan pesantren adalah pendidikan yang terbaik dalam membekali pengetahuan anak secara rohani dan jasmani. Alasan ini bukan timbul begitu saja, tapi berawal dari kesadaran bahwa anak merupakan makhuk tuhan yang terlahir suci (fitroh) dan kehidupan selanjutnya merupakan hasil pengejawantahan atau pembentukan yang dilakukan orang tua. Sebagamana keluarga beragama Islam, Kristen, Budha secara otomatis keimanan anak sesuai keimanan orang tuanya.

Sehingga pilihan pesantren sebagai tempat membentuk karakter anak menjadi pilihan saya dan keluarga.
Usia anak merupakan usia emas (Golden Age) untuk menanamkan pendidikan karater dan ilmu pengetahuan. Mendidik anak diibaratkan dengan melukis diatas batu. Walaupun sulit, tapi jika sudah tertanam, selamanya tidak akan hilang sampai kapan pun.
Pakar pendidikan anak Vygotsky (2008) menyatakan karakter anak dibentuk berdasar stimulus yang dilakukan orang dan lingkungan sekitar. Pendapat tersebut diperkuat oleh Bapak pendidikan Ki Hajar Dewantoro. Dimaksudkan 3 pendidikan tersebut adalah:
1. Keluarga (Pendidikan Intern)
2. Sekolah (Pendidikan Ekstern)
3. Lingkungan sekitar (pembiasaan dalam pergaulan)

Ketiga pendidikan tersebut harus berjalan seimbang tanpa bertentangan agar tidak rancu dalam menentukan arah terhadap anak. Menurut pendapat saya pendidikan sekolah dan pengaruh lingkungan sangat berpotensi besar dalam menentukan pendidikan dan karakter anak.

Ketika orang tua bercita-cita anaknya menjadi polisi, dokter, pegawai negeri, mereka mengejar intelektual yang maksimal (anak dimasukkan di sekolah favorit, ditambah kursus mata pelajaran, les dilembaga bonavit pula, waktunya sangat sibuk dengan kegiatan belajar dan tidak sempat belajar agama). Tanpa diimbangi pendidikan karakter. Pikiran saya terlintas dengan sebuah pertanyaan “Bagamana menjadi polisi, pegawai, pejabat yang berakhlakhul karimah?”

Pendidikan pondok pesantren bagi anak-anak merupakan usaha untuk menjawab keinginan orang tua menjadikan anak memiliki intelektual dengan sekolah umum dan membekali ilmu agama yang didapat dari pendidikan diniyah, mengaji dalam pembiasaan kegiatan ibadah dibawah bimbingan para guru dan Kyai. Sehingga di pesantren tersebut, anak tidak hanya menerima pengetahuan, tapi juga langsung mengetahui model nyata dan keteladanan akhlaq dari para guru dan Kyai selama 24 jam sehari.

Dalam sebuah seminar yang saya ikuti dengan nara sumber Prof. Warsono (pakar pendidikan UNESA) menjelaskan 2 hal penting bagi orang tua yang mengharap anak-anaknya menjadi generasi yang sholih adalah :
Pertama,Ubahlah peraturan menjadi pembiasaan dan Kedua, Ubahkan larangan menjadi ajakan/contoh (Modelling).

Di pondok pesantren, setiap hari anak-anak diajak bangun pagi untuk melaksanakan sholat jama’ah, mandi, makan bersama dan mempersiapkan peralatan sekolah sendiri yang merupakan pembiasaan. Sehingga aktifitas ini dilakukan setiap hari dan menjadi pembiasaan yang terpatri dalam diri anak kelak aktifitas itu akan dilakukan dirumah sampai dewasa. Selain pembiasaan tersebut, para guru dan Kyai juga memberikan contoh (modelling) sehingga lingkungan pondok terbangun menjadi lingkungan yang membiasakan dan memberikan contoh melakukan kegiatan, belajar, dan mengamalkan pengetahuan yang di dapatkan.

Jadi, bagi saya, pondok pesantren untuk anak-anak merupakan jawaban sebagai harapan cita-cita orang tua. Karena pendidikan yang diajarkan dalam rangka membiasakan, melaksanakan ajaran agama dan pendidikan umum untuk menjadi anak yang cerdas berintektual dengan diimbangai akhlakul karimah, bukan untuk mengekang kebebasan anak. Semoga anak-anak kita menjadi anak Sholeh sholehah berguna bagi agama nusa dan bangsa.