Membaca Status FB yang ditulis akun bernama Arif Prihantoro seakan membuat kegelian dan serasa konyol. Pernyataan si pemilik akun FB Arif Prihantoro adalah menghimbau pemilik ijazah ITB untuk segera dikembalikan karena logo ITB Tasyabuh(menyerupai) Ganesha yang merupakan simbol yang banyak digunakan umat Hindu, sehingga pemilik akun menyimpulkan bahwa alumni ITB ilmunya bersumber dari Hindu dan akan merusak aqidah.

Duh Gusti nyuwun ngapuro, gumamku. Apa yang ada dalam pikiran si Doi? Atau jangan-jangan di otaknya ada kelereng nyangkut? Melihat fenomena beragama yang kian disudutkan dan diplintir dengan logika somplak. Maka saya membayangkan, jika para ulama dan pemuka agama Islam mengikuti gaya akun Arif Prihantoro, maka munculah poros ulama’ moderen yang fungsinya mengkampanyekan kebenaran yang mereka yakini  dan seakan menjadi orang yang paling peduli terhadap masalah keumatan. Padahal sebenarnya mereka telah menyesatkan umat dari pola pikir dan sudut pandang somplak. 

Contoh lain pada kasus pelarangan memeriahkan tahun baru, mereka selalu menghadapkan term Kafir sebagai musuh Islam. Misalnya, bakar jagung dimalam tahun baru bukan tradisi Islam, maka merayakan tahun baru adalah budaya kafir. Perayaan-perayaan itu mereka anggap menjauhkan umat Islam dari iman Islam. Dalam bahasa yang lebih tegas lagi, merusak akidah.
Sebenarnya tidak hanya soal perayaan. Ada banyak hal yang dikampanyekan ulama moderen ini. Salah satunya konser musik. Kita ingat, beberapa tahun yang lalu konser pemusik Lady Gaga pernah gagal, karena suara ulama. Ini pun bukan khas Indonesia saja. Pernah juga di Malaysia saat ada konser musik Scorpion, suara para ulama’ juga mengecam antrian pembelian tiket yang di pertanyakan “apakah upaya pergi ke masjid juga seantri saat konser Scorpion?”.
Ini adalah keluhan sepanjang zaman. Ulama-ulama Moderen merasa bahwa umat mereka sedang diserbu oleh suatu kekuatan lain, diarahkan untuk ikut ke sana, sementara mereka tak berdaya mencegahnya. Temanya selalu soal gaya berpakaian, cara bergaul, dan cara menikmati kesenangan hidup. Keluhan ini sering kali terdengar tak berdaya, dan menjadi sia-sia.
Apa masalahnya? Dunia Islam memang bukan pemimpin peradaban saat ini. Apa boleh buat, peradaban yang bukan pemimpin normalnya memang menjadi pengekor. Kita membeli berbagai produk yang diciptakan dan diproduksi di dunia lain, bukan dari dunia Islam. Produk-produk itu selalu datang disertai dengan gaya hidup. Kita mengambilnya dalam satu paket, produk+gaya hidup. Nah, omelan para ulama’ moderen tadi adalah usaha untuk memisahkan antara produk dan gaya hidup. Suatu usaha yang memang mustahil berhasil.
Menyedihkan memang. Akhirnya para ulama’ moderen sekedar menjadi tukang omel. Mereka sebenarnya bisa berperan lebih, menyampaikan pesan yang lebih fundamental. Apa itu? Yaitu yang pertama soal bagaimana menjadi pemenang, sehingga bisa menjadi pemimpin peradaban. Bagaimana caranya? Dengan kerja keras, disiplin, jujur, tertib, dan sebagainya. Sayangnya pesan-pesan fundamental ini justru jarang dihasilkan oleh ulama’.
Masalah kedua adalah soal komunikasi. Para ulama kita sering bersikap seperti polisi moral. Di rumah-rumah para orang tua juga begitu. Mereka punya satu daftar panjang, berisi “jangan”. Jangan ini, jangan itu, ini haram, itu tak baik, itu merusak, dan seterusnya. Itu adalah cara komunikasi yang muskil menurut saya. Karena itu, ucapan mereka sering sekedar menjadi angin lalu.
Ada banyak ulama yang tidak mampu mengemas pesan secara baik. Menyampaikan dakwah yang simpatik, dekat dengan umat. Mereka tidak turun membaur bersama umat, tapi lebih suka berdiri di menara tinggi, berteriak-teriak memberi instruksi. Kemudian mereka lelah, menyadari bahwa instruksi mereka tak dituruti. Demikian pula, banyak orang tua yang begitu. Akhirnya mereka hanya jadi tukang keluh. “Anak-anak tak patuh,” kata mereka.
Di puncak persoalan, masalahnya adalah para ulama moderen itu juga bagian dari pelaku suatu gaya hidup. Mereka sebenarnya bagian dari gaya hidup yang mereka kritik. Gaya hidup mereka sendiri tak jauh-jauh dari itu, hanya berbeda bagian saja. Di acara pengajian yang saya hadiri, saya menyaksikan seorang petinggi MUI datang naik mobil mewah. Kedatangan seorang ustaz seleb naik mobil mewah dalam sebuah acara TV di tengah keriuhan soal penistaan Islam di ujung tahun lalu juga sempat menjadi viral di dunia maya. Lho, apa hubungannya? Itu adalah suatu cara hidup hedonis. Bukankah hedonisme adalah sisi lain dari yang mereka kritik membahayakan akidah?
Artinya, para ulama’ moderen itu dipandang hanya sibuk mengomeli gaya hidup orang lain, tapi abai terhadap gaya hidup mereka sendiri. Tapi, apa salahnya punya mobil mewah? Tak salah. Pasti tak salah, karena ulama moderen selalu punya dalil untuk membenarkannya. Sementara di lain pihak, umat tak punya wewenang untuk berdalil. Begitulah ribetnya berhadapan dengan ulama’ moderen dengan gaya bagaikan polisi moral selalu benar dan bicara penyelamatan aqidah umat.